Soetomo, Etnosentrisme dan Natiosentrisme

Kewajibannya kaum intelektual kita, yaitu menjaga
supaya   rakyat  menaruh  kepercayaan kepada kita,
sehingga   dengan   kepercayaan   ini   mereka   lalu
berdiri  dibelakang   kita .  Buat ini haruslah dijaga
dengan   tak   pandang   susah payah  dan  kerugian
sehingga      pergerakan    vak   itu   menjadi   suatu
kenyataan   dari   pada  suatu organisasi yang kuat,
yang tidak dapat dibinasakan pula.

(Soetomo)

 

Sebelum tahun 1945 tak pernah ada Indonesia, yang ada hanyalah sekumpulan pulau yang menbentang di garis Khatulistiwa yang oleh Belanda disatukan ke dalam Hindia  (the Netherland East Indies). Pada tahun 1898 seorang ratu baru Wilhelmina naik ke tahta Kerajaan Belanda. Imperium Khatulistiwa Wilhelmina, hanya dikenal sebagai Indies, saat itu berpenduduk lebih dari 28 juta orang di pulau Jawa dan sekitar 7 juta lainnya di daerah yang dulu disebut Pulau-pulau Luar (Outer Island), meskipun belum semua pulau ini dikuasai oleh Belanda. Walau ia berkuasa sampai dengan akhir masa kolonial. Wilhelmina tak pernah mengunjungi koloninya. Ia tak pernah melihat derasnya musim penghujan, hamparan permadani hijau di kaki gunung berapi, atau panas yang menyengat, namun setiap ia berulang tahun, perayaan besar digelar di negeri itu, lengkap dengan pasar malam dan gapura-gapura plengkung.

Untuk menciptakan sebuah koloni modern para abdi setia Wihelmina harus menyelesaikan penaklukan yang telah dimulai saat nenek moyang mendirikan kota pelabuhan Batavia di ujung pulau Jawa pada tahun 1619. Penting bagi Indonesia sebagai sebuah koloni tak terencana bahwa Batavia didirikan atas pertimbangan bisnis, bukan karena semangat ekspansionisme bangsa Belanda. Orang-orang Belanda abad ketujuh belas yang merancang koloni adalah para investor perusahaan multinasional pertama di dunia Vereenigde Oost-Indische Compagnie Batavia menjadi pusat-pusat jaringan perdagangan Asia perusahaan ini.

Selama 200 tahun berikutnya, Kompeni memperoleh penaklukan-penaklukan tambahan sebagai pangkalan perdagangan, dan membentengi kepentingan mereka dengan secara bertahap mengambil-alih daerah-daerah sekitarnya. Pada tahun 1800 Kompeni telah mulai mengendor, tetapi orang-orang Belanda telah menguasai sebagian besar Jawa, sebagian besar pulau Sumatera, pulau-pulau rempah-rempah Maluku yang legendaris, dan daerah-daerah-daerah pedalaman dari berbagai pelabuhan yang telah mereka kuasai, seperti Makasar di pulau Sulawesi dan Kupang di Pulau Timor.

Pada akhir abad kesembilan belas, teknologi kapal uap dan pembukaan Terusan Zues memperpendek waktu perjalanan dari Eropa, dan munculnya sikap-sikap ekspansionis. Belanda, yang bernostalgia dengan kejayaannya sebagai salah satu adidaya perdagangan dunia pada abad ketujuh belas, bergabung dalam kompetisi imperium yang tengah mendominasi mentalitas Eropa.  Meskipun ada klaim bahwa pemerintah Belanda tidak memiliki kebijakan agresi, tetapi hanya kebijakan imperialisme setengah hati, mulai dari tahun 1870-an dan seterusnya Belanda terlihat dalam serangkaian perang untuk memperbesar dan mengukuhkan kepemlikan mereka.

Usaha habis-habisan yang dilakukan Belanda untuk membangun imperium dimulai dengan upaya penaklukan kesultanan Aceh yang kuat dan mandiri. Nama Aceh juga berlumuran darah pada abad kesembilan belas. Perancis, Inggris, Belanda, semuanya berusaha mengukuhkan kekuasaan mereka di Aia Tenggara, dan tergiur dengan kekayaan alam yang ditawarkan Aceh, khususnya lada dan minyak. Pada tahun 1873 Belanda menyerang Aceh, dengan tak terlalu menyadari bahwa ia kelak memerlukan tiga puluh tahun lamanya untuk menaklukan Aceh. Pada tahun 1909, Belanda telah berhasil mendirikan sebuah wilayah yang terintegrasi melalui penaklukan-penaklukan ( Adrian Vickers, 2011 :  13 – 21 )

Hal yang mendasari perubahan yang mulai terjadi di Indonesia pada awal abad ke-20 adalah kebijakan kolonial baru yang dikeluarkan.  Pemerintah Belanda pada 1901, yaitu Politik Etis. Motivasi dari kebijakan ini adalah gabungan antara keprihatinan terhadap menurunnya kesejahteraan orang Jawa dan keinginan eksportir barang manufaktur Belanda untuk meningkatkan daya beli masyarakat besar yang berpotensi sebagai konsumen pasar. Praktek kebijakan ini berlangsung sama di seluruh daerah, yaitu memperdalam intervensi pemerintah untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan dan produktivitas, serta untuk membuka jalan bagi masyarakat lokal untuk terjun dalam bidamg politik. Lebih banyak sekolah, pusat kesehatan, kebebasan berpolitik dan dewan perwakilan adalah sejumlah tanda yang paling nyata atas Politrik Etis yang diterapkan di kota-kota Indonesia seperti Batavia.

Baca Selanjutnya…..

Satu pemikiran pada “Soetomo, Etnosentrisme dan Natiosentrisme

  1. Ping balik: Soetomo, Etnosentrisme dan Natiosentrisme | n13n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s