Soekarno, Wanita dan Kekuasaan

Ketika Soekarno sedang terlarut dalam proses pembentukan bangsa hingga detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, ada sembilan wanita jelita mendampingi Soekarno. Dari Siti Utari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratnasari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger hingga Heldy Djafar. Inggit Ganarsih adalah istri yang usianya 15 tahun lebih tua dari Soekarno, dan yang lain lebih muda dari Soekarno. Heldy Djafar, istri terakhir Soekarno yang berusia 48 dibawah Soekarno. Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Soekarno.

Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Soekarno hingga masa senja hidupnya. Pertautan Soekarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Jiwanya yang labil, terus berkelana dari satu bunga ke bunga lain. Rika Melhusyen, Pauline Gobe, Laura Kraat yang sempat mengguncangkan dada. Untuk mendapatkan perhatian gadis bermata biru, Rika Meelhusyen, Soekarno rela membawakan buku-buku bahkan berjam-jam mengantar pulang dengan sepeda. Rika adalah gadis pertama yang dicium Soekarno.” Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih,” kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Itulah alasan yang bersifat politis dan eksistensial yang menyebabkan Soekarno begitu deman dengan gadis bermata biru.

Cinta yang tak sampai – Soekarno kemudian menemukan kembali di tahun 1920 pada putri cantik HOS Tjokroaminoto, Siti Utari – gadis yang begitu mungil yang tampak lugu dan pendiam.” Lak, engkaulah bakal istriku kelak,” begitu kata Soekarno pada suatu senja. Tahun 1921, di Surabaya, Soekarno menikah dengan Siti Utari, gadis berusia 16 tahun, putri sulung tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah tempat menumpang ketika Soekarno sekolah di Hogere Burger School.

Di Bandung, tempat Soekarno melanjutkan pendidikan d Technische Hogere School, Soekarno mondok di rumah Haji Sanusi yang tinggal bersama istrinya Inggit Ganarsih. Di rumah inilah terjadi percikan api yang memancar dari lelaki berumur dua puluh tahun, masih hijau dan belum berpengalaman, telah menyambar seorang perempuan dalam umur tiga puluhan tahun yang matang dan berpengalaman. Percikan gairah tersebut tidak hanya membakar Soekarno. Secara bersamaan menghapuskan simpul tali perkawinan yang baru dia jalani. Soekarno mengatakan bahwa Utari masih suci. Tetapi pihak yang mengenal betul karakter Soekarno tentu saja menyangsikan, sebagaimana diceritakan Abu Hanifah dalam Tale of A Revolution. Kepindahan ke Bandung sekaligus perceraian Soekarno dengan Utari telah menjauhkan hubungan Soekarno dengan Tjokroaminoto dan kemudian Tjipto Mangunkusumo menjadi mentor politik yang baru. Nasionalisme sekuler menjadi pandangan politik Soekarno yang baru.

Tahun 1923, Soekarno menikahi janda Haji Sanusi, Inggit Ganarsih yang lebih tua 15 tahun dari Soekarno. Hampir 20 tahun susahnya kehidupan dilalui bersama. Dari penjara hingga pengasingan – Soekarno lewati bersama Inggit Ganarsih. Saat Soekarno dipenjara Sukamiskin karena kegiatan politik. Inggit Ganarsih setia menemani dan menunggu sampai hukumannya habis. Karena hanya dia yang boleh menjenguk Soekarno di penjara, otomatis Inggit yang menjadi penghubung antara suaminya dan para pejuang lain secara sembunyi-sembunyi. Untuk menulis pesan Soekarno, Inggit menggunakan kertas rokok lintingan. Ketika itu, Inggit memang berjualan rokok buatan sendiri. Rokok yang diikat dengan benang merah hanya dijual kepada para pejuang, di dalamnya berisi pesan-pesan Soekarno. Tak mengherankan jika di depan para peserta Kongres Indonesia Raya di Surabaya (1932), Soekarno menjuluki istrinya, Inggit Ganarsih sebagai “ Srikandi Indonesia,”. Kita tidak pernah mengetahu, apa jadinya Soekarno tanpa Inggit Ganarsih.

Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu. Ada seorang gadis jelata yang mondok di rumah Soekarno. Namanya Siti Fatma yang kemudian dikenal Fatmawati. Inggit Ganarsih merasa ada percikan bunga cinta antara suaminya dengan putri angkatnya, Fatmawati.  Ternyata benar. Soekarno ingin menikahi Fatmawati untuk memperoleh keturunan tanpa menceraikan Inggit Ganarsih, tapi mantan istri Haji Sanusi menolak di madu. Meski pernikahan Soekarno dengan Inggit tidak dikaruniai anak, mereka memiliki dua anak angkat:Ratna Djuami dan Kartika. Pada jaman pendudukan Jepang, Soekarno menikahi Fatmawati dan sebelumnya menceraikan Inggit Ganarsih dengan baik-baik.

 

Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s