Soekarno dalam lintasan sejarah

Siapapun yang mengunjungi kota-kota Indonesia akan mendapatkan keseragaman nama-nama jalan. Ada perempatan-perempatan yang diberi nama bunga dan pohon, jalan-jalan dengan nama orang-orang dari hampir setiap periode sejarah nusantara Indonesia. Sekelompok nama di antara tokoh-tokoh historis ini telah diberi tempat menonjol di dalam kenangan kolektif masyarakat Indonesia karena mereka telah secara resmi diproklamirkan sebagai pahlawan-pahlawan nasional. Sejak penetapan Demokrasi Terpimpin oleh Soekarno pada tahun 1959 sebuah panteon nasional yang terdiri diatas 150 laki-laki dan perempuan  telah dibangun untuk menghormati sejumlah darmatis pahlawan dalam sejarah Indonesia dari masa Sultan Agung pada abad ketujuh belas hingga masa lalu yang terbaru.

Fenomena pahlawan-pahlawan nasional di Indonesia sama sekali bukan cirri unik. Ada segelintir negara di mana beberapa tipe pahlawan dihormati dan ritual-ritual yang terkait. Pemberian gelar pahlawan itu dapat ditemukan baik pada negara-bangsa yang telah terbentuk lama maupun lebih baru.  Akan tetapi, dalam sebagian besar keadaan, fenomena ini dibatas pada jumlah pahlawan nasional yang relatif kecil yang tampil di dalam tahap penting tertentu dalam sejarah negara mereka. Contoh-contoh seperti Simon Bolivar, Emiliano Zapata, Joze Rizal, atau Otto van Bismark, yang dikenal sebagai pendiri-pendiri komunitas nasional masing-masing, dapat menggambarkan maksud ini.

Penghargaan kepada pahlawan dalam bentuk yang agak berbeda terbentuk di negara-negara bekas komunis di Eropah Tengah dan Timur. Orang-orang yang dihormati ini bukan saja sosok-sosok yang unik ataupun luar biasa dengan jasa-jasa historis yang tidak pararel, melainkan mereka juga tidak dihormati sebelum mereka meninggal. Gelar-gelar kehormatan “Pahlawan Buruh Sosialis“ dan “Pahlawan Uni Soviet” secara harfiah dianugerahkan kepada ribuan warga negara di negara bekas Uni Siviet, dalam beberapa kasus bahkan lebih dari satu kali. Marsekal Zhukof yang terkenal. Contohnya, yang memimpin pasukan untuk membebaskan Berlin pada tahun 1945, menerima gelar “ Pahlawan Uni Soviet “ sebanyak empat kali.

Pahlawan-pahlawan nasional tidak saja menempati peta-peta kota di Indonesia, tetapi juga jelas terlihat dalam berbagai hubungan lainnya. Monumen-monumen mereka”mendadani” pemandangan Indonesia karena hampir di setiap kota dan di berbagai desa dapat ditemukan patung-patung, makam-makam, atau bentuk peringatan lainnya bagi para pahlawan dan pejuang kemerdekaan.  Melalui beragam bentuk komunikasi dan ritual-ritual politik, penghargaan kepada pahlawan-pahlawan juga membantu dalam membentuk kesadaran politik historis masyarakat Indonesia. Hal ini akan menentukan arah dan isi kenangan historis serta menanamkan penafsiran khusus pada masa lalu yang bermanfaat bagi keperluan-keperluan politik tertentu. Fenomena pahlawan adalah suatu instrumen penting untuk mengindoktrinasi generasi muda.

Oleh karena itu ada penulisan sejarah yang bertujuan inspiratif. Di Indonesia sejarah jenis ini, yang bertugas inspiratif, sering kali dijalin di sekitar riwayat perjuangan pahlawan-pahlawan, seperti para pahlawan  pembela kemerdekaan selama masa-masa serbuan imperialisme dan kolonialisme Barat ( Dipati Unus, Fatahillah, Baabullah, Sultan Agung, Iskandar Muda, Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Nuku, Trunojoyo, Untung Suropati, Pattimura, Imam Bonjol, Diponogoro, Antasari, Teuku Umar, Teungku Ci: Di Tiro, Sisingamangaraja dll).  Tetapi guna inspiratif sejarah ini tidak hanya terdapat di negeri-negeri berkembang saja, melainkan juga di negeri-negeri yang sudah maju.

