Soekarno dalam Lawatan Sejarah

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” – Soekarno

Ketika  Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, kita rasakan rasa geram yang lebih  karena tidak berdaya sebagai rakyat. Pikiran yang mengusik adalah bagaimana mungkin the founding father harus menghembuskan nafas terakhir di dalam pengasingan politik. Soekarno – lebih dari siapa pun – memang berjasa besar menyatukan bangsa Indonesia dalam kesadaran bersama meraih kemerdekaan, lewat aksi-aksi politiknya yang gemuruh.

Untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Soekarno ditahan di penjara Banceuy dan Sukamiskin di Bandung. Ia kemudian diasingkan di Ende-Flores dan Bengkulu. Sebagai presiden pertama Republik Indonesia pada masa revolusi nasional, Soekarno dibuang ke Bangka, Berastagi dan Parapat.

Soekarno tak hanya mengantarkan kemerdekaan Indonesia. dia kelak memang mengguncang dunia pula. Dari lembah Sungai Nil hingga Semenanjung Balkan, dari Aljazair hingga India, namanya dikenang sebagai salah satu juru bicara Asia-Afrika paling lantang dalam melawan “imperialisme dan kolonialisme Barat.” Keberaniannya menentang kekuasaan Barat yang arogan membuat orang Indonesia bangga menjadi orang Indonesia.

Soekarno tidak dimakamkan “di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar.” Tidak seperti diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Prospek  bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah popular yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintahan baru. Soeharto hanya mengizinkan Soekarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

Setelah Soekarno wafat, represi terhadap hal-hal yang berbau Soekarno justru semakin meningkat. Pada awal dekade 1970-an, diskusi tentang Soekarno sangat dibatasi.. Sebuah larangan tak resmi diberlakukan terhadap publikasi tulisan-tulisan politik Soekarno. Nama presiden pertama  Indonesia ini jarang, atau bahkan tidak pernah sama sekali, disebut-sebut oleh unsur rezim Orde Baru, Meskipun keyakinan bahwa Soekarno adalah perumus Pancasila begitu mengakar kuat dalam skema pemahaman mayoritas bangsa Indonesia, referensi yang mengaitkan Soekarno dengan Pancasila hampir sepenuhnya diingkari oleh pemerintahan Orde Baru.

Dan kini, 42 tahun sejak meninggalnya, nama dan wajah Soekarno tidak pernah benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan kebesarannya, simpati pada epilog hidupnya yang tragis, serta maaf atas kekeliruan di masa silam. Dengan kata lain, Soekarno sebagai tokoh hyperreal yang selalu menjadi hantu bagi rezim Orde Baru dengan tokohnya Soeharto, tetap hadir dengan kokohnya dalam benak para pengagumnya  Berbagai cara yang dilakukan Orde Baru untuk menggusur “realitas” itu, tampak sia-sia. Ternyata benak manusia tidak semudah itu dikontrol dengan pola tertentu.

Soekarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasionak yang paling menonjol – mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan berganti-ganti. Di kali lima, poster masih tampak dipajang bersebelahan dengan gambar Madona, Iwan Fals, dan Bob Marley – simbol dari zaman yang sama sekali lain.

Setelah 40 tahun lebih Soekarno menghembus nafas terakhir, pada akhirnya  pemerintah menetapkan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai pahlawan nasional pada bulan November 2012. Keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Soekarno tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 80/TK/2012. Sementara buat Mohammad Hatta tertuang dalam Keppres Nomor 84 /TK/2012. Kedua keppres itu ditandatangani pada 7 November 2912

Sebagaimana dikatakan Presiden bahwa penganugerahan gelar pahlawan nasional ini menegaskan bentuk pengakuan, penghargaan, pemnghormatan  dan ucapan terima kasih atas perjuangan dan pengorbanan beliau-beliau. Bangsa Indonesia  patut mengenang dan melestarikan nilai-nilai kejuangan yang diteladankan Soekarno dan Hatta.

Presiden juga mengajak setiap bangsa untuk meninggalkan stigma negatif yang mungkin masih melekat terhadap kedua bapak bangsa ini. Dalam pandangannya, jasa, perjuangan, pengorbanan, serta pengabdian keduanya jauh melampui dan lebih besar dibandingkan kekurangan dan kelemahan mereka.

Sebelum penetapan ini, keduanya diberi gelar pahlawan proklamator pada 1986. Pemerintah Soeharto menganggap presiden pertama itu terkait dengan Gerakan 30 September 1965 yang menguntungkan Partai Komunis Indonesia. Pemberian gelar pahlawan proklamator kelihatan ekslusif  dan tinggi mengatasi gelar pahlawan nasional. Namun seketika peran historis Soekarno dan Hatta dikerdilkan hanya dalam satu peringatan sejarah khusus Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Dilenyapkan perjalanan panjang Soekarno dan Hatta dalam sejarah.

Dengan gelar baru ini, kedua pemimpin yang mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan tersebut resmi diakui sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Dengan terbitnya TAP MPR I/MPR/2003 yang meninjau kembali ketetapan MPR dan MPRS sejak 1960-2002, Ketetapan MPRS  XXXIII/MPRS/1967  tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan dari Presiden Soekarno. Dalam pertimbangan ketetapannya menyebutkan, pidato Presiden Soekarno tidak jelas membuat pertanggungjawaban kebijakan Presiden atas pemberontakan kontra revolusi G30S/PKI.

Baca Selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s