Soekarno, Ende dan Pancasila

“Endeh,  kampung  nelayan telah dipilih sebagai penjara  terbuka untukku yang ditentukan  gubernur  jenderal  sebagai tempat di mana aku menghabiskan sisa umurku.  Kampung    ini    mempunyai penduduk  5.000  kepala . Keadaannya masih terbelakang …
Dalam segala hal, Endeh  di  Pulau  Bunga yang terpencil Itu, bagiku menjadi ujung dunia.”  (Soekarno, 1965 )

 

Soekarno melukiskan perasaannya saat diasingkan ke Ende, Flores, itu dalam autubiografi yang disusun Cindy Adams (1965). Setelah mengarungi lautan selama delapan hari dari Surabaya, kapal Van Riebek yang membawa Soekarno dan keluarganya  membuang sauh di pelabuan Ende pada 14 Januari 1934. Dengan dikawal serdadu Belanda, Soekarno dan istri, Inggit Ganarsih, ibu mertua dan anak angkat Ratna Djuami, memasuki rumah tahanan di kampung Ambugaga, Ende.

Empat tahun pengasingan yang dihabiskan Soekarno di Ende, Flores barangkali termasuk masa kehidupannya yang paling bahagia atau paling tidak yang paling tenang, walaupun Soekarno sendiri mungkin tidak melihatnya demikian. Di Ende Soekarno mulai mengalami kehangatan hidup berkeluarga, juga menemukan bakat-bakat dan kemampuan-kemampuan baru dalam dirinya. Ia memperdalam pandangan religiusnya dan menciptakan Pancasila, yang sampai saat ini masih menjadi falsafah negara Indonesia.

Di samping segala kegembiraan dan kehangatan keluarga di Ambugaga itu, secara intelektual penduduk setempat terpisah jauh dari Soekarno. Dengan demikian maka Soekarno mencari stimulasi intelektual ketempat lain. Setelah selesai berkebun, membaca koran dan buku, maka terlkadang Soekarno pergi berjalan-jalan ke kompleks misi Katolik Roma, di sebelah timur kampung Ambugaga. Mula-mula Soekarno secara periodik menemui para pastor di situ kemudian hampir menjadi acara hariannya. Soekarno tidak menyangka bahwa mereka bisa mendapatkan topik percakapan standard intelektual yang bisa saling tarik menarik. Ia bersahabat dengan pastor G Huytink, J Bouman dan Bruder Lambertus.

Berhubungan dengan sekelompok pastor ini sempat mendebarkan berbagai pihak di Ende, karena musuh bebuyutan Soekarno adalah penjajah Belanda. Ternyata pilihan Soekarno itu baru dijatuhkan setelah ia tahu kalau sejumlah pastor itu sangat tidak setuju dengan penjajahan oleh bangsanya. Pastor ini bahkan sangat mendukung perjuangan Soekarno mengusir penjajah pemerintah Hindia Belanda.

Kendati hubungan yang terjalin antara Soekarno dan para pastor cukup hangat, Soekarno tidak menyuruh Ratna Djuami masuk pendidikan Katolik. Setelah berunding dengan Inggit Ganarsih maka diambil keputusan untuk mendatangkan seorang pemuda dari Sumatera, Asmara Hadi, yang dikenal Soekarno dari kursus-kursus yang diberikannya waktu masih di Partindo, khusus untuk mendidik putrinya ini, Asmara Hadi menjadi guru Ratna Djuami (Omi), mengajar Kartika membaca dan menulis. Dan sama seperti seperti Kartika, Riwu dan Bertha, menjadi anggota keluarga itu.

Pergaulan Soekarno dan para misionris Katolik Roma itu telah membuat  Soekarno mulai berpikir apakah umat Islam memiliki kemampuan untuk melakukan pengabdian semacam itu. Ketika itu ia masih diperkenakan melakukan korespondensi dengan teman-teman di luar Flores   Kemudian ia mulai belajar mendalami agama Islam. Bahwasanya selama mempelajari Islam secara intensif ia mengalami semacam pertobatan yang sudah hampir bisa diperkirakan sebelumnya, mengingat keterlibatannya yang karakteristik dalam masalah itu, serta kesepian lahir dan batin di Ende.

