Kami dan Mereka dalam Negeri Seribu Konflik

Dengan memperhatikan riwayat politik lahirnya frasa pemuda dalam sejarah pergerakan Indonesia, kita bisa memahami bagaimana makna pemuda itu kini menjadi bagian lekat dalam imajinasi politik di Indonesia. Imajinasi ini pun memiliki ritual khusus melalui hari peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menjadi salah satu hari besar dalam kalender nasional Indonesia, menempati posisi kedua setelah hari peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Bagaimanapun juga, dalam tataran sejarah. arti penting persitiwa Sumpah Pemuda 1928 tidak serta-merta muncul saat para pemuda menjalankan kongres di Batavia. Ia harus menunggu beberapa dekade kemudian setelah kemerdekaan Indonesia sampai pertengahan dasawarsa 1950-an ketika Soekarno dan Muhammad Yamin “membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi bangsa dan negara” dan “diyakini sebagai momen diketemukannya identitas nasional dan bangsa.“ Harian Merdeka pada hari peringatan Sumpah Pemuda tahun 1958, misalnya, mewartakan “tidak pernah terjadi sebelumnya bahwa sumpah dari masyarakat Indonesia, dikenal dengan Sumpah Pemuda saat kelahirannya, dirayakan begitu bersemangat seperti yang tampak hari ini.” Gelombang separatisme daerah byang secara beruntun terjadi di Indonesia padadasawarsa tersebut menjadi alasan penting yang menjadikan peristiwa Sumpah Pemuda sejak pukul 08.00 pagu diperingati di kantor-kantor pemerintahan, pabrik-pabrik, kantor kelurahan dan berpuncak di Istana Kepresidenan sebagaimana dilaporkan harian Merdeka. Jadi, sebagai ritus, ia merupakan sebuah produk sejarah khusus yang terjadi di luar ketika momen peristiwa terjadi.

 ******

Pertama-tama kita harus menerima kenyataan bahwa nama bangsa kita, nasion kita, bukan warisan nenek moyang kita atau ciptaan kita sendiri, melainkan ciptaan orang asing. Sebelum nama Indonesia dicipta, tidak ada nama pribumi yang mengacu pada keseluruhan pulau kita, meskipun kebanyakan pulau masing-masing mempunyai nama tersendiri. Pada masa kejayaan kerajaan Majapahit, ada digunakan nama “Nusantara” akan tetapi nama Nusantara mengacu pada sekalian pulau di kepulauan kita di luar pula Jawa, jadi tidak termasuk pulau Jawa sendiri.

Nama “ Indonesia“ diciptakan oleh seorang yang bernama James Ricardson Logan, seorang antropolog berkebangsaan Inggris.  Logan, yang mengkaji penduduk dan kebudayaan-kebudayaan yang terbentang luas antara benua Asia dan benua Australia serta antara lautan Hindia dan lautan Teduh, menghadapi masalah dalam menulis tentang penduduk dan kebudayaan di kepulauan ini sasaran perhatian ilmiahnya. Pada waktu itu tidak ada nama yang melambangkan keseluruhan kepulauan ini, penduduknya maupun kebudayaan. Melalui suatu majalah keilmuan  yang terbit di Singapoera pada tahun 1850, Logan mengusulkan agar kepulauan ini, serta penduduk dan kebudayaannya, dinamakan “ Indonesia “. Ia mencantumkan sebagai kutipan artikel dalam sebuah majalah keilmuan.

Pada tahun 1883, seorang ahli antropologi Jerman, Adolf Bastian, memperkenalkan nama Indonesia melalui judul seperangkat buku.  Karena nama “Indonesia” ditampilkan sebagai judul buku, jauh lebih banyak orang  yang memperhatikan nama “Indonesia”  Nama “Indonesia“ kemudian  beredar dikalangan ahli ilmu pengetahuan Eropa yang mengkaji bangsa-bangsa dan kebudayaan di kawasan tanah air kita.

 

Klik selanjutnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s