Memoar Cinta sang Proklamator

*) Peresensi: Supriyadi

Ir Soekarno atau Bung Karno, Presiden pertama Indonesia itu, merupakan tokoh besar yang pernah dimiliki Indonesia. Perjuangannya untuk bangsa ini sungguh luar biasa. Dia yang memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia setelah perjuangannya melawan penjajah. Sang Proklamator itu pun menjadi sosok penting bagi Indonesia, baik sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan.

Tokoh besar nan kharismatik itu pun menjadi tokoh yang sangat disegani rakyat. Kontribusinya pada negara Indonesia ini sungguh besar meski di akhir hayatnya, harus menanggung penderitaan.

Di sisi kehidupannya, sebagai tokoh yang hebat, dia memiliki sifat manusiawi yang wajar. Di berbagai pidato yang mampu mengobarkan jiwa nasionalisme para pejuang, serta kata-kata yang menusuk dan membakar semangat perjuangan, ternyata dia juga mampu mengungkapkan kata-kata yang puitis nan indah. Kata-kata yang berkoar-koar di berbagai pidato itu telah mampu membakar spirit perjuangan dan nasionalisme, sementara kata-kata yang puitis nan indah mampu memikat wanita. Inilah bagian hidup yang benar-benar manusiawi dari diri Bung Karno.

Sejarah mencatat, Bung Karno telah memperistri sembilan wanita. Di balik kata-kata yang indah yang selalu mengiringi surat-surat cintanya, kharismanya sebagai tokoh yang berpengaruh besar tidaklah bisa ditolak. Semenjak masih muda, Bung Karno adalah seorang pria dengan jiwa nasionalisme yang membara sehingga mampu memicu spirit perjuangannya melawan kolonialisme. Semenjak masih muda pula, Bung Karno telah memikat hati wanita.

Ketika masih muda, Bung Karno mampu memikat hati wanita yang bernama Siti Oetari Tjokroaminoto yang kemudian dipersuntingnya. Setelah itu, Inggit Ganarsih yang usianya lebih tua 15 tahun dari Bung Karno, dipinangnya. Fatmawati pun menemani Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Hartini dan Kartini Manoppo juga turut mengisi hati dan cinta Bung Karno. Hingga Naoko Nemoto yang berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi, geisha asal Jepang juga menjadi bagian hidup dari Bung Karno. Kemudian Haryati dan Yurike Sanger menjadi wanita yang dirayu Bung Karno, hingga seorang gadis yang usianya 46 tahun lebih muda pun dipersuntingnya, yaitu Heldy Jafar.

Istri terakhir Bung Karno, Heldy, merupakan istri yang paling muda dan hanya sebentar menemani sang proklamator tersebut karena setelah itu, beliau wafat. Akhirnya, Heldy menjanda di usia yang masih sangat muda.

Ully Hermono dan Peter Kasenda dalam buku Heldy Cinta Terakhir Bung Karno memaparkan sebuah kisah tentang percintaan Bung Karno dengan istri terakhir beliau, Heldy Jafar. Inilah sisi lain dari kehidupan Bung Karno yang kharismatik di mata orang lain, tapi ternyata juga seorang pemuja wanita. Pesona yang beliau tebarkan membuat wanita yang dicintainya selalu tertegun dan terpesona. Begitulah Bung Karno.

Ketika itu, usia Bung Karno yang menginjak 64 tahun masih mampu jatuh cinta dan memikat seorang gadis belia. Dialah Heldy Jafar yang sebelumnya menjadi anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang menyambut kedatangan Tim Piala Thomas, pada 1964. Heldy pun dinikahi oleh Bung Karno di usia 18 tahun. Pernikahan Bung Karno dengan Heldy ini memang tidak banyak diketahui oleh orang. Sementara itu, Heldy juga hanya salah satu dari sederet istri yang pernah dinikahi dengan resmi selain Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Yurike Sanger, Haryati, Kartini Manoppo, dan Ratna Sari Dewi atau Naoko Nemoto.

Pembaca diajak untuk membaca sisi lain Bung Karno yang sangat manusiawi sebagai seorang manusia yang membutuhkan cinta. Dengan alur yang apik dan gaya bahasa yang mudah dicerna, tampaknya kedua penulis buku ini benar-benar menguraikan kisah cinta Bung Karno-Heldy dengan baik. Dengan begitu, sisi manusiawi sang presiden pertama Indonesia ini juga bisa dibaca oleh khalayak.

Peresensi adalah Pengamat Sosial pada Fak. Tarbiyah & Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

(Koran Jakarta, edisi 25 Juli 2011)


Judul : Heldy Cinta Terakhir Bung Karno
Penulis : Ully Hermono & Peter Kasenda
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : I, 2011
Tebal : 254 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s