Tragedi Anak Asuh HOS Tjokroaminoto: Soekarno, Musso dan M Kartosuwirjo

HOS Tjokroaminoto tokoh Sarekat Islam yang konon mempunyai pengikut sejumlah dua juta orang itu. Pada dekade kedua abad ke-20, dianggap sebagai lambang perlawanan nasionalisme. Adalah wajar kalau kediamannya sering dikunjungi tokoh-tokoh nasionalisme Indonesia, seperti Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan Hendrikus Sneevliet. Kalau boleh menggunakan istilah yang digunakan John D Legge, orang-orang yang sering berkunjung ke rumah Tjokroaminoto adalah merupakan – apa dan siapa – awalnya nasionalisme Indonesia.

Di kediaman Tjokroaminoto itulah Musso dan Soekarmo mondok dan banyak belajar tentang politik. Ketika itu kemasyuran Tjokroaminoto sedang mencapai puncaknya, Soekarno bukan hanya belajar politik, malahan ia menjadi menantu tokoh Sarekat Islam itu. Lewat pernikahan dengan putri sulungnya, Utari. Sebenarnya pernikahan itu sama sekali bukan saja berdasarkan saling cinta, tetapi dapat dikatakan merupakan lambang hubungan yang erat dengan sang pelindung. Ada dugaan Tjokroaminoto menginginkan Soekarno agar sebagai pewaris kepemimpinannya di Sarekat Islam.Tetapi, pernikahan itu tidak berlangsung lama dan bersamaan dengan itu telah terjadi perbedaan pandangan politik dengan sang pelindung. Menurut pengakuan Soekarno, disebabkan ia lebih mengutamakan kebangsaan sebagai landasan perjuangan, sedangkan Tjokroaminoto berjuang demi Islam. Keyakinan itu diperoleh Soekarno ketika ia berada di Bandung sebagai mahasiswa Techniche Hogere School (Sekolah Teknik Tinggi) di mana ia berkenalan dengan Tjipto Mangunkusumo  dan Douwes Dekker., yang merupakan pentolan dari Indische Partij yang memudian berubah nama menjadi National Indische Partij.

Pada waktu Tjokroaminoto ditangkap sehubungan dengan terjadinya peristiwa “Afdeling B“ di Garut pada tahun 1921, Soekarno kembali ke Surabaya, bekerja sebagai klerk di Stasiun Kereta Api untuk meringankan beban keluarga Tjokroaminoto. Sedangkan Musso yang terlibat dalam peristiwa “Afdeling B” dan dipenjara, walaupun begitu ia secara tegas menolak memberi keterangan apa pun berkaitan dengan Tjokroaminoto dalam hubungan dengan SI “Afdeling B”. Dan di balik penjara ini ia mendapat pelajaran politik tentang komunis secara intensif. Tetapi walaupun demikian bukan berarti ia langsung menaruh simpati dengan PKI. Dalam pertentangan Semaun melawan Hadji Agus Salim/Abdul Muis, Musso masih menaruh hormat terhadap Tjokroaminoto.

Pada tahun 1926, ketika pemerintah Hindia Belanda memutuskan menangkap Musso, tetapi ia menghilang. Ternyata Musso kabur ke Singapura. Kemudian ia bersama Alimin ke Moskaw untuk membicarakan Keputusan Prambanan, setelah Tan Malaka  sebagai wakil Comintern yang diterima Alimin di Manila, menolak keputusan PKI mengadakan pemberontakan (Keputusan Prambanan). Di sana mereka berdua mendapat jawaban dari Stalin, tidak diperkenankan mengadakan pemberontakan. Bahkan keduanya dipersilahkan tinggal selama tiga bulan untuk mendapat indoktrinasi kembali atas teori perjuangan  revolusioner. Akhirnya mereka disuruh pulang dengan membawa keputusan, bahwa Stalin melarang PKI mengadakan pemberontakan. Tetapi ketika mereka dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pemberontakan meletus pada bulan November 1926 di Jawa Barat dan Sumatra Barat pada tahun 1927. Akibatnya PKI dibubarkan dan semua aktivisnya dibuang. Akibatnya Musso kembali ke Uni Soviet untuk sekolah lagi sebagai petugas “ Comintern “.

Berbeda dengan Soekarno dan Musso pada waktu Kartosuwiryo tinggal di kediaman Tjokroaminoto pada tahun 1927, kedudukan Tjokroaminoto di dalam gerakan nasionalis berubah. Ia bukan lagi tokoh dari Partai Islam yang besar (Sarekat Islam), yang mampu mempersatukan rakyat dari keyakinan Islam, Komunis, dan Nasionalis, tetapi hanya menjadi tokoh dari Partai Islam yang kecil (Partai Sarekat Islam Indonesia). Kini, Soekarno bertindak sebagai juru bicara utama dari gerakan perlawanan Nasionalisme Indonesia. Ia telah mengambil alih kedudukan Tjokroaminoto.

 

Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s