Pemuda dalam Lintasan Sejarah Kebangsaan

Dari Pergerakan Menuju NKRI

Berikan   saya   seribu   orang   tua,

saya   akan  memindahkan gunung

Berikan  saya  sepuluh  anak  muda,

saya  akan  mengguncangkan dunia

(Soekarno, 1931)

Pemuda punya tempat istimewa dalam narasi sejarah dan politik Indonesia  Sepertinya tidak ada peristiwa penting di negeri ini yang tidak melibatkan pemuda, mulai dari pembentukan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Agustus 1945. Mereka hadir sebagai kekuatan yang berjasa menyelamatkan negeri dari marahbahaya dan mengantar masyarakat ke gerbang kehidupan yang adil dan makmur.  Narasi seperti ini biasanya menguat di masa krisis ketika kekuatan-kekuatan sosial lain seperti buruh dan tani atau borjuasi dan kelas menengah tidak mampu mengendalikan keadaan.

Klaim tersebut tersebut tentu saja mengandung kebenaran. Dalam semua peristiwa politik yang disebutkan di atas peran pemuda memang sangat menonjol, jauh melampui kekuatan-kekuatan sosial lain, apalagi  partai politik. Namun. Orang kerap lupa bahwa keadaan itu tidak selalu direncanakan. Tidak semua pemuda ingin memenuhi “panggilan sejarah”. Keterlibatan dalam politik atau perjuangan bukan karena ada kualitas tertentu yang inherren dalam diri setiap pemuda, tapi karena situasi tertentu.  Bobot dan peran besar yang sering melekat  pada kata “ pemuda “ misalnya, “ pemuda harapan bangsa” – itu diberikan oleh pihak lain dan belum tentu meresap dalam kesadaran para pemuda sendiri. Mereka yang angkat  senajata melawan Belanda  mungkin punya mimpi sama sekali berbeda. Hanya keadaan yang mendorong mereka untuk bertempur, seperti tersua dalam beberapa cerita pendek Pramodya Ananta Toer tentang masa revolusi di Indonesia.

*****

Pada bulan Januari 1901 Ratu Wilhelmina mengumumkan di depan Parlemen program pemerintah Belanda yang baru saja terpilih. Pemerintah mengakui bahwa sementara di masa lalu banyak perusahaan dan orang-orang Belanda telah memperoleh keuntungan yang berlimpah-limpah dari Hindia Belanda, penduduk di tanah jajahan itu sendiri menjadi semakin miskin. Tujuan utama pemerintahan jajahan di masa mendatang ialah memperbaiki kesejahteraan rakyat.  Ratu Wilhelmina menambahkan bahwa bahwa bangsa Belanda “telah berhutang budi“ kepada rakyat Hindia Belanda. Dengan bernaung di bawah apa yang kemudian dikenal sebagai politik etis, pemerintah Hindia Belanda perlahan-lahan memperluas kesempatan bagi anak-anak Indonesia dari golongan atas untuk mengikuti Sekolah-sekolah Berbahasa Belanda tingkat dasar dan menengah. Sampai akhir Perang Dunia Pertama kebijaksanaan yang baru dalam bidang pendidikan tersebut menghasilkan lulusan yang jumlahnya semakin meningkat. Namun demikian, sampai saat itu fasilitas pendidikan tinggi di wilayah jajahan sedikit sekali dan tak satu pun menyediakan status professional secara penuh.

Hadirnya STOVIA dan berbagai lembaga pendidikan membuat kaum muda pribumi mendapat pendidikan Barat. Hasil pendidikan Barat ini membuat golongan priyayi yang menduduki kelasnya berdasatrkan tradisi terdesak golongan priyayi berkat pendidikan. Posisi seseorang ditentukan dari pencapaian, bukan lagi tergantung dari warisan.  Bahkan, jebolan STOVIA  pun masih bisa mendapat terhormat di pemerintahan.

Keadaan tak membuat rasa “aman“ terancam, guncangan batin pun  terjadilah, apalagi ditambah sutuasi kota yang selalu menjadi pusat kegaiatan.  Rasa tidak “aman” itu mendorong kaum priyayi mengelompok, mendirikan berbagai perkumpulan, organisasi, yang bertujuan memperbaiki diri dengan menggunakan konsep dan kategori pemikiran Barat dalam meneropong aneka masalah yang mereka hadapi. Boleh dikata, pada situasi itu pendidikan telah melahirkan perrgerakan.

Salah satu unsur penting dalam mitologi negara adalah “kebangkitan bangsa “ Indonesia di sini dibayangkan sebagai jiwa yang terlelap dan akhirnya bangkit dari tidur panjangnya pada awal abad ke-20. Momen kebangkitan ini adalah pembentukan Budi Utomo, organisasi priyayi Jawa yang juga disebut sebagai organisasi pribumi pertama di Hindia Belanda. Kunci kebangkitannya adalah pendidikan yang membuka mata kaum muda dan membuat mereka bisa mengenali diri dan sekelilingnya dengan cara pandang baru.

Menguatnya frasa “pemuda” dalam tataran politik di Hindia Belanda tahun 1920-an menunjukan kelekatannya sebagai dominasi kaum terpelajar yang mengisi dunia pergerakan setelah kehancuran gerakan komunis di Hindia Belanda. Pendek kata, pemuda adalah kata lain dari sifat terpelajar para pemimpin yang lahir dalam pentas pergerakan saat itu.

Klik Selanjutnya…..

Makalah ini dipresentasikan dalam kegiatan Forum Dialog Antar Generasi dengan Para Pelaku Sejarah mengenai Nilai-nilai Sejarah Kebangsaan di Kalangan Pelajar (SMA) – Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia –  pada 1 Maret 2013 di Hotel Golden Boutique, Jakarta Pusat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s