Kesaksian mengenai Soekarno

Ada kalanya hasil rekontruksi peristiwa telah menjadi bagian dari sejarah kontemporer berfungsi sebagai kaca pembanding bagi ingatan pribadi dakam  memahami berbagai corak gejolak yang telah dialami. Dialog pun dapat berlangsung antara “sejarah“ – sebagai hasil rekontruksi masa lalu yang menjadi milik publik – dengan “ingatan“, sebagai milik yang sangat pribadi. Begitu kata Taufik Abdullah.

Kenang-kenangan para pelaku sejarah, pengisah sebagai orang pertama “saya” ataupun yang dikisahkan kepada orang lain sebagai orang ketiga “ia” selalu tampil sebagai suara yang menjadi lebih hidup. Keakraban ini bertambah karena ingatan kepada pengalaman yang dikisahkannya adalah ajakan untuk bersama-sama merenungkan corak dan sifat dari riwayat hidup Presiden Soekarno.

Mangil Martowidjojo bukanlah nama asing dalam sejarah kepolisian Indonesia yang tanpa kemauannya sendiri hadir dan berada bersama Presiden Soekarno, raksasa di antara para pemimpin bangsa Indonesia. Sekaligus pucuk pimpinan negara dan Pemimpin Besar Revolusi serta tokoh yang telah melukiskan dirinya sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Mangil ditugaskan sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno sejak proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan tanggal 16 Agustus 1967. Tugas mengawal dan nantinya menahan Soekarno setelah jatuh dari kekuasaan dilaksanakan oleh pasukan Satgas Pomad (Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat ) .

Sebagai Komandan Destatemen Kawal Pribadi Presiden – selama lebih dari dua dasawarsa – Mangil  praktis selalu berada di sisi Presiden Soekarno. Ia bukan hanya menyaksikan melainkan ikut serta menghayati seluruh pengalaman presiden pertama RI itu dalam berbagai peristiwa. Diantaranya Persitiwa  19 September 1945, Kudeta 3 Juli 1946, Agresi Militer Belanda II, Peristiwa 17 Oktober 1952, Persitiwa Cikini, Peristiwa G-30-S dan kelahiran Supersemar.

Keinginan untuk  menulis  kenang-kenangan selama dekat dengan Soekarno, baru bisa diwujudkannya setelah keluar dari Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Dengan berbagai macam pertimbangan dan juga permintaan pribadi Mangil, memoar ini baru bisa diterbitkan sesudah zaman berubah dan penguasa Orde Baru lengser. Berganti dengan Orde Baru Reformasi dengan segala macam kebebasannya datang di Indonesia.

Peristiwa

Batu ujian kepemimpinan Presiden Soekarno terjadi dalam rapat umum di Lapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945. Rapat umum tersebut bisa dianggap sebagai tantangan terhadap kekuasaan balatentara Jepang. Karena telah diumumkan, tak mungkin dibatalkan dan bisa dianggap pengecut. Suasana tegang terjadi, gerakan massa rakyat tidak dapat berpikir panjang atas reaksi pasukan Jepang yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Mangil menyaksikan penampilan penuh wibawa dan suara gemuruh yang mengeluhkan kepemimpinan Soekarno yang disambut dengan suasana gegap
gempita. Setelah naik mimbar yang disediakan, Soekarno menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan meminta peserta rapat umum untuk pulang. Serta bersedia sewaktu-waktu menerima perintah untuk berjuang demi mempertahankan negara RI yang telah diproklamasikan. Mereka pun patuh dengan perintah Soekarno dan membubarkan diri tanpa insiden.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s