Soekarno, Diplomasi dan Konfrontasi

Irian Barat merupakan bagian integral dari Indonesia yang tidak dapat dilepaskan dari Proklamasi Kemerdekaan 1945.  Tetapi hampir setahun persetujuan Konperensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, tidak ada tanda-tanda pemerintah Belanda mau mengembalikan wilayah bagian Timur Nusantara itu kepada RI. Melihat kenyataan itu Soekarno menjadi gusar. Dalam pidato “Dari Sabang Sampai Merauke.” 17 Agustus 1950, Presiden Soekarno  memperingatkan, akan terjadi konflik besar apabila perundingan dalam mengenai masalah Irian Barat, dalam tahun ini tidak terjadi kesepakatan .

Diawali dengan Kabinet M Natsir, Sukiman dan Wilopo berusaha menyelesaikan secara diplomatik. Tetapi senantiasa mengalami kegagalan. Soekarno terus menuntut agar diplomasi didukung oleh tindakan kekuatan bersenjata, di mana pada akhirnya kabinet Ali Sastroamidjojo pada tahun 1954 mulai mengadakan serangan-serangan militer secara terbatas pada daerah perbatasan.

Dalam periode itu kawasan Asia dan Afrika merupakan medan tempur antara dua kekuatan masyarakat, yaitu Blok Barat dan Timur yang masing-masing diwakili oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet, Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas dan aktif (turut aktif meredakan ketegangan) akibat pertentangan antara dua adi kuasa, sebagai salah satu sponsor terselenggaranya Konperensi Asia Afrika, April 1955 di Bandung yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika. Adanya Konperensi, selain menaikkan pamor Soekarno sebagai salah satu pemimpin Dunia Ketiga ia juga mencari dukungan bagi perjuangannya dalam masalah Irian Barat. Dan Komunike Bersama KAA mendukung tuntutan kembalinya Irian Barat ke wilayah RI.

Kabinet Burhanuddin Harahap (1956), membubarkan Uni Indonesia-Belanda dan perjanjian KMB secara sepihak. Hubungan selanjutnya antara Indonesia dan Belanda dinyatakan sebagai hubungan antara dua negara berdasarkan hukum internasional.

 

Aksi-aksi

Usaha–uasaha menyelesaikan masalah Irian Barat melalui forum PBB pada tanggal 29 November 1957 berimplikasikan pada pergolakan di Indonesia. Soekarno mulai mengizinkan aksi-aksi radikal dimulai, sesuai dengan pidatonya, sebelum usul mosi di PBB kalah. Ia memperingatkan  kalau usul mosi itu gagal, akan diambil jalan yang “akan mengejutkan dunia.” Terjadilah nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing sejumlah 700 perusahaan dengan nilai lebih dari 1500 juta dolar. Demontrasi sepanjang jalan, pemboikotan dan pemogokan serta penjungkirbalikan mobil-mobil milik Belanda. Bahkan semua surat kabar berbahasa Belanda dilarang terbit.

Dalam tiga bulan pertama 1959, kebanyakan dari sekitar 46.000 warga negara Belanda terpaksa meninggalkan Indonesia. Di balik hiruk pikuk gejolak kegembiraan, kepentingan Indonesia dipindahkan dari Negeri Belanda ke Jerman Barat dan Inggris.

Bulan Agustus 1960, Soekarno memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda sebagai balasan atas penampakan kapal induk yang dilengkapi pesawat udara berbendera Belanda, Karel Doornan, dengan kapal perusak sebagai pandu di perairan Irian Barat.

Bahkan dalam pidato pada Sidang Majelis Umum PBB ke –15, 30 September 1960. “Membangun Dunia Baru,” Presiden Soekarno mengeritik ketidakmampuan PBB menangani masalah Irian Barat dan memperingatkan ,” Irian Barat merupakan pedang kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia, akan tetapi di samping itu ia mengancam pula perdamaian dunia.” Ia mengingatkan adanya imperialisme dan kolonialisme menyebabkan terancamnya perdamaian.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s