Pencarian Tuhan Sepanjang Masa

Tidak ada orang yang benar-benar mempercayai
sesuatu kecuali dia mengetahui lebih dulu bahwa
hal itu dapat dipercayai
(Santo Agustinus)

 

 

Banyak pengamat tentang kehidupan beragama dewasa ini sepakat bahwa agama telah tersingkir dari dunia modern . Tersingkirnya agama itu dirumuskan secara dramatis sebagai  Tuhan telah mati.  Atau dengan ungkapan yang lebih lunak sebagai trend dunia atau trend yang tak terelakkan. Thomas Altiezer seorang teolog radikal mengatakan dengan ungkapan yang konvensional dan lugas bahwa kita harus menyadari bahwa kematian Allah merupakan kejadian historis , bahwa Allah telah wafat di dunia , dalam sejarah dan keberadaan kita .

Herman Kahn dan Anthony Wiener dari Hudson Institute, telah mengadakan penelitian yang menakjubkan tentang peristiwa-peristiwa pada babakan ketiga akhir ke-20 , dan hanya mengadakan sedikit catatan tentang permasalahan agama . Dan dengan asumsi bahwa kebudayaan pada abad ke-20 akan  berlanjut ke pola sensate ( rasa-perasaan ) yang terus berkembang . Istilah sensate berasal dari sosiolog Harvard almarhum Pitrim Sorokin , dan didefinisikan oleh Kahn dan Wiener  sebagai  empiris, duniawi, sekular, humanistik, pragmatis, utilitarian, kontraktual, epikurian,hedonistis dan lain sebagai

Tersingkirnya agama menimbulkan berbagai gejolak (moods) dengan kemarahan kenabian , kesedihan yang mendalam , rasa menang yang melegakan atau sebagai hal biasa, sebagai fakta yang berkadar emosi ringan . Tetapi para juru bicara agama yang ada ( tradisional-religion ) telah mengadakan “perlawanan “ sejak zaman para dewa-dewi “, para inteletual progresif yang menyambut hangat “hilangnya “ pengaruh agama, para analis “murni “ yang hanya mencatat hal yang umum terjadi . Memang situasi kita dewasa ini merupakan zaman di mana kesadaran tentang keilahian paling tidak dalam bentuk klasiknya terdesak ke latar belakang kesadaran dan keprihatinan manusia .( Berger , 1991 : 1 – 2 )

Manusia modern tidak pernah berpikir bahwa ia sesungguhnya adalah bagian dari alam Sebaliknya , ia menganggap dirinya sebagai entitas yang terpisah dari alam  Ia punya akal, yakni sebuah kemampuan yang luar biasa , yang dimiliki oleh makhluk lain mana pun juga di alam ini . Dengan akal ini manusia memberi bukti bahwa ia bisa membuat banyak hal yang hebat di dalam hidupnya. Ia bahkan bisa menemukan hukum-hukum alam dan kemudian dalam beberapa aspek bisa memanipulasinya . Oleh karena itu , manusia menjadi angkuh dan menganggap diri lebih dari alam , dan ia merasa punya hak untuk menguasainya , dalam arti memakainya semata-mata untuk kepentingannya sendiri .

Rasio adalah segala-galanya bagi manusia, meski rasio itu sendiri sangat terbatas. Dengan kata lain , satu-satunya jalan yang benar untuk memahami realitas kehidupan dan kedirian manusia hanyalah melalui rasio . Ada berbagai aspek lain yang sebenarnya juga ada di dalam alam dan dalam diri manusia , tersisihkan oleh rasio manusia , bukan karena mereka tidak eksis , melainkan karena rasio itu sendiri tidak mampu menjangkau mereka Dengan demikian , manusia modern sebenarnya bisa dikatakan hidup tidak di dalam kepenuhannya. Terlalu banyak hal yang terabaikan tang sebenarnya vital bagi keutuhan diri manusia itu sendiri .

Dalam kemodernan ini, Tuhan tidak lagi dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tentang koherensi dan arti dunia . Dalam kemodernan , tahta rasionalitas dan makna tidak lagi menjadi milik Allah , melainkan milik akal manusia dan kehendaknya . Dengan demikian, rasio dan kehendak manusia itulah yang menjadi titik fokus kesatuan dan arti . Posisi Allah direbut oleh mereka . Karena kehendak Allah yang menyatukan itu ditolak dengan alasan moral, rasional dan saintifik , maka fokus bagi kesatuan segala hal bergeser kepada pikiran rasional menyatukan . Penggerseran posisi sentral Allah ini menyebabkan terjadinya keterpecahan pengalaman manusia , entah itu dalam tataran eksternal maupun dalam tataran internal . Fragmentasi ini pada gilirannya dapat berakhir pada pengerusakan struktur kemanusian itu sendiri karena kesatuan dunia tidak lagi menjadi konteks hidup bersama dalam kehidupan masyarakat manusia . Penggeseran posisi sentral Allah ini pada dasarnya tidak akan memberi kebebasan dan martabat bagi manusia , melainkan justru menempatkan kita dalam bentuk-bentuk perbudakan yang baru, yang bahkan sering tidak kita sadari .

