Cendikiawan dan Kekuasaan

Jangan menjual kekebasan
demi kekuasaan
(Benjamin Franklin)

 

Bagi cendikiawan , kemerdekaan adalah udara yang mengisi rongga pernafasannya. Kemerdekaan merupakan syarat hidup mereka . Tidak mungkin dibayangkan seorang cendikiawan bisa hidup tanpa kebebasan . Kebebasan mengasumsikan adanya berbagai pendapat , dan juga pertukaran pikiran . Intelektualisme tak akan tumbuh dalam suasana konformisme .Di pihak lain , keadaan bebas dan terbuka menyingkirkan timbulnya banyak pemikiran sosial yang independen , yang melakukan diskursus satu terhadap orang lain Dalam suasana seperti itu seorang cendikiawan dilahirkan, diasuh , dan dibesarkan .

Setiap masyarakat mempunyai sejarah tradisi intelektualismenya sendiri. Setiap masyarakat secara partikular membutuhkan pesan para cendikiawan , sesuai dengan prioritas tugasnya sendiri sepadan dengan masalah-masalah yang dihadapi . Kalangan cendikiawan di Indonesia pada tahun-tahun terakhir ini kembali memperoleh perhatian Justru karena nampak , bahwa pesan mereka semakin tumpul dan menyempit . Tugas untuk mempertanyakan hal-hal yang terjadi di masyarakat pada tahun-tahun terakhir ini banyak mengalami hambatan .

Hambatan  itu terlebih datang dari dalam , yaitu dari komitmen kaum intelektual sendiri Kecerewetan mereka berhenti , ketika mereka menjadi pengabdi dari suatu susunan cita-cita tertentu m yang siap untuk diimplemetasikan . Di situ kemungkinan besar kaum intelektual kehilangan spirit dan karakternya yang khusus , yaitu sebagai orang –orang yang bertanya . Boleh jadi inilah yang menjadi sebab , mengapa orang menjadi resah mengenai kaum intelektual yang sudah kehilangan karakter keresahannya . Terlihat kecenderungan di mana peran para cendikiawan itu berubah menjadi pelaksana-pelaksana tertentu dari sebuah mesin politik yang besar . Di sana dia bisa berperan menjadi seorang teknokrat , birokrat atau professional .

Ada pula kemungkinan mereka melakukan kompromi politik , sehingga ruang gerak untuk melakukan wacana intelektual menjadi sempit dan terbatas Padahal wacana semacam itu bisa mengikutsertakan keseluruhan masyarakat serta menjadi sarana bagi pendidikan politik mereka . Jika kaum intelektual telah menjadi satuan-satuan homogen dan terkotak-kotak dalam berbagai lembaga politik dengan absolutisme sendiri-sendiri , maka yang paling dirugikan adalah masyarakat ramai . Mereka juga lalu cenderung saling mengucilkan . Keadaan semacam ini bisa bermuara pada proses fragmentasi dan alienasi di antara kelompok-kelompok masyarakat . Seperti telah terjadi dimasa  “jor-joran politik“ di masa Orde Lama.

Bukan maskudnya meremehkan peran ganda para intelektual tersebut , karena memang ada saat untuk melakukan eksprimen-eksprimen tertentu di masyarakat . Namun , ketika rekutmen tersebut menghabiskan seluruh tenaga intelektual yang ada , maka muncul tanda-tanda , bahwa pertanyaan-pertanyaan kritis bukan lagi merupakan perhatian serta kegiatan utama dari kalangan cendikiawan ini .

Dalam keadaan konformisme dan terpecah-belah semacam ini bisa muncul berbagai ekses yang kontra produktif . Golongan ini bisa mengalami proses pengerasan yang dihasilkan oleh posisi-posisi politik mereka. Dan timbul pula kecenderungan yang tidak produktif , ketika percakapan di antara para intelektual menjadi percakapan yang sekadar saling mengiyakan posisi dogmatis mereka. Entah , dari kalangan kiri atau kanan bertemu dalam suasana , di mana tidak lagi terjadi  wacana kritis di antara mereka. Sebab, kritik dianggap identik dengan upaya menghancurkan dan mengalahkan posisi yang lain

Di samping itu, nampak pula eksplorasi keilmuan , khususnya dalam ilmu-ilmu sosial, semakin kurang disadari oleh penelitian-penelitian empiris , yang kemungkinan besar bisa mengubah posisi ataupun proposisi dogmatis-ideologis yang dipertahankan oleh masing-masing pihak . Dari sini nampak fragmentasi kalangan intelektual yang terkotak-kotak , dan tidak lagi mampu mempertanyakan posisi yang didudukinya . Dalam jangka panjang hal ini bisa melemahkan sendi-sendi kehidupan demokrasi dan kegiatan berpikir di masyarakat .( Sumartana, Juni 1993  )

Golongan cendikiawan membutuhkan ruang bebas untuk melakukan tugasnya ,kebebasan menciptakan ruang bebas , demi menciptakan suasana yang kondusif untuk menciptakan masyarakat yang terbuka dan kreatif Dengan karakteristik independensinya, golongan cendikiawan bisa mengambil jarak terhadap kekuatan-kekuatan politik yang sedang bertarung di masyarakat . Ia bahkan juga bisa mengambil jarak terhadap hasil pemikirannya sendiri dan juga dirinya sendiri , demi komitmennya kepada kebebasan Kebebasan dan kreativitas merupakan kapital yang amat hakiki untuk melakukan peran kecendikiawanannya. Mereka dituntut konsisten kepada sikap-sikap yang bebas dan terbuka .

