Membaca Sukarno dari Sudut Pandang Peter Kasenda

Senin, 01 Oktober 2012

Membaca Sukarno dari Sudut Pandang Peter Kasenda

Membaca Sukarno dari Sudut Pandang Peter Kasenda

(Malang-Post)

MALANG – Sejarah tentang gerakan 30 September atau G-30/PKI tak pernah usai ditorehkan dalam sebuah buku. Salah satunya Peter Kasenda yang menulis buku berjudul Hari-Hari Terakhir Sukarno yang diluncurkan kemari dengan pembedah sejarawan JJ. Rizal di Universitas Negeri Malang (UM).

Sosok kharismatik Presiden Sukarno masih menarik untuk dibahas. Pejuang yang menjadi proklamator ini masih menyisakan sisi lain kehidupannya yang belum diketahui banyak orang. Buku setebal 269 halaman ini menceritakan bagaimana Sukarno dikudeta. Saat-saat titik balik kehidupan Sukarno sejak persistiwa 30 September 1965.
“Peluncuran Malang terasa lebih spesial karena bertepatan dengan 1 Oktober,” ujar Peter Kasenda. Ia menambahkan, kendati telah banyak buku yang berisi tentang Sukarno, tetapi dalam bukunya ia lebih banyak menguak kehidupan Sukarno sebelum ia meninggal pada 21 Juni 1970 silam.

“Sangat disayangkan jika seorang good father bangsa ini justru ditelantarkan. Di saat sakit berkepanjangan, beliau malah ditelantarkan pengobatannya dan dijauhkan dari keluarga,” ujar Peter yang juga dosen sejarah Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta ini.

Dikatakannya, buku yang ia tulis berdasarkan pengumpulan data yang mampu menjelaskan bagaimana seorang proklamator tapi statusnya menjadi tahanan politik di negara yang ia perjuangkan sejak usia muda.  “Sebelum meninggal, Sukarno dijauhkan dari orang-orang terdekatnya termasuk keluarga. Pengawal yang lazimnya melindungi justru menjadi orang yang mengawasi setiap gerak-geriknya,” beber Peter.

Bukan hanya itu, setelah meninggal pun, politik pembunuhan karakter terhadap dirinya mulai dijalankan. Saat masa kejayaannya, Sukarno diberi gelar Presiden Seumur Hidup, Bapak Marhaenisme, Penyambung Lidah Rakyat dan julukan lainnya. Namun, setelah kejayaannya pudar semua gelarnya dicopot. Perintah-perintahnya dibalik sedemikian rupa. Pidato-pidatonya  yang menggetarkan hati pun disensor “Dibandingkan buku lain, buku ini merupakan rujukan paling lengkap mengenai jatuhnya Sukarno,” ujar JJ Rizal yang juga pendidri Komunitas Bambu ini. Rizal membahkan, keunikan buku ini adalah penulis mengambil sudut pandang Sukarno.

“Dalam buku ini terlihat Pak Peter sangat mengagumi Sukarno. Menurut saya, buku ini terbit di saat yang tepat karena sumber data dan kesaksian yang semakin terbuka. Membuatnya bukan hanya kaya data tetapi banyak memerhatikan sisi-sisi kemanusiaan Sukarno,” pungkasnya.(nin/eno)

Link: http://www.malang-post.com/edupolitan/54335-membaca-sukarno-dari-sudut-pandang-peter-kasenda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s