Hidup Bersama: Sebuah Catatan

Di Indonesia, wacana etnisitas sesudah kemerdekaan mengalami proses rekonstruksi sejalan dengan semakin dominannya negara terhadap masyarakat. Perkembangan seperti ini tidaklah khas Indonesia karena merupakan pengalaman yang umumnya ditemukan pada negara-negara bekas jajahan. Paling tidak ada ada dua kekuatan utama yang bermain di belakang negara-negara pasca kolonial dalam proses rekonstruksi wacana etnisitas. Pertama adalah obsesi yang berlebih-lebihan dari para elit yang berkuasa setelah kemerdekaan terhadap ide atau konsep integrasi nasional. Pengalaman masa lalu sangat berperan terhadap berkembangnya obsesi tentang pentingnya integrasi nasional ini. Para elite politik menanggap bahwa integrasi nasional merupakan tujuan sekaligus syarat pokok bagi tegaknya negara Kedua adalah dorongan untuk mengejar ketinggalan dari negara-negara barat melalui berbagai upaya untuk memodernisasi diri, baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial. Dorongan untuk mewujudkan, disatu pihak integrasi nasional, dan dipihak lain modernisasi pembangunamn, telah menjadikan negara menjadi pemegang kekuasaan politik utama dan dengan demikian telah memonopoli arah perkembangan masyarakat. Para pemimpin negara pasca kolonial, yang lahir dengan semangat kolonial, tanpa disadari sesungguhnya telah mereplikasi bentuk dan isi negara kolonial yang telah ditentangnya.

Implikasi yang tak terhindarkan dari obsesi yang berlebih-lebihan terhadap integrasi nasional dan keinginan untuk memodernisasi diri adalah menguatnya anggapan bahwa perbedaan dan keragaman etnik, dan secara lebih luas kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai kelompok masyarakat  sebagai sesuatu yang menghambat tercapainya tujuan-tujuan nasional, terutama persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan dan keseragaman harus dieliminasi agar persatuan dan kesatuan yang dibayangkan dapat diwujudkan. Asimilasi dan harmoni adalah kata kunci yang harus diterjemahkan dalam berbagai bentuk kebijakan dan program pemerintah  yang sasaran akhirnya adalah terciptanya integrasi nasional.

Masyarakat yang terdiri dari banyak etnis  merupakan tantangan bagi negara. Kelompok-kelompok etnis kadang bisa mencapai kompromi yang menjamin pemerintahan stabil. Secara berkala mereka berunding, bersaing, atau menegaskan kembali representasi mereka dalam negara, akses mereka terhadap sumber daya dan posisi-posisi, status mereka, dan hubungan mereka dengan kelompok-kelompok lain. Lembaga-lembaga politik bisa dimodifikasi untuk mengakomodasi tuntutan-tuntutan ini dan mencapai kompromi-kompro0mi baru. Akan tetapi, kerap pula perundingan dan kompromi-kompromi macet dan kekerasan pun menggantikannya. Kadang kala, konflik di antara kelompok etnis memang bersifat epidemis.

Keragaman etnisitas dalam dirinya sendiri bukanlah sumber konflik. Banyak kelompok etnis yang hidup berdampingan tanda ada pertikaian satu sama lain. Bahkan dalam masyarakat, seperti Indonesia, di mana kekerasan etnis telah melibatkan banyak kelompok, sebagian besar tetap menjaga hubungan yang damai. Suatu perpaduan faktor yang kompleks seperti insentif dan ancaman kelembagaan, kepentingan elit, dan kebijakan negara membentuk politisasi dan memobilisasi identitas etnis.  Meskipun kelompok-kelompok mengindentifikasi dirinya dalam kaitan etnis dan membedakan dirinya dari kelompok lain dengan menggunakan pertanda etnis seperti bahasa, agama, atau ras, perbedaan-perbedaan ini bukanlah sumber konflik. Alih-alih, kekesalan yang muncul dari status kelompok yang berbeda, diskriminasi, pengucilan, ataupun pembedaan akses terhadap representasi politik atau sumber daya ekonomi merupakan faktor yang lebih masuk akal sebagai penyebab kekerasan.

Baca Selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s