Menyangkut hubungan antara intelektual dan kekuasaan .Batas serta kewenangan mereka perlu ditentukan bersama karena kedua belah pihak bisa menjadi patner dialog yang amat potensial , guna menghasilkan keputusan yang sungguh-sungguh  bermanfaat  untuk masyarakat .Yang merugikan masyarakat justru ketika golongan cendikiawan tidak lagi mampu mengambil jarak kritis terhadap kekuasaan Yang menjadi soal adalah, bagaimana apabila kedua peran tersebut digabungkan ? Apakah keduanya tidak menghianati fitrah dan hakikatnya masing-masing ? Ini mungkin merupakan kombinasi tersulit untuk menjalankan panggilan profesionalnya secara maksimal . Hanya orang dengan kaliber serta karisma tertentu bisa menggabungkan kedua tugas tersebut dengan baik .

Di masa lampau ketika masyarakat masih belum serumit sekarang , lebih mudah menyatuhkan kebebasan seorang cendikiawan  dengan otoritas seorang penguasa. Sekalipun begitu , selalu ada ketegangan esensial antara golongan :nabi “ di satu pihak dengan golongan “ imam “ dan “raja “ di pihak lain .

Ketegangan semacam itu dalam riwayat semua agama dan juga filsafat mewakili oleh golongan :pemikir bebas “ yang berhadap dengan penguasa yang mempertahankan insitusi , baik insitusi politik maupun insitusi keagamaan . Setiap penguasa ( baik “imam“ maupun “raja “ ) selalu cenderung mempertahankan kebijakan demi membela insitusinya. Sedangkan seorang “nabi “ dalam kebebasannya akan terus mencari pilihan-pilihan serta kemungkinan yang lebih baik , jika perlu dengan membuat pertimbangan mendasar terhadap insitusi yang ada. Polirasi terjadi, dan tidak jarang para “nabi” ini dituduh dan diperlakukan sebagai pengkhianat masyarakat  ( Sumartana , Agustus 1993  )

Sejak dari zaman Hinda–Belanda sebenarnya intelektual di negeri ini telah didayagunakan pemerintah Terlebih di awal terbentuknya NKRI, ketika penguasa kolonial  baru angkat kaki . Sedemikian jauh , rekutmen semacam ini dianggap lumrah saja . Tapi keadaan menjadi lain ketika orang-orang seperti Leimena , Soemantri Brodjonegoro , Emil Salim, Sadli , Ismail Sunny atau Sutjipto Wirjosuparto  bekerjama dengan pemerintah Soekarno. Mereka dicap sebagai sebagai pelacur-pelacur intelektual karena mengabdi kepada kekuasaan yang sudah menyimpang . Cap ini kembali dilekatkan ketika Sumantri Brojonegoro ( Rektor UI ), Tojib Hadiwijaya ( Rektor IPB ), Sumitro Djojohadikusumo (ekonom senior ), dan  Ali Wardhana (Dekan FEUI ) ditunujuk sebagai menteri Kabinet Pembangunan

Berjuang dari dalam biasanya menjadi alasan dari mereka yang bersedia mengabdi kepada kekuasaan . Sampai sekarang pun argumen ini masih dipakai , kendati sesungguhnya mereka tak punya cukup ruang gerakan untuk menjalankan peran sesuai nurani . Cukup banyak contoh dimana intelektual cenderung cemerlang yang menjadi bagian dari birokrasi pun harus mensubordinasikan keyakinannya , demi kepentingan kekuasaan yang diabdinya . Di masa kampanye misalnya , mereka harus menjadi juru kampanye  yang mewartakan kisah-kisah klise sukses pembangunan  Alih-alih mengawal akal sehat, mereka menjadi tukang propaganda . Dalam keadaan seperti ini mereka tak ubahnya tukang obat kaki lima yang pintar jual kecap. Sehingga terminologi” :penghianatan intelektual “ dari Julien Benda tepat mereka sandang.

 

Selengkapnya…..

2 pemikiran pada “Cendikiawan dan Kekuasaan

  1. Pak Peter Yth,
    Saya sedang menulis buku mengenai Achmad Wiranatakusumah. Karena Bapak cukup banyak menulis mengenai tokoh-tokoh militer, apakah Bapak memiliki data mengenai beliau? Terima kasih atas perhatian dan tanggapannya. Salam.
    Iip D Yahya
    Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s