Dunia modern bertumpu pada sains. Sains menjelmakan dirinya dalam berbagai bentuk kemajuan yang mewarnai kehidupan manusia modern dalam berbagai aspeknya . Namun, kemajuan yang dibawa sanis ini bukan tanpa konsekuensi . Manusia modern harus mengalami krisis hidup yang berat , bahkan karena terlalu beratnya , tidak dapat lagi diimbangi oleh kemajuan posisi yang diraih oleh sains . Sains memang berhasil meraih berbagai penemuan besar serta berhasil menghasilkan suatu sistem tekhnologi yang mengagumkan . Namun segala kemajuan itu secara berangsur-angsur menghasilkan efek-efek buruk yang tidak bisa dielakkan lagi , diantaranya : penghabisan sumber-sumber material secara cepat dan berbagai bentuk polusi terhadap lingkungan serta mendorong timbulnya perlombaan sistem persenjataan perang , yang pada akhirnya mengarah pada perang nuklir yang dapat menghancurkan seluruh peradaban dan seluruh isi planet  Inilah salah satu dari berbagai dilemma yang dimunculkan  oleh modernisme , dan manusia modern harus menghadapinya dalam hidupnya . Dalam situasi krisis seperti ini tidak heran bila manusia-manusia modern merasa terasing dari dunia dan dari dirinya sendiri . Manusia –manusia modern kehilangan pegangan . Dengan kata lain , dunia modern menjadi “ranah “ disorientasi bagi manusia yang hidup di dalamnya  Sains mencapai keterbatasannya dan tidak mampu lagi menjelaskan dan menjawab persoalan realitas hidup . Sekarang orang mulai melirik kembali ke wilayah supranatural – wilayah realitas yang selama ini dianaktirikan oleh modernisme dengan sainsnya , dan mencoba menemukan di sana jawaban bagi misteri hidupnya .( Wora , 2006 : 55 – 59 )

Zaman post modern ditandai oleh adanya pergolakan sosial yang cepat . Namun , kita tidak sekedar bersaksi atas progresivitas pergolakan sosial, kecanggihan teknologi post industri abad ke-20 , tetapi juga dihadapkan pada seribu krisis kemanusian : mulai dari krisis diri, alienasi atau keterasingan ,depresi , stress , keretakan insitusi keluarga , sampai beragam penyakit psikologi lainnya Justru .jenis penyakit yang mengguncangkan diri kita di tengah situasi krisis dewasa ini tak lain adalah hadirnya perasaan ketidaknyamanan psikologis . Ada semacam ketakutan eksistensial yang mengancam diri kita di tengah situasi krisis, sarat terror, konflik dan kekerasan sampai tragedi pembunuhan yang menghiasi keseharian hidup kita .

Situasi krisis agak serupa justru diiringi dengan meningkatnya  ketidakpercayaan pada insitusi agama formal.Barangkali, ekstremnya seperti dislogankan oleh futurolog John Naisbit bersama istrinya , Patricia Aburdence  dalam Megatrend 2000, “ Spiritualis yes, Organized Religion No !” Ada semacam penolakan terhadap agama formal – yang memiliki gejala umum yang sama , yaitu ekslusif dan dogmatis – sambil menengok kearah spiritualistas baru lintas agama .( Sukadi 2001 : 1 – 2 )

Kepercayaan akan Tuhan merupakan suatu faktor yang penting dalam hidup orang . Tetapi mengapa orang percaya akan Tuhan  ?  Jawaban yang lazim diberikan oleh orang yang beragama atas pertanyaan ini menunjuk kea rah sesuatu yang di luar mereka sendiri.

Pertanyaan berujung pada jawaban mengenai keyakinan Kadangkala menimbulkan pertanyaan,apakah keyakinan tentangTuhan sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawab kan Kemudian orang mulai berpikir dan mencari pengetahuan ilmiah tentang Tuhan Disadari pula tak mungkin pengetahuan ilmiah ini langsung memecahkan soal-soal yang timbul pada bidang kepercayaan , oleh sebab percaya itu lain daripada mempunyai pengetahuan ilmiah mengenai Tuhan . Pertanyaan-pertanyaan mengenai tentang Tuhan berkisar pada satu pertanyaan pokok yakni : apakah Tuhan ada ?

 

Selengkapnya…..

Satu pemikiran pada “Pencarian Tuhan Sepanjang Masa

  1. saya sudah tidak lagi tertarik dengan agama tapi bukan berarti habis juga kepercayaan saya akan adanya Tuhan. Setelah saya mengetahui begitu banyak kejadian yang mengingkari kehidupan kejadian yang bertolak belakang dgn prikemanusiaan saya sudah mengambil sikap kalau agama bukan berasal dari Tuhan tapi dari hasil pemikiran manusia untuk kepentingan manusia, buktinya begitu banyak agama untuk dijadikan tempat bagi manusia untuk saling membenci, kalau saya harus percaya agama yang suka keras, fanatik dan banyak konflik itu sama saja saya menganggap Tuhan itu bodoh karena tidak maha tahu kalau agama ciptaannya justru jadi pemicu terbesar perpecahan umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s