NKRI dalam lintasan Sejarah Indonesia

Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasar-dasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa.

Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik.

Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negara-bangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional.

Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917.

Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat  terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekankan disini bahwa lembaga ini, yang anggota pribuminya adalah mantan pejabat Hindia Belanda telah berfungsi sebagai alat deteksi keresahan pribumi yang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dalam proses budaya, paling kurang ada tiga faktor yang telah menyumbang terciptanya rasa persatuan Indonesia, Pertama, agama Islam sebagai agama mayoritas rakyat ; kedua; kenyataan bahwa di Hindia Belanda sejak abad ke 11, bahasa Melayu telah merupakan bahasa pergaulan (lingua franca) ; ketiga, diperkenalkan sistem pendidikan Belanda di awal abad ke 19. Rasa ke-Indonesia-an memang secara efektif disebarkan oleh para pedagang Islam mulai dari Aceh turun ke daerah Minangkabau, terus menyisir pesisir timur Sumatra ke selatan dan ke timur menyeberang ke Kalimantan dan Jawa  Dari Gresik dan Tuban pun pedagang Islam kemudian menyeberang ke Sulawesi , Maluku Utara, dan berhenti di kepala Burung (Sorong) di Papua. Rasa ke-Umat-an yang kuat di kalangan Muslim telah berhasil mendekat suku-suku yang demikian beragam dan berjauhan satu dan yang lain. Bersamaan dengan itu, bahasa Melayu juga turut menyebar bersama dengan agama Islam. Bahasa Melayu tidak saja menjadi bahasa pergaulan di pasar-pasar tetapi juga di kantor-kantor pemerintahan kolonial, di kalangan penggemar buku-buku silat, roman dan novel.

Introduksi sistem pendidikan Belanda di kalangan priyayi, santri, dan golongan Timur asing lainnya telah merangsang dua reaksi. Pertama, memicu semakin marak dibangunnya Sistem Pendidikan Tradisional (Pesantren) – terutama di pedesaan Banten – sebagai suatu mekanisme defensif. Di daerah perkotaan berbagai kelompok nasionalis mengembangkan Sistem Pendidikan Nasional, seperti Taman Siswa. Introduksi itu juga secara tidak sengaja mendorong anak-anak priyayi terdidik untuk memilih bahasa Melayu sebagai medium komunikasi mereka dengan bangsa Belanda karena kekagokan komunikasi yang tercipta. Masyarakat Belanda di Hindia Belanda enggan berbahasa Belanda dengan priyayi terdidik karena dengan demikian mensejajarkan mereka dengan anak para priyayi, sedangkan bahasa Jawa tidak dipilih karena sangat merendahkan derajat penjajah. Seperti diketahui bahwa bahasa Jawa yang bertingkat akan menempatkan warga Belanda sebagai orang asing setingkat lebih rendah dari para anak priyayi.

Selangkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s