Soekarno, Wayang dan Ratu Adil

Buku Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 1987, semula diajukan sebagai disertasi untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Kiel, Jerman Barat tahun 1964. Tahun 1965 naskah ini diterbitkan sebagai buku dalam bahasa Jerman. Kemudian tahun 1966 dalam bahasa Belanda dan tahun 1969 dalam bahasa Inggris oleh Cornell University Press. Sebagian besar isi buku didasarkan pada hasil penelitian di berbagai perpustakaan dan arsip Belanda pada tahun 1960-1963 dengan sedikit koreksi dan perubahan. Tahun 1966 Bernhard Dahm berkunjung untuk pertama kalinya setelah edisi Jerman dari karya ilmiah ini diterbitkan pada permulaan tahun1965. Ia menemui tokoh yang menjadi pusat perhatian bukunya, yaitu Presiden Soekarno.

Kunci yang dipakai Bernhard Dahm adalah Mitologi Jawa. Soekarno tidak pernah mencoba meyakinkan rakyat bahwa dirinya adalah Messiah yang dijanjikan pada zaman genting. Tetapi tindak-tanduknya, desas-desus yang tersebar, harapan yang dibebankan pada dirinya ikut membentuk kepercayaan rakyat bahwa ia memiliki kemampuan luar biasa. Ia mampu menjelaskan usaha kemerdekaan dengan menggunakan bahasa mitos Jawa yang mudah dipahami. Adanya Sindrom Jayabaya. Kepercayaan Soekarno yang mendasar tentang semacam gerak sejarah yang siklus. Kekuasaan-kekuasaan asing di Indonesia, baik Belanda maupun Jepang, dipandang sebagai suatu fenomena peralihan “tak terlelakan lagi” yang akan diakhiri oleh Ratu Adil.

Ratu Adil

Bernhad Dahm mengawali tulisannya dengan berkisah apa yang terjadi pada hari Minggu.,10 Februari 1924. Ada sekitar empat puluh orang Jawa berpakaian serba putih bergerak dari Tanggerang menuju Batavia. Kajah, yang memimpin rombongan dengan badan penuh jimat disergap dan diringkus polisi. Para pengikutnya balik menyerang polisi secara membabi-buta denagn golok dan kelewang. Dalam tempo singkat, jatuh korban yang bergelimpangan mati dan luka-luka. Kajah berhasil melepaskan diri tapi ditembak mati ketika berusaha menembus kepungan musuh untuk bergabung kembali dengan para pengikutnya.
Kerusuhan semacam itu seringkali melibatkan kepercayaan orang Jawa mengenai ramalan munculnya Ratu Adil yang akan mendirikan sebuah kerajaan yang sejahtera. Rakyatnya akan hidup makmur, bebas dari pajak, memiliki rumah tembok dan sebagainya. Didesas-desuskan bahwa Jayabaya berada di balik itu semua. Jayabaya adalah seorang raja dan peramal yang meramalkan bencana dan penghinaan yang akan dialami oleh orang-orang Jawa sebelum mereka memperoleh kekuasaan dan dihormati. Ia melihat silih berganti masa yang bahagia dan tidak bahagia bagi pulau Jawa sampai tahun 2000, pada waktu mana sejarah Jawa mencapai puncak akhirnya atau keagungannya.

Sebagai akibat dari sistem tanam paksa produk-produk tertentu ( Culturstelsel) yang menindas ini meletakkan dasar bagi spekulasi dan antipasi akan tibanya Messias. Guru-guru yang berkeliling mengumumkan akan segera tibanya  Ratu Adil dan memberikan penjelasan kepada rakyat tentang bagimana ia harus disambut.  Mereka memberikan arti yang sangat penting kepada gempa bumi, letusan gung berapi, dan bencana-bencana alam lainnya sebagai suatu pertanda.

