Soekarno, Marhaen dan PNI

Kemerosotan peran yang dimiliki oleh Sarekat Islam disertai dengan kegagalan pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia telah menimbulkan sejumlah akibat bagi gerakan nasionalis Indonesia. Tetapi yang penting adalah timbulnya suatu kekosongan dalam gerakan nasionalis, di mana gerakan nasionalis ini memerlukan pengarahan dan pimpinan baik dari sisa-sisa organisasi politik yang ada maupun pembentukan partai-partai baru.

Melihat kekosongan itu, Moh Hatta, Iskaq, Budyharto dan Sujadi berusaha merealisir pembentukan suatu partai baru yang sesuai dengan rencana-rencana Perhimpunan Indonesia sesegara mungkin. Akhirnya diumumkan kepada publik kalau mereka bermaksud mendirikan sebuah partai baru yang dinamakan Sarekat Rakyat Nasional Indonesia (SRNI) dan direncanakan pada bulan Juli 1927 diadakan kongres untuk meresmikan partai tersebut. Persiapan-persiapan yang telah dilakukan memperlihatkan kalau partai yang mau dibentuk itu tidak didasarkan pada Islam maupun Komunisme. Tetapi pada akhirnya inisiatif itu kurang cukup memadai untuk direalisir, sebab partai baru yang mau dibentuk itu dianggap kurang mampu menampung aspirasi para pendukungnya, yang menganggap mereka yang di negeri Belanda kurang paham terhadap situasi yang ada di tanah air.

Sebaliknya di tanah jajahan Hindia Belanda, pimpinan Kelompok Studi Umum yang merasa lebih paham tentang situasi di tanah air daripada pengurus Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda mulai mengambil inisiatif untuk membentuk partai baru, yang berlandaskan paham kebangsaan. Tidak memakan waktu cukup lama, akhirnya Soekarno, Tjipto Mangunkusumo dan beberapa anggota bekas Perhimpunan Indonesia seperti Iskaq, Sujadi, Sunario dan Budhyarto berhasil membentuk partai baru, yang dinamakan Perserikatan Nasional Indonesia, pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Sejak itulah secara perlahan-lahan tetapi pasti gerakan nasionalis di Indonesia yang dulunya dipegang oleh bekas gurunya Soekarno, HOS Tjokroaminoto dengan Sarekat Islam-nya beralih kepada anak asuhnya HOS Tjokroaminto, Soekarno dengan Perserikatan Nasional Indonesia berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia beberapa bulan setelah terbentuk.

Nama Soekarno semakin menjulang ke atas langit pada saat ia bersama dengan Maskun, Gatot Mangkupradja dan Supriadinata ditangkap dan ditahan atas tuduhan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kalau mereka dianggap telah menganggu ketertiban dan ketentraman umum selama beberapa tahun. Tentu saja, kejadian ini menyentak gerakan nasionalis. Bahkan pers nasionalis menyatakan rasa kaget dan kecewa terhadap tindakan-tindakan pemerintah. Walaupun demikian mereka menghimpun agar para pembaca diminta dengan sangat agar tetap tenang dan yakin bahwa partai itu bersih dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Dalam acara persidangan di pengadilan basar Bandung ketika Soekarno diberi kesempatan untuk mengadakan pembelaan, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, lewat penampilan yang lebih banyak ditujukan kepada reporter-reporter surat kabar yang hadir daripada kepada pengadilan itu sendiri, ia melancarkan kritik penuh gaya terhadap masyarakat Indonesia kaum nasionalis dalam pleidoi yang berjudul “Indonesia Menggugat“, yang dianggap sebagai dokumen yang amat bersejarah itu. Soekarno menyebut-nyebut golongan terbesar dalam masyarakat Indonesia.

“ Sebab susunan pergaulan hidup Indonesia sekarang adalah pergaulan merk Kromo, pergaulan hidup Marhaen, pergaulan hidup yang sebagian besar sedakli adalah terdiri dari kaum tani kecil, kaum buruh kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil, pendek kata: ….kaum kromo dan kaum marhaen yang apa-apanya semua kecil!”

Untuk lebih memahami istilah kata “Marhaen” itu, ada baiknya menengok kembali cerita yang dikisahkan oleh Soekarno dalam autobiografinya. Sebagai mahasiswa Technise Hogere School, Soekarno biasanya mendayung sepedanya ke kampus. Tetapi pada saat itu ia tidak melakukan kebiasaan itu. Ia pergi tanpa tujuan, hingga akhirnya membawa dirinya ke Bandung Selatan, suatu daerah pertanian yang padat penduduknya dan setiap petani memiliki tanah garapan kurang daripada sepertiga hektar. Di daerah persawahan itulah Soekarno berbincang-bincang dengan petani yang berada di situ.

Melalui pertanyaan yang diajukan kepada petani yang diajak bincang-bincang itu. Soekarno mendapat jawaban bahwa petani itu adalah pemilik tanah, cangkul dan bajak dengan bekerja keras petani itu berusaha untuk memenuhi rumah tangga. Hasilnya sekedar untuk keperluan keluarganya,  ada kelebihan untuk dijual. Ketika ditanya siapa namanya, petani tanpa majikan ia menjawab : Marhaen. Akhirnya Soekarno memutuskan untuk menggunakan istilah itu sebagai lambang kaum yang lemah, sengsara dan tertindas akibat daripada kekejaman imperialisme selama berabad-abad itu.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s