Partai Komunis Indonesia: Ketika Nasionalisme Mendahului Kelas

Meskipun PKI sekarang  sudah diserak-serakan,   aku tetap berkeyakinan kuat kalau  hanya  waktu,  dan   dalam  proses sejarah  itu sendiri,  kalau PKI pada akhirnya   akan bangkit lagi, karena PKI selamanya anak zaman, dilahirkan ke dunia  oleh  zaman itu sendiri…Meski banyak kesulitan dan penderitaan, PKI akan   menemukan  kembali  jalannya   untuk  naik jauh lebih segar ketimbang kami   berlima.       Mereka    akan   membikin   kegagalan  kami  ini  ibu  bagi kemenangan mereka.. .
Oleh  karena terus  diburu,  ditakuti-takuti  peluru  musuh, dia (PKI)   sekarang tiarap  serendah-rendahnya.  Akan  tetapi,  pada  akhirnya  ia  akan  merangkak balik dengan tangan dan lututnya untuk menangkap dan menghancurkan musuh Rakyat yang sesungguhnya : kaum imperialis, para tuan tanah dan kelompok-kelompok garis keras lain di negeri ini.  (Sudisman, 1967 )

Pada tanggal 23 Mei 1965, Stadion Gelora Bung Karno dibanjiri manusia. Puluhan ribu orang memadati tribun yang mengelilingi stadion, sementara ribuan manusia lagi berdiri di lapangan yang terhampar di bawah. Di luar, di lapangan parkir dan kalan-jalan di sekitar lebih dari 100.000 orang saling berdesak-desakan. Sungguh-sungguh seperti lautan manusia. Itulah peristiwa peringatan ulang tahun ke-45 berdirinya PKI. Untuk memberi kesempatan lebih banyak orang berkumpul di sekitar stadion dan mencegah kemacetan lalulintas, partai menghalangi niat pengendara mobil lewat kawasan itu. Dengan membawa bingkisan kecil makanan dari rumah untuk makan siang, orang berjalan kaki masuk kota dari desa-desa yang jauh. Bendera-bendera merah dan baliho-baliho raksasa dengan potret-potret pahlawan partai, seperti Karl Marx dan V.I. Lenin, berderet di jalan-jalan ibu kota. Mereka yang berbaris memasuki stadion dalam wacana popular mendapat julukan “semut merah” : banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan diri tapi militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Prajurit semut merah ini, di mata Soekarno, merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Ia menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme dan semangat perjuangannya melawan kekuatan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. PKI dengan caranya telah menunjukkan apa yang sudah menjadi dugaan banyak orang di Indonesia, bahwa partai ini merupakan partai politik yang paling besar dan paling terorganisasi dengan baik di Indonesia. Tidak ada partai politik lain yang bisa berharap untuk mengorganisasi rapat raksasa sebesar itu. Tampaknya perayaan peringatan itu merupakan yang paling mewah yang pernah diselenggarakan partai politik di sini.  PKI memiliki kombinasi yang langkah antara kecukupan dana, keanggotaan yang luas, dan dukungan presiden.

Sampai 1965, PKI telah tumbuh menjadi partai politik yang paling besar, tetapi ia tidak bisa memperoleh kekuasaan melalui kotak suara – tidak ada pemilu untuk bersaing. Jalan parlementer menuju kekuasaan telah ditutup sejak 1959 dengan adanya Delret 5 Juli 1959 dan tampaknya tidak akan pernah dibuka kembali. PKI juga tidak bisa memperoleh kekuasaan melalui peluru. Partai tidak mempunyai sayap bersenjata dan tidak berminat mengangkat senjata melawan pemerintah. Partai mendapat dukungan massa, tapi tidak beroleh kewenangan yang seimbang dalam pemerintahan Soekarno Kendati partai bekerja keras dalam kampanye konfrontasi mengganyang Malaysia pada 1963, pimpinan partai kesulitan memperoleh posisi di dalam kabinet. Pengaruh PKI di tingkat paling atas pemerintahan hampir tidak sepadan dengan pengaruhnya di kalangan masyarakat.

Partai Komunis Indonesia berjaya dalam sebuah periode yang didominasi oleh figure kharismatik Presiden Soekarno yang dipuja rakyat Indonesia dan mendapat perhatian dunia lantaran pidato-pidato anti-imperialismenya yang berapi-api.  Selama di bawah pemerintahan Soekarno dan perlindungannya, PKI menjadi partai Komunis bukan pemerintah terbesar di dunia, dan banyak orang di luar dan dalam Indonesia yakin periode tersebut akan menjadi batu pijak bagi langkah mereka selanjutnya menjadi partai yang berkuasa.  Oleh karena itulah, kebanyakan orang sontak terkejut ketika mendengar kalau hanya dalam semalam saja satu partai sebesar dan sekuat itu bisa dihancurkan di kubangan darah yang demikian besar dalam sejarah modern. Melalui gelombang episode kudeta pada 1 Oktober 1965, PKI disapu habis dari panggung politik Indonesia, dan tidak lama kemudian pelindungnya, Soekarno.

Tampaknya sejarah Komunisme di Indonesia seakan-akan ditakdirkan untuk konsisten dengan tragedi. Pada tiga periode berbeda, Partai Komunis Indonesia telah mengemuka dari sekadar partai pinggiran yang tidak mencolok menjadi partai terdepan dan menonjol dengan kecepatan begitu menakjubkan laksana “api sabana” membakar habis di musim panas – istilah Mao Tse Tung untuk menggambarkan kebangkitan gerakan petani di Cina Tengah pada 1925 – namun senantiasa kandas oleh percobaan kekerasaan.

PKI bangkit kemudian tumbang selama tida periode telah menyisahkan  pertanyaan dalam diri kita. Apakah PKI akan bangkit kembali, sejarah ke depan akan menyatakannya kepada kita, tetapi agaknya situasi internasional, terlebih lagi kondisi dalam negeri Indonesia menentangnya. Beberapa dekade terakhir, dunia tidak menguntungkan bagi Marxisme-Lenisisme. Uni Soviet telah menjadi sejarah masa lampau, sementara Cina menjadi teladan bagi perkembangan kapitalis dan bukannya sosialis. Kendati demikian, ada banyak masalah sosial besar yang diangkat PKI dan gerakan komunis secara keseluruhan, tidaklah hilang.

Klik Selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s