Indonesia: Sebuah Proyek Bersama

Meskipun “ bangsa “ dibangun oleh anggota-anggota yang konkret, tetapi ia hanya mungkin ada di dalam wujud yang abstrak. Bangsa adalah sesuatu yang ada di dalam pikiran setiap orang ketika ia “mengimajinasikan“ keberadaan dirinya dalam kaitannya dengan diri orang lain di dalam sebuah wilayah negara. “Bangsa”, sebagaimana dikatakan Benedict Anderson di dalam Imagined Community, adalah komunitas terimajinasikan, karena para anggotanya tidak seluruhnya saling kenal, bertemu dan bertatap muka. Meskipun demikian .”… di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka  Hidup dalam imajinasi kebersamaan di dalam sebuah wilayah itulah esensi dari sebuah bangsa.

Bangsa yang kita sebut sebagai bangsa Indonesia sendiri, tentu saja bukan sebuah bangsa yang sudah ada sejak dahulu. Pembentukan bangsa Indonesia sebagai reaksi dari kolonialisme Belanda di Nusantara. Dalam konteks Indonesia, negara (dalam hal ini, negara kolonial) ada lebih dulu, menyusul terjadinya kesadaran nasional sekaligus pembentukan sebuah bangsa yang bersatu sebagai reaksi terhadap keberadaan negara kolonial) yang asing.  Jadi, sejak awal pembentukan Indonesia bukanlah perwujudan suatu “nation-state”, melainkan “state-nation”. Dalam hal ini, bangsa Indonesia adalah, memijam istilah Benedict Anderson – sebuah proyek bersama.

Sebagai bangsa, kita perlu menengok ke belakang dan melakukan refleksi diri. Melihat proses sosial-politik yang telah terjadi sejak kemerdekaan, kita memang perlu khawatir terhadap pembinaan solidaritas emosional yang telah terabaikan selama ini. Dialog antar generasi tersumbat. Yang ada, lebih  pada komunikasi satu arah yang menempatkan generasi muda sekedar pewaris nilai-nilai (yang dianggap) luhur dari generasi tua, tanpa sempat memberikan ruang yang leih luas pada generasi muda untuk mendefinisikan sendiri nilai-nilai yang dianggap baik bagi generasinya. Akibatnya rasa persatuan dan kebersamaan dalam konteks-baru tidak tumbuh sehat. Ada kesenjangan antargenerasi dalam memahami nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan.

Karena itu kini saatnya kita menyadari kembali bahwa bangsa ini adalah bangsa yang terbangun dari hasil serangkaian interaksi panjang, yang melibatkan ratusan etnis, dengan ratusan bahasa yang berbeda, dan menempati wilayah lebih dari 17.000 pulau. Bangsa ini terbentuk sebagai hasil dialog intensif dari hampir seluruh agama-agama besar dunia serta agama-agama lokal di wilayah Nusantara. Bangsa ini terbangun dari jutaan manusia yang merasakan kepedihan sama di bawah penindasan penjajah yang berlangsung ratusan tahun lamanya. Karena itu tumbuhnya rasa solidaritas kebersamaan sebagai akibat kesamaan tantangan, kebulatan semangat dan tekad untuk membangun kehidupan yang layak di alam merdeka, yang terbebas daro dominasi kekuasaan penjajah, harus terus dipupuk. Keseluruhan faktor yang tergabung inilah yang merupakan modal sosial, yang menjadi fondasi kokoh bagi terbentuknya sebuah Indonesia.

Atas dasar modal sosial ini para pendiri bangsa meramu dan mengembangkan fondasi bangsa ini. Sejarah mencatat banyak pemimpin negeri ini di awal kemerdekaan yang secara cerdas telah menunjukkan arah perjalanan bangsa dengan memberikan semangat, inspirasi dan visi arah pembangunan bangsa. Namun kini apa yang telah terjadi dengan seluruh cita-cita luhur dan modal sosial yang telah kita miliki bersama ? Tampaknya dalam perjalanan selama ini, terlalu banyak elemen bangsa, sadar atau tidak telah banyak yang mengkhianati cita-cita luhur dan menyia-nyiakan modal sosial yang telah dicoba dibangun dengan susah payah.

Persoalan nation dan character building kembali menjadi perhatian utama kita sekarang ini. Sejak berdirinya republik ini para pendiri bangsa tak henti-henti mengingatkan kita bahwa proses nation dan character building menjadi agenda penting yang tak boleh berhenti dikembangkan. Soekarno, misalnya  sejak awal telah berbicara tentang pentingnya membangun rasa kebangsaan. Ia selalu berupaya membangkitkan sentimen nasionalisme yang ia maknai sebagai menumbuhkan “suatu itikad, suatu keinsyafaan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, (yaitu) satu bangsa”.

 

Baca Selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s