Gelar Pahlawan Proklamator menegaskan suatu kategori ekskusif yang ditetapkan oleh rezim Soeharto yang merujuk kepada dua orang. Soekarno dan Mohammad Hatta. Sekilas mungkin tampak masuk akal bahwa kedua tokoh ini, yang ditakzimkan sebagai dwitunggal ini memperoleh gelar yang sama karena mereka bersama-sama memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi, penyelidikan yang lebih dekat mengungkapkan ada tujuan-tujuan politik mendasari pemerintahan Soeharto dalam menciptakan kategori baru ini.

Karir politik Mohammad Hatta tidak menimbulkan terlalu banyak kontroversi, meskipun ia tetap menjaga jarak dari pemerintahan militer selama tahun-tahun terakhirnya. Di dalm surat wasiatnya ia mentapkan tidak ingin dimakamkam Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tetapi lebih memilih Tanah Kusir, yang hanyalah tempat pemakaman biasa. Sebaliknya peran Soekarno di dalam sejarah Indonesia akan tetap menjadi bahan perdebatan historis dan politis pada tahun-tahun yang akan datang. Soekarno dipandang sebagai simbol publik yang sangat berkuasa dan berbahaya yang merupakan alasan mengapa diperlukan waktu 16 tahun sesudah kematiannya sebelum Proklamator Kemerdekaan ini direhabilitasi pada tahun 1970 Soeharto bertindak hati-hati dan mencoba meneliti kharisma pendahulunya ini. Soekarno dihormati hanya atas jasa-jasanya pada tahun 1945, dan ia ditemani oleh Hatta sebagai Proiklamator kembarnya. Baik aktivitas politiknya di dalam gerakan nasional maupun karir politiknya setelah tahun 1945 tidak diperhitungkan sebagai suatu usaha untuk menempatkannya bersama-sama Hatta pada suatu masa yang tetap dan didefinisikan secara sempit pada masa lalu.

Penentuan rehabilitasi ini pun menarik. Rehabilitasi ini terjadi tepat 16 tahun – dua windu dalam kronologi Jawa – setelah kematian mantan presiden ini, dan setelah adopsi final Undang-Undang Ormas pada tahun 1985 yang membuat penafsiran otoritatif pemerintah tentang Pancasila sebagai prinsip dasar bagi semua organisasi politik dan sosial. Pengadopsian hukum-hukum ini secara resmi merupakan faktor esensial dalam stabilisasi rezim Orde Baru yang kini merasa cukup kuat untiuk membuat beberapa konsesi kecil terhadap saingan-saingannya. Akan tetapi, keadaan lain yang harus dicatat adalah kenyataan bahwa rehabilitasi ini terjadi setengah tahun sebelum pemilihan umum tahun 1987. Pada saat yang sama Bandar udara internasional yang baru di Cengkareng secara resmi dinamakan “Bandar Udara Soekarno-Hatta.” Setelah sebelumnya berada di bawah pengendalian kepala negara, penghormatan publik Soekarno bersama Hatta sebagai “ penjaga: historisnya-diperbolehkan.

Penentuan Soekarno dan Hatta sebagai Pahlawan Proklamator lebih dari sekedar membatasi peran historis Soekarno. Soeharto juga memaruhi aturan-atiran tidak tertulis dalam tradisi Jawa bahwa seseorang harus mentakzimkan dan menghormati pendahulu-pendahulunya agar dapat menjadi seorang penerus yang sah. Secara mengejutkan, dalam suatu kesempatan pengumuman pahlawan, pemerintahan Soeharto mulai menjalankan upacara ziarah tahunan ke makam Soekarno di Blitar. Dalam melakukan ziarah ini, Presiden Soekarno dapat meningkatkan pretisenya sendiri, terutama di mata orang-orang Jawa yang mempunyai hak pilih dalam pemilihan umum di antara para pengikut Soekarno. Dengan demikian, ia mencoba untuk memenangkan suara mereka pada pemilihan umum yang datang.

Baca Selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s