Politik Luar Negeri Era Soekarno

Era revolusi nasional, ada dua cara pelaksanaan politik luar negeri yang sangat berbeda dan bersaing, tetapi saling mendukung dalam menyelesaikan konflik, yaitu kekuatan bersenjata dan diplomasi yang dijalankan. Walaupun esensi kedua cara itu berbeda, tetapi kedua strategi itu dilakukan terus di alam kemerdekaan, ketika Indonesia bertikai dengan negara lain. Sehubungan dengan kebijakaan politik luar negeri, pada masa itu, ada baiknya mencoba memahami pidato Moh Hatta, di depan Komite Nasional Indonesia Pusat, pada tanggal 2 September 1948, Moh Hatta mengatakan :

“ Tetapi mestikah kita bangsa Indonesia, yang harus memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita, hanya harus memilih antara pro dan kontra Amerika ? Apakah tak ada pendirian yang lain harus kita ambil dalam mengejar cita-cita kita.”

“ Pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus kita ambil ialah supaya kita jangan menjadi obyek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus tetap menjadi subyek yang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak memperjuangkan tujuan kita sendiri, yaitu Indonesia Merdeka seluruhnya.”

Pandangan yang dikemukakan oleh Moh Hatta itu memperlihatkan ada keinginan Moh Hatta agar Republik Indonesia ini menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Hanya saja, dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia pemahaman terhadap politik luar negeri yang bebas dan aktif, senantiasa didefinisikan kembali sesuai dengan keinginan yang berkepentingan pada waktu itu. Walaupun terdapat perbedaan penafsiran terhadap arti politik luar negeri yang bebas dan aktif, tetapi selalu terdapat asumsi kalau dunia luar yang bersikap memusuhi, atau paling tidak membawa kemungkinan bahaya.

Awal tahun 1950-an, Indonesia memperlihatkan diri seperti apa yang menjadi pidato Moh Hatta, sebagai suatu negara yang tidak memihak kepada salah satu blok yang terlibat dalam perang dingin. Walaupun Indonesia bersikap netral, bukan berarti Indonesia bekerja secara aktif untuk perdamaian dunia dan peredaaan ketegangan internasional. Meskipun Indonesia sering dianggap ekslusif condong ke Barat, tetapi Indonesia menolak menyokong Amerika Serikat dalam Perang Korea. Tanggapan Indonesia itu bisa ditafsirkan sebagai adanya perasaan takut akan dominasi asing yang baru, yang diakibatkan adanya perasaan baru bebas dari kolonialisme yang bercampur-baur dengan dampak pertentangan perang dingin yang terjadi pada saat itu.

Kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif pada tahun 1952 menghadapi ujian, ketika diketahui bahwa Menlu Achmad Subardjo mengadakan perjanjian bantuan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat yang diwakili oleh Duta Besar Amerika, Merle Cohran. Akibatnya, Indonesia harus mentaati ketentuan-ketentuan yang termuat dalam Undang-Undang Keamanan Bersama (Mutual Security Act), yang berarti pula penyimpangan terhadap prinsip-prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Suatu protes keras terjadi dan mengakibatkan jatuhnya Kabinet Sukiman. Di sini dapat diartikan bahwa politik luar negeri yang bebas dan aktif adalah Indonesia harus menghindarkan diri dari perjanjian internasional yang memungkinkan Indonesia terikat kepada salah satu blok. Bahkan secara tegas, Moh Hatta dalam tulisannya di majalah politik, Foreign Affairs, pada tahun 1953, menolak pandangan yang mengatakan bahwa tidak adanya suatu posisi tengah dalam perang dingin. Selanjutnya Moh Hatta menegaskan bahwa situasi geopolitik Indonesia yang tidak mengandung “ keharusan untuk membuat pilihan di antara dua blok besar.”

Kebijakan Indonesia yang memilih jalan tengah dalam masalah luar negeri, dianggap oleh Justus M Van der Kroef, sebagai suatu kondisi yang diperlukan bagi pembangunan dalam negeri. Keterlibatan luar negeri dan mengingkat diri secara tetap terhadap negara-negara besar, dianggap mengganggu keseimbangan kehidupan politik dalam negeri yang tak menentu dan akan pula, menghambat pembangunan Indonesia sebagai suatu bangsa yang bebas.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s