Tahun 1912 di kalangan massa rakyat Jawa yang tidak berpendidikan dan masa bodoh secara politik muncul perkembangan yang tiada taranya dalam sejarah pergerakan kemerdekaan modern. Puluhan ribu anggota baru berduyun-duyun memasuki Sarekat Dagang Islam (SDI), yang tadinya dibentuk untuk melawan kekuasaan tengkulak-tengkulak Tionghoa di Jawa. Setelah diubah menjadi Sarekat Islam (SI), jumlah anggota barunya mencapai ratusan ribu dalam tempo satu tahun .

Perhatian semula dipusatkan kepada pemimpin Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto yang semakin menonjol. Di mana pun Tjokroaminoto tampil di muka umum, kerumunan massa berebutan untuk menyentuh pakaiannya. Mereka terpesona oleh cara ia mengecam status quo. Mungkinkah ia Prabu Heru Tjokro, Ratu Adil tradisional, yang sudah lama dinanti-nantikan itu ? Apakah bukan suatu isyarat bahwa pada tahun 1882, tahun kelahiran Tjokroaminoto, terjadi letusan gunung Karakatau sebagai peristiwa tersebar dalam sejarah Jawa?  Menurut ramalan kedatangan Messias akan dipermaklumkan oleh bencana-bencana alam. Dengan menfaatkan spekulasi yang meluas, para propagandais SI menjanjikan kepada rakyat – sebagai ganjaran atas tindakan mereka bergabung dengan gerakan itu – antara lain, rumah-rumah tembok, kemakmuran, kebebasan dari pajak dalam tradisi Ratu Adil. Bahkan penerimaan anggota-anggota  baru di berbagai cabang SI dilakukan menurut rumus-rumus tradisional untuk menyambut Ratu Adil. Secara berangsur-angsur pemimpin-pemimpin SI berusaha memperkenalkan Sosialisme sebagai wahana baru bagi gagasan tentang Ratu Adil itu. Dengan demikian, SI melepaskan diri dari pesona Jayabaya tetapi kehilangan arti penting mistisnya dalam pandangan massa, Jayabaya hanya akan hidup kembali apabila kemerdekaan nasional – dan dengan itu menentukan segala keinginan akan hal-hal kebendaan – kembali dijadikan tema perjuangan oleh sebuah partai kerakyatan dan seorang pemimpin yang menyerupai Messias. Tetapi tugas itu tidak diemban oleh SI dengan pemimpinnya Tjokroaminoto melainkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI)  dengan pemimpinnya.

 

Wayang

Tema-tema wayang seperti Mahabharata dan Ramayana dimanfaatkan dalang dan kaum nasionalis untuk mengungkapkan aspirasi-aspirasi mereka sendiri dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh setiap orang Jawa. Kusno – nama kecil Soekarno – sejak dini sudah diperbolehkan menonton pertunjukan wayang yang berlangsung semalaman. Soekarno kecil dididik malam demi malam di depan layar. Sebagaimana ia juga ditumbuhkan oleh gagasan tentang Ratu Adil, hasrat akan kemerdekaan dihidupkan terus oleh wayang. Ia menyaksikan Bharata Yudha yang mengisahkan perjuangan kaum Pandawa melawan kaum Kurawa. Kedua pihak berebutkan kerajaan Ngastina yang dikuasai oleh kaum Kurawa yang merupakan hak kaum Pandawa.

Sosok Bima merupakan pahlawan yang saleh dari tradisi Jawa. Orang kedua dari Pandawa bersaudara ini ditampilkan sebagai seorang yang tak kenal ampun dan tak kenal kompromi. Tetapi ia tetap bersedia untuk berkompromi dengan orang-orang di dalam barisannya sendiri yang bersedia tunduk kepada tatanan yang sama. Besar kemungkinan bahwa tokoh Bima dengan sikapnya yang tak kenal kompromi terhadap seperjuangannya mengesankan Kusno muda dibandingkan dengan tokoh-tokoh wayang lainnya. Di samping Bima, Karna menjadi panutan Soekarno. Raden Sukemi menginginkan putranya menjadi seorang Ksatria yang akan mengabdi pada tanah air. Ia mengubah nama Kusno menjadi Soekarno. Soekarno berasal dari Karna adalah seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata. Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang sakti.

 

Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s