Inggit Ganarsih; Kemerdekaan, Romansa dan Tragedi

Inggit  Ganarsih adalah monumen perjuangan
yang  tak  mungkin dilupakan. Di saat bangsa
Indonesia terperangkap dalam kegelapan……
Inggit menjadi suluh penerang dalam kehidupan Bung Karno  

(Asmarahadi, 1992)

 

Soekarno meninggalkan banyak jejak. Di antara banyak kisah dalam hidup Soekarno yang senantiasa menarik perhatian adalah kehidupan asmaranya dengan sejumlah perempuan. Soekarno mencintai keindahan. termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Ia jatuh cinta kepada sejumlah perempuan. Daya tarik serta taraf intelektual yang tinggi menjadikan Soekarno seorang master dalam menaklukan hati perempuan. Soekarno pandai mencurahkan perhatiannnya secara utuh kepada setiap wanita yang dihadapinya sehingga wanita tersebut merasa ia satu-satunya yang paling dicintai. Dengan kepintara merayu, Soekarno mampu mengikat dalam ikatan pernikahan. Soekarno beristri banyak. Dari Oetrai Tjokroaminoto, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.  Beberapa perkawinan Soekarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri istri yang tetap mempertahankan  perkawinan mereka hingga Soekarno meninggal. Tanpa mengurangi perempuan lain dalam hidup Soekarno, tampaknya Inggit Ganarsih yang berada paling depan dalam memberi kontribusi dalam perjalanan hidup Soekarno. Inggit Ganarsih telah mengantar Soekarno sampai di gerbang kemerdekaan.

Inggit Ganarsih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kapubaten Bandung, Jawa Barat pada 17 Februari 1888. Ayahnya bernama Ardjipan dan ibunya bernama Amsi.  Kedua orangtua Inggit hanya orang desa biasa tanpa jabatan dan pangkat. Inggit mempunyai dua orang saudara, Natadisastra dan Murtasih. Ayahnya meninggal dunia ketika Inggit berusia 16 tahun. Pada tahun 1900, Inggit menikah dengan Kopral Residen Belanda, Nata Atmadja. Ketika itu Inggit berusia 12 tahun. Usia perkawinan hanya seumur jagung. Hanya empat tahun Inggit bertahan mengarugi  bahtera rumah tangga dengan Nata Atmadja yang sebenarnya tidak dicintainya. Pada tahun 1904 Inggit bercerai dengan Nata Atmadja. Tidak lama waktu berselang Inggit menikah dengan pemuda yang dicintai sejak sebelum menikah dengan Nata Atmadja.

Di zaman yang penuh dengan kesusahan, keadan rumah tangga Inggit bisa dikatakan berkecukupan. Sanusi adalah seorang pengusaha mebel. Di sisi lain, Inggit juga memegang  kendali ekonomi rumah tangga.  Dia bekerja dengan menjahit baju, kutang, meramu jamu dan menjual bedak. Jalinan rumah tangga yang bahagia tersebut lambat laun berubah. Sanusi menjadi “laki-laki malam“ Dia sering keluar malam untuk bermain biliar. Kondisi makin bertambah sejak kedatangan Soekarno pada 1921. untuk indekost dalam rangka melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teknik Bandung (Teschnische Hoogeschool) bersama istrinya, Siti Utari Tjokroaminoto.  Sebenarnya perkawinan Soekarno pada saat itu adalah kawin gantung. Dalam pandangan masyarakat Jawa, kawin gantung, dilakukan karena dua sebab. Pertama, kedua mempelai masih terlalu muda sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan jamnaiah. Kedua mempelai laki-laki belum dapat membelanjai istri.

Hari-hari Soekarno yang padat dengan kuliah dan kegiatan politik semakin menjauhkan Oetari dari kehidupannya. Setiap malam, Soekarno bergelut pemikiran dengan para pemuda. Kegiatan politik yang meldak-ledak dalam pikirannya itulah yang menyebakan Soekarno tak lagi menganggap penting kehadiran Oetari. Oetari sama sekali tak bisa mengerti alur dan jalan pikirannya, Kondisi itulah menyebabkan Soekarno sering menjadikan Inggit sebagai pelarian.

Di sisi lain, kedekatan Soekarno dengan Inggit ternyata menjadikan api cemburu Oetari melonjak naik.  Meskipun dian tanpa suara. Oetari merasa marah ketika nyonya rumah menemani suaminya dalam malam-malam sepi di kala suaminya tak ada dirumah. Oetari hanya geram, tapi siapa dapat menjadi pelabuhan  untuk mengungkapn isi hatinya.

Terdengar kabar tidak menyenangkan – Tjokroaminoto ditangkap Belanda atas tuduhan melakukan hasutan kepada masyarakat untuk memberontak. Soekarno yang begitu terpukul dengan kejadian ini. Untuk membantu penderitaan mertuanya, ia bergegas menuju Surabaya. Sementara itu Oetari tinggal di Bandung bersama Inggit. Pada saat itu Oetari sedang melanjutkan sekolah.

Sebenarnya Inggit yang jelas terpikat pada Soekarno yang mondok di rumahnya itu, menasehatinya agar Soekarno tidak memutuskan secara terburu-buru meninggalkan ke Bandung dan pergi ke Surabaya  untuk membantu rumah tangga Plamitan. Ia mengingatkan Soekarno tentang kepergian yang tidak pasti jangka waktunya itu akan dapat mengganggu srudinya di THS . Ia juga menekankan bahwa istri baru Tjokroaminoto Roestina pun tidak memintannya untuk datang ke Surabaya untuk membantu keluarganya.

Demikian pula Rektor THS Prof. Ir J Klopper telah memperingatkan Soekarno bahwa kepulangannya ke Surabaya mungkin sekali akan merusak studi untuk selamanya. Soekarno menyadari bahwa ia selalu mendapatkan bantuan dari keluarga Tjokroaminoto, kini tiba gilirannya untuk membalas budi itu dengan membantu para iparnya yang kini memerlukan dirinya. Dengan meletakkan kesetian kepada Tjokroaminoto serta rumah tangga di Plamitan Surabaya di atas kepentingan ambisi studinya maka Soekarno kembali ke Surabaya. Kemudian Soekarno mendapat pekerjaan sebagai pegawai kereta api dan keluarga Tjokroaminoto dengan penghasilan yang tidak banyak.

Klik selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s