Wisata Sejarah; Peristiwa 30 September 1965

Gelora Bung Karno

Pada hari Kamis Malam, tanggal 30 September 1965, Presiden Soekarno menghadiri  dan berpidato di depan perserta Munastek di Istora Gelora Bung Karno. Malam itu, Presiden Soekarno didampingi istrinya, Haryatie, ajudan Presiden Kolonel KKO Bambang Widjanarko, dan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, bertugas memimpin pengamanan di Istora Senayan dan sekitarnya.

Di dalam pidatonya, Presiden Soekarno berbicara mengenai keinginan agar anak-anaknya menjadi benih-benih sosialisme masa depan. Soekarno beranggapan, kekuatan sosialisme dapat mengikar kuat melalui pembangunan dalam bidang pertanian. Sektor ekonomi, inilah yang sejak bertahun-tahun menjadi sandaran kaum petani, kelompok masyarakat yang mendominasi Indonesia, benih lahirnya Marhaenisme. Lebih dalam, pada pidato yang sama, Soekarno juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menanamkan apa yang ia sebut sebagai dedication of life. Dedikasi ini tidak lain dibangun atas prinsip sosialisme yang anti penindasan. Soekarno mengajak masyarakat untuk bersama membangun bangsa Indonesia, membawa ke arah kemakmuran. Untuk mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Soekarno membutuhkan kekuataan massa, dukungan rakyat dan kekuatan pemerintah.

Istana

Acara yang dimulai pada pukul 190.00 WIB itu berakhir sekitar pukul 23.00  WIB Presiden Soekarno pun, setelah berpisah dengan Haryatie, kembali ke istana. Setibanya di Istana Merdeka, rombongan pengawal membubarkan diri. Kolonel CPM Maulwi Saelan kembali ke rumahnya di Jalan Birah I No 81 Kebayoran Baru. Demikian juga, Kolonel Bambang Widjanarko yang keesoklan harinya harus mengikuti peringatan Hari Ulang Tahun ke-20- Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Lapangan Parkir Timur Gelora Bung Karno  sebagai Inspektur Jenderal.

Wisma Yaso

Presiden Soekarno sendiri berganti pakaian dengan pakaian biasa, dan kemudian secara encognito pergi menjemput Dewi yang saat itu menghadiri resepsi di Hotel Indonesia. Dewi pada malam itu dijamu oleh Dutabesar Iran untuk Indonesia. Presiden Soekarno dikawal oleh Dinas Khusus Destasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dipimpin oleh Inspektur Polisi II Zulkifli  Ibrahim. Komandan DKP Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo ikut serta. Bertindak sebagai pengemudi mobil Presiden Soeharto Soeparto, Kepala Kendaraan Istana, yang berpangkat Mayor Tituler Angkatan Darat. Di samping Soeparto (di kursi penumpang depan) duduk anggota DKP Inspektur Polisi I Sudarso.

Sesampainya di Hotel Indonesia, rombongan Presiden segera memasuki areal parkir berhenti di sana, dan menunggu di kegelapan malam. Soeparto kemudian turun dari mobil dan menjemput Dewi yang waktu itu dikawal oleh Ajun Inspektur Polisi II Sudibyo, anggota DKP. Soekarno sempat jengkel karena ia harus menunggu agak lama di dalam mobil. Setelah Dewi memasuki mobil, rombongan berangkat ke kediamannya di Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto.

Baca Selanjutnya…..

Satu pemikiran pada “Wisata Sejarah; Peristiwa 30 September 1965

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s