Sebagaimana kita ketahui ketika ia menjalani hukuman di penjara Sukamiskin ia mulai mempelajari Al-Quran secara sungguh-sungguh, untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Soekarno katakan. Hal itu dia lakukan terutama didorong oleh rasa putus asa, sehingga ia tidak banyak memperjatilan masalah fikih (hukum) Islam dan Ibudiyah atau ijtihad ( interprestasi )

Di samping membaca buku-buku dari perpustakaan missi, Soekarno juga mengisi waktu dengan berbagai aktivitas kreatif. Salah satunya adalah melukis. Setelah mengikuti pelajaran menggambar pada Wolf Shoemaker sebagai mahasiswa di Bandung, Soekarno tidak pernah berlatih menggambar. Di Endeh, dia mempunyai banyak waktu. Ia mulai dengan sketsa pensil yang sederhana. lukisan-lukisan pemandangan dengan cat air dan setelah itu ia mulai melukis di atas kanvas. Salah satu lukisannya tersimpan di Situs Soekarno, yang menggambarkan adanya toleransi beragama.

Indonesia Merdeka. Soekarno menjadi Presiden RI pertama. Urusan politik memang menjadi prioritas. Namun, rasa cintanya kepada seni, terutama seni lukis, sungguh tak bisa ditinggalkan. Dan karena dirinya merasa tak mungkin jadi pelukis – meski sesungguhnya  ini cita-cita Soekarno sejak muda – ia mulai berkosentrasi jadi pengumpul lukisan.

Berkenan dengan dunia mengoleksi itu ia melihat Istana Kepresidenan bisa menjadi wahana. Soekarno memperlihatkan keinginannya agar Istana Kepresidenan tak sekadar menjadi rumah politik, tetapi rumah seni yang merefleksikan hati sebuah bangsa.

Soekarno juga memahat patung tokoh Bima setinggi manusia terbuat dari batu andesit. Soekarno sangat mengagumi sifat kesetiaan Bima yang juga disebut Werkudara, tokoh Pandawa yang dalam epik Mahabharata  berhasil memenangkan perang Baratayuda. Tokoh Bima bagi Soekarno adalah lambang kejantanan, kejujuran, dan kesucian. Ketika masih menjadi siswa HBS di Surabaya, Soekarno menulis di Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima.

Kegiatan lain yang ditekuni Soekarno adalah bercocok tanam. Pekarangan luas di belakang rumahnya, ia oleh menjadi kebun sayur-mayur. Dengan petunjuk ibu mertuanya, ia menanam sayur-sayuran daerah Priangan, yang tidak dikenal di Flores seperti kubis, kacang panjang dan buncis. Nama Soekarno kemudian dikenal sebagai ahli pertanian.

Baca Selanjutnya…..

 

2 pemikiran pada “Soekarno, Ende dan Pancasila

  1. Dear Pak Peter Kasenda,

    Perkenalkan nama saya danandaka mumpuni (danan).
    Saya mahasiswa S2 Universitas Leiden, Belanda.
    Saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisan bapak tentang Sukarno. Saya saat ini juga sedang melakukan penelitian tentang perjalanan sejarah Sukarno khususnya ketika ia diasingkan di Ende. Pada masa itu adalah masa krusial bagi Bung Karno karena di sanalah dia merumuskan draft pertama pancasila. Saya merasa ada bagian sejarah yang kurang (tapi sangat penting) dari proses penting tersebut, yaitu pengaruh para misionaris di Ende dalam proses pembentukan ideologi pancasila khususnya ideologi “Keadilan Sosial”.
    Saya berharap dapat berkorespondensi dengan Bapak Peter mengenai biografi Sukarno berkenaan dengan hal tersebut. Saya mencantumkan email dan nomor Wa saya pada kolom email dan nama.

    Atas perhatian Bapak Peter saya ucapkan terimakasih.

    Salam hormat,

    Danandaka Mumpuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s