Memahami Hatta Melalui Teks

Mohammad Hatta mungkin satu-satunya dari bapak bangsa kita yang paling banyak menulis. Jika ada jasanya yang terbesar; tak lain adalah karena itu; dia menjadi reporter yang mencatat, melaporkan dan memberi komentar tertulis atas suksesi peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Hatta menulis pertama kali ketika berusia 18 tahun, belum lagi di masuk universitas. Tulisan pertamanya dimuat dalam majalah Jong Sumatera. Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya kian meluap ketika Hatta kuliah di Negeri Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tapi Hatta bukan cendikiawan di menara gading.

Di jantung kekuasaan kolonial itu, Hatta ikut mengubah watak Indische Vereninging, perhimpnan mahasiswa Hindia, yang semula lebih bersifat sosial menjadi gerakan politik perlawanan. Hatta dan teman-teman bahkan menjadi kelompok pertama yang memperkenalkan kata “Indonesia.” dalam pengertian geopolitik, yakni ketika mereka mengubah nama perhimpunan itu dari Indische menjadi Indonesich Vereniging. Dalam salah satu tulisannya di dalam majalah partai sosialis Belanda, Hatta menjelaskan mengapa organisasinya menggunakan kata “Indonesia.” “ Bagi kami”, kata Hatta, “ Indonesia membayangkan sebuah tanah air di masa depan.”

Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah Hindia Poetra, yang belakangan juga diberi nama lebih provokatif; Indonesia Merdeka. Hatta menulis dua artikel dalam edisi pertama majalah itu, dalam bahasa Belanda yang dipujikan Kelak, dalam Memoir-nya yang terbit pada tahun 1980, Hatta mengenang betapa “ para professor Leiden meragukan majalah itu ditulis seluruhnya oleh pemuda-pemuda Indonesia.”

Sekilas memandang empat jilid kumpulan karya tulisan Hatta yang diterbitkan pada permulaan 1950-an kita dapati betapa luasnya pokok masalah yang dituangkannya dari tahun-tahun 1920-an sampai 1950-an, antara lain teori ekonomi, politik internasional, pergerakan nasional di negara-negara lain sampai dasar persoalan-persoalan sosial dan ekonomi di pedesaan di Indonesia, pentingnya bahasa dan kebudayaan daerah dan peranan serikat-serikat buruh dalam masyarakat modern. Setelah Kemerdekaan Hatta terus menerus diminta berpidato dalam pertemuan-pertemuan umum, dan banyak sekali menyumbangkan buah pikiran pada masalah-masalah mutakhir. Di antara para bangsa itu barangkali Hatta (dan Tan Malaka, sampai tingkat tertentu) yang tekun menuliskan buku-buku teks, baik dalam bidang ekonomi (Pengantar Ke Jalan Ekonomi Sosiologis), sejarah filsafat (Alam Pikiran Yunani), maupun filsafat ilmu pengetahuan ( Pengantar ke Jalan Ilmu Pengetahuan ).

Ada empat masalah pendekatan yang tetap dapat ditelusuri sejak tahun 1920-an.  Keempat masalah tersebut adalah keyakinan bahwa demokrasi parlementer dengan banyak partai adalah bentuk pemerintahan yang terbaik  bagi Indonesia; keyakinan tentang pembaharuan sosial Indoneesia secara mendasar ; keyakinan bahwa Indonesia harus berjuang terutama sekali untuk menciptakan ekonomi yang lebih adil dan keyakinan bahwa partai-partai politik di Indonesia harus didasarkan pada kader-kader yang terpelajar yang mempunyai kesadaran politik, dan sebaiknya bergerak dengan hati-hati ke arah keanggotaan massa.

Klik selengkapnya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s