Soekarno di Mata Sarjana Asing

Berbicara mengenai Indonesia, berarti berbicara mengenai Soekarno.  Ia merupakan simbol nasionalisme Indonesia. Ia berhasil menjembatani  perbedaaan-perbedaan yang tercipta di antara suku, agama dan golongan yang ada di Indonesia dan menanamkan kepada rakyat kesadaran tentang suatu bangsa, bangsa Indonesia. Kendati Soekarno telah lama meninggalkan kita, Soekarno seakan-akan masih ada di sekitar kita. Secara sosiologis Soekarno tetap berada dalam kalbu masyarakat Indonesia. Nama besar Soekarno tetap digunakan untuk meraup suara dalam pemilihan umum. Mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno tetap terpelihara dalam hati para pengagumnya. Soekarno tetap merupakan bayang-bayang bagi pemerintah sesudahnya. Soeharto, BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal tertentu menjadi pelanjut dari  apa yang telah dikerjakan Soekarno.

Soekarno merupakan persona bagi sarjana asing. Terbukti dengan sedemikian banyak tulisan mengenai Soekarno. Tulisan yang sangat beragam ditulis mengenai Soekarno. Memahami diri Soekarno tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Sebab Soekarno mempunyai beberapa sisi dalam kehidupan. Soekarno bisa dilihat sebagai seorang politisi ulung yang menguasai panggung sejarah sedemkian lama, tetapi Soekarno bisa juga dilihat sebagai seorang pemikir yang mempunyai daya jangkau buah pikiran  sedemikian luas. Soekarno juga bisa dilihat sebagai orator yang hebat. Pidato-pidatonya disampaikan dengan bahasa sederhana yang dengan mudah dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Soekarno mempunyai kepekaan artistik yang begitu luar biasa terbukti dengan koleksi-koleksi benda seni yang terdapat di Istana Jakarta, Bogor dan Cipanas. Keindahan ibukota tidak lepas dari sentuhan seni dari Presiden Soekarno. Memahami manusia Soekarno, bagaikan memahami lukisan dengan seribu warna. Begitu banyak dimensi tentang dirinya, dan bermacam-macam pula gambaran yang muncul dari setiap dimensi itu.

Kebanyakan tulisan mengenai Soekarno dalam kumpulan karangan ini diterjemahkan dari jurnal-jurnal ilmiah terkenal seperti Indonesia (Amerika Serikat), Archipel (Perancis) dan Bijdragen Tot De Taal-,Land De Volkenkunde (Belanda), Review of Indonesia and Malayan Affairs (Australia) dan The Jurnal of American History (Amerika Serikat), Modern Asian Studies. Empat jurnal pertama yang disebut dikenal sebagai jurnal-jurnal pretegius yang mengkaji masalah-masalah Indonesia. Ini menunjukkan sekaligus betapa tersebarnya pusat-pusat pengkajian masalah-masalah Indonesia. Selama ini pusat kajian mengenai Indonesia berada di Belanda, Amerika Serikat, Australia dan Perancis. Di samping itu sejumlah tulisan merupakan bagian dari buku atau kumpulan karangan. Salah satu tulisan dari kumpulan karangan sarjana Skandinavia mengenai Indonesia  disertakan dalam kumpulan karangan ini.

Pertunjukan Wayang dan Tulisan Klasik Soekarno

Tulisan dalam kumpulan karangan ini diawali dengan tulisan Bernhard Dahm, seorang penulis biografi pemikiran Soekarno, yang menulis riwayat hidup Soekarno sekitar seperempat abad sebelum Soekarno terjun dalam dunia politik sebagai ketua Perserikatan Nasional Indonesia kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia dan setelah mendirikan Algemene Studie Club di Bandung sebelum lulus dari Techniche Hogeschool  pada tahun pertengahan 1926.

Proses sosialisasi politik Soekarno dimulai pada masa kanak-kanaknya, sewaktu dia masih bernama Kusno dan tinggal bersama kakeknya di Tulungagung. Waktu itu dia masih seorang pencinta wayang yang fanatik, yang lambat lain memahami betul arti makna yang terkandung dalam falsafah-falsafah cerita-ceritanya. Cerita-cerita wayang ini menyuburkan tumbuhnya mitologi Jawa bagaimana tercermin dalam Jayabaya. Tumpukan kesengsaraan, penderitaan dan pengalaman yang dibangun pada bagian permulaan dari satu cerita yang berlangsung dalam kegelapan malam melahirkan rasa tdak puas dan frustasi yang dalam terhadap suasana ketidakadilan yang digambarkan. Dari sini mengalirlah ke lubuk hati para penonton suatu harapan agar seseorang berbuat menentang kezaliman itu dan mengantarkan suasana ke perbaikan  Sesudah sekian lama menanti, pada bagian akhir cerita, perubahan yang diharapkan pun datang bersamaan dengan munculnya sang ksatria, si Ratu Adil, yang merebut kemenangan dari pemerkosa keadilan di ujung pagi. Frustasi yang dibangun pada permulaan cerita terjawab puas dengan munculnya sang surya membuka tabir hari baru. Para penonton usai, kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Sungguhpun begitu, apa yang mereka tonton semalam, atau pada malam-malam sebelumnya dan pada malam-malam sesudahnya itu lambat laun akan tertanam di dalam hati mereka sebagai nilai-nilai yang akan banyak mempengaruhi tingkah laku politik. Dengan lain perkataan, proses pendidikan atau sosialisasi politik mereka antara lain banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita wayang yang mereka tonton. Inilah yang turut mendukung dan menyuburkan apa yang disebut Mitologi Jawa, konsep kepercayaan atau pandangan hidup yang mempengaruhi tingkah laku masyarakat Jawa sehari-hari.

Baca Selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s