Onghokham Menimbang Bung Karno

Sumbangan Onghokham, biasa disapa Ong, yang terpenting adalah ia menampilkan  dirinya sebagai cendikiawan publik. Dialah sejarawan yang paling sering menulis di media. Melalui tulisannya, Ong bergelut seraya mengajak kita melihat persoalan masa kini untuk dibandingkan dengan peristiwa masa lampau. Perbandingan secara diakronis inilah yang menyebabkan sejarah di tangan Ong seolah-olah hadir di pelupuk mata, hidup, inspiratif dan menarik.

Namun, bagaimana kalau Ong menulis sejarah yang sezaman dengannya, dialaminya, bahkan ia terlibat didalamnya? Inilah yang menarik selama membaca, Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1945 karya Ong, suatu bunga rampai yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada awal abad ke-20 periode kehidupan penulis sezaman dengan sejarah yang dikisahkan.

Menurut Ong, banyak sejarawan segan menulis atau meneliti sejarah kontemporer atau masa yang sezaman dengan masa hidup sejarawan itu. Bahkan, ada yang mengatakan semakin kuno suatu zaman untuk diteliti, semakin ilmiah sifatnya  karena emosi, kepentingan, dan lain-lain sudah mereda, serta mungkin bahannya pun lebih lengkap. Pendapat ini belum tentu benar. Sejarah  kuno Indonesia, misalnya, sedikit sekali bahannya. Pun emosi dan kepentingan tentang suatu zaman lampau masih kuat.

Korban Konsistensi

Ketertarikan Ong pada figure bapak pendiri ini bisa ditelusuri dari persahabatannya dengan aktivis-aktivis GMNI yang berdomisili di Asrama Daksinapati UI Rawamangun. Terlebih lagi Onghokham mempunyai kecenderungan politik pada PNI yang mempunyai hubungan emosional dan ideologis dengan Soekarno dan pada Soekarno sendiri. Ong dan Soekarno dilahirkan di Propinsi Jawa Timur dan Ong mempunyai kebanggaan yang berlebih atas provinsi kelahirannya.

Bagi seorang sejarawan, yang mengalami zaman Soekarno dan menulis mengenai Soekarno, delapan tahun setelah Soekarno tiada, tidaklah mudah. Periode Soekarno mungkin terlalu dekat bagi sejarawan untuk melihat semua fakta. Kebesaran seseorang tokoh membuat dirinya terselimut dengan nilai-nilai dan anggapan yang telah dikenakan kepadanya. Bagaimana bisa menulis biografi  sesungguhnya untuk mengetahui “badan alamiah“ orang tersebut jika terselubung realitas-realitas palsu, yang menghambat pengenalan langsung terhadap si tokoh ?

Soekarno adalah contoh yang jelas dari ironi sejarah dan penilaian sejarah  Sejak remaja ia berjuang. Ia berhasil. Bukan saja dalam usaha bersama mencapai cita-cita kemerdekaan, tetapi juga menjadi keberhasilan itu sendiri. Ia menjadi presiden dan kemudian dianggap dan menganggap diri sebagai personfikasi segala nilai dan slogan yang sedang dikembangkan  Namun, setelah kudeta 30 September 1965, ketika anak-anak muda meneriakkan mengenai pentingnya pembubaran PKI, Soekarno tidak mau membubarkan PKI. Soekarno tetap konsisten dengan pendirian mengenai perlunya tidak kekuatan besar bersatu menghadapi imperialisme dan kapitalisme. Di sini, kata Ong, Soekarno sendirian menghadapi realitas yang tak sesuai lagi dengan dirinya. Kejatuhan Soekarno, menurut Ong, disebabkan korban pandangan politiknya sendiri yang di dipegangnya sejak muda.

Pengalaman Trauma

Sebenarnya, Ong juga menjadi korban tidak langsung dari Peristiwa Gerakan 30 September. Tulisan Saya, Sejarah dan G30S1965 di buku ini  berbicara mengenai pengalaman yang membuatnya trauma. Setelah G30S, Ong menyaksikan pembantaian massal di Jawa Timur, tempatnya berasal. Kenyataan itu membuat dirinya marah dan terguncang.  Ketakutan menghampiri dirinya. Tanpa alasan jelas Ong ditahan penguasa militer pada Januari 1966. Penahanan atas diri Ong tidak berlangsung lama. Atas bantuan Nugroho Notosusanto, Ong bisa menghirup udara bebas. Barangkali itu adalah periode  paling kelam dalam hidup Ong.

Pada awal Reformasi, Masyarakat Sejarawan Indonesia  mengadakan seminar Memandang Tragedi 1965 secara jernih di Serpong, Tangerang  Melalui makalah” Refleksi tentang Peristiwa G30S (Gestok) 1965 dan Akibat-akibatnya”, yang dimuat kembali dalam bunga rampai ini. Ong berbicara mengenai latar belakang peristiwa tersebut ketimbang epilog Persitiwa G30S. Di sini Ong menyatakan pembataian massal yang terjadi adalah perang saudara. Ini disebut perang saudara karena kalau tentara saja yang melakukannya tidak mungkin kehancuran PKI demikian total sehingga tidak ada bayang-bayangnya sama sekali kini.

Mengenai peristiwa kelabu tersebut, Soekarno memilih untuk memakai istilah Gestok dan bukan istilah Gestapu  yang popular itu, yang bagi kalangan berpendikan mempunyai makna sampingan yang jelas  menunjuk pada organisasi teror Hitler, yaitu Gestapo. Menurut Ong, istilah Gestok memang lebih tepat dari sudut sejarah  sedangkan istilah Gestapo politis dan hina bagi gerakan tersebut. Namun karena pemenang perebutan kekuasaan menyebut persitiwa itu Gestapu (Gerakan Tiga Puluh September), sejarawan sampai sekarang memakai istilah tersebut. Sejarah adalah sejarah pemenang, bukan sejarah orang kalah.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s