Persatuan Nasional dalam Sejarah Indonesia

Pusat perhatian alam pemikiran Soekarno sebenarnya bemuara pada persatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam atau majemuk sebagai prasyaratan mutlak untuk memerdekakan dan membangun diri. Oleh karena itu pemikirannya boleh dikatakan selalu terarah kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup atau ideologi bersama yang bisa dipakai sebagai tali pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk ke dalam satu bangsa yang betul-betul bersatu. (Alfian, 1982 : 84 ) Kecenderungan Soekarno yang sudah mendarah daging untuk menggabungkan, mensitesakan, dan melebur aliran-aliran dan kelompok–kelompok yang berbeda, dan yang bahkan   saling berlawanan, menjadi satu kesatuan yang semua bikinannya sendiri. Kecenderungan seperti itu dimaksudkan untuk menghindari konflik, hasrat yang begitu kuat untuk mengembalikan hal-hal yang saling bertentangan kepada suatu dasar bersama, sudah melekat dengan kuat pada cara berpikir Jawa. ( Harry J Benda, 1987 : xl )

Ia menumpahkan perhatian sepenuhnya untuk menekankan kepentingan bersama sebagai hal yang paling pokok di antara berbagai aliran pendirian dalam pemikiran kaum nasionalis. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki Indonesia dalam berhadapan dengan Belanda adalah kelebihan dalam jumlah penduduk, tetapi penggunaan dari kelebihan ini tergantung pada persatuan nasional. Dengan demikian, kesetiakawanan hanya merupakan sebagian jawaban terhadap tindakan Belanda yang memainkan perbedaan-perbedaan dalam masyarakat Indonesia dengan menjalankan politik devide et impera-nya. Tetapi pendekatan Soekarno juga mengandung nilai-nilai Jawa yang umum mengenai toleransi dan harmoni, yaitu keyakinan mencapai kesepakatan dengan musyawarah. Islam terutana dirasakannya dapat menjadi penghalang pokok untuk mencapai kesepakatan, dan sebagian seruannya untuk persatuan nasional ini lebih ditujukan kepada golongan ini. Dalam tradisi abangan yang sesungguhnya, Soekarno memandang Islam itu tidak sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana mestinya, seperti yang diinginkannya – satu bagian dari totalitas Indonesia yang dipersatukan.  Pandangan yang demikian tentu berlawanan dengan kaum Islam santri yang mempertahankan kemurnian agama. Meskipun demikian, adalah penting bagi pemimpin seperti Soekarno untuk berbuat seolah-olah jurang itu tidak begitu dalam dan tetap mempertahankan kemungkinan suatu sintesis dalam aliran-aliran pemikiran.( John D Legge, 1985 : 120 – 121 )

Menjelang tahun 1920-an aliran-aliran itu mudah dikenali satu sama lain, dan meskipun sering kali diselimuti dengan persekutuan-persekutuan atau pengelompokan kembali, aliran-aliran itu tetap hidup untuk mengganggu persatuan persekutuan politik dalam Indonesia Merdeka. Beberapa alur perpecahan potensial mungkin dapat dikenali. Beberapa di antaranya timbul dari keragaman etnik kepulauan Indonesia dan dari keanekaragaman kebudayaan yang menyertainya. Yang lain tumbuh dari perbedaan-perbedaan agama – antara kaum Muslimin, golongan Islam statistik dan hukum Islam, atau konflik lama dan yang masih berlanjut antara Islam dan adat. Sekali lagi, di dalam dunia Islam sendiri terdapat ketegangan antara golongan reformis dan modernis di satu pihak, dan di lain pihak golongan ulama konservatif, yang mempunyai akar yang sama kuatnya di dalam tradisi adat yang lebih tua maupun di dalam Islam sendiri.

Beberapa alur dari perpecahan ini saling tumpang tindih. Yang terutama mempunyai arti penting dalam gambaran etnis, agama dan keanekaragaman budaya itu ialah kedudukan orang Jawa yang khas sebagai satu kelompok etnis tunggal yang besar, yang merupakan kebih dari separuh penduduk Indonesia. Di samping itu ialah kekuatan kebudayaan tradisional Jawa, kepercayaan-kepercayaan animistis pedesaan yang diselubungi oleh peradaban Hindu-Budha, dan kenyataan perembesan Islam yang boleh dikatakan hanya terjadi pada lapisan luar masyarakat itu, dan kita dapat melihat suatu jurang yang istimewa dalamnya membelah bangsa itu  Ketegangan antara santri dan abangan dalam masyarakat Jawa, sebagaimana kita lihat, merupakan perpecahan yang penting, namun yang lebih penting ialah oposisi umum antara orang-orang Jawa sebagai keseluruhan dan suku-suku bangsa Indonesia lainnya.

Di samping itu watak khusus pandangan dunia orang Jawa dengan mistimismenya, kecenderungannya untuk melihat kediriannya lebih mendalam dan membandingkannya dengan bebagai perilaku masyarakat lain yang mempunyai kepentingan di bidang maritim dan perdagangan selama berabad-abad, yang lebih mudah menerima Islam dan lebih aktif dalam wiraswasta, maka nampak jurang perbedaan itu kian bertambah dalam. Sementara itu masih terdapat kenyataan tentang penetrasi Belanda di Jawa selama lebih besar dari tiga abad. Seorang pengamat mencoba membuat generalisasi ada perbedaan ini dalam kesimpulan yang jernih; sebagai suatu oposisi antara dua kebudayaan politik utama – aristokrasi Jawa dan kewiraswastaan  Islam – suatu dikhotomi yang masing-masing merangkum serentetan alur jurang pemisah yang sebagian besar sama – etnis, kebudayaan dan ekonomi – yang mendasari posisi Jawa dengan luar Jawa. Pengamat-pengamat lain berbicara kurang tajam tentang aliran-aliran di dalam masyarakat Indonesia yang mencerminkan perbedaan-perbedaan tradisi-tradisi ini : santri dan abangan di Jawa, orang Jawa dan bukan Jawa, warna Islam modernis dan Islam konservatif.

Klik Selanjutnya …..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s