Mahasiswa dalam Peralihan Kekuasaan

Keberadaan gerakan mahasiswa sering dipandang sebagai gerakan moral dari pada gerakan politik praktis yang mencerminkan kapasitas tertentu. Dalam pandangan Habermas ada tiga fungsi strtegis perguruan tinggi secara umum. Pertama, mempunyai tanggung jawab memastikan lulusannya dibekali dengan kualifikasi minimum kemampuan yang bersifat esktrafungsional di bidang yang digeluti. Kedua, mempunyai tugas menstramisikan, menginterprestasikan, dan mengembangkan tradisi kultural masyarakat. Ketiga, membentuk kesadaran politik bagi mahasiswa.

Dalam proyeksi itu, mahasiswa dapat memandang diri sebagai elite masa depan bangsa. Mereka tidak hanya mempersiapkan peran yang mempunyai signifikansi politik, tetapi sekaligus menempatkan sebagai agen perubahan sosial. Di berbagai kesempatan, mereka dapat mengakutalisasi diri melalui kegiatan politik seperti demonstrasi, deklarasi, dan mendatangi tempat-tempat yang disimbolisasikan sebagai pusat-pusat kekuasaan.

Namun, peran politik itu umumnya sangat terbatas. Bahkan peran ini dapat diambil alih oleh elite politik yang memang memiliki resources untuk melakukan penetrasi perubahan. Sementara mahasiswa, hanya demontrasi di jalan-jalan, mendatangi lembaga-lembaga yang memang mensimbolisasikan kekuasaan dan kepentingan tertentu, atau mengirimkan delegasi perwakilan untuk menemui tokoh-tokoh sentral yang dianggap memperjuangkan agernda politik mahasiswa.

Setelah itu mereka dipaksa keluar dari tempat yang mereka datangi atau yang mereka telah duduki. Apakah dalam keadaan yang mereka perkirakan sebagai kemenangan ataupun kekalahan. Walaupun tampaknya mereka puas dengan apa yang mereka capai karena memberikan tekanan terhadap pemerintah yang mereka nilai diktaktor, secara keseluruhan mereka terhenti di situ.

Dalam reformasi sendiri, gerakan mahasiswa merupakan front terdepan yang membawa kepentingan-kepentingan lain masuk Termasuk menyeret kelompok kriminal dan penjarah. Setiap perubahan dan apalagi revolusi, memang selalu terdapat masyarakat lapis paling bawah yang tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Kelompok ini dengan mudah memanfaatkan situasi kekacauan untuk mendapatkan kebutuhan yang paling dasar dengan melakukan penjarahan dan perampokan. Tulisan ini menyoroti gerakan mahasiswa dalam penggulingan Soeharto dalam panggung politik.

Krisis keuangan yang melanda kawasan Asia, termasuk melemahnya nilai rupiah di Indonesia pada bulan Agustus 1997, berdampak luas terhadap kehidupan perekonomian rakyat secara menyeluruh. —- Berawal dari tumbangnya Baht Thailand pada awal bulan Juli 1997, pasar internasional kehilangan kepercayaan terhadap mata uang Asia Tenggara .Rupiah kehilangan hampir tujuh persen dari nilainya, menurun dari Rp 2.450,- hingga Rp 2.700,-. Keputusan untuk mengambangkan mata uang pada tanggal 14 Agustus mendapatkan dukunga meluas, tetapoi rupiah terus jauh. Dalam pidato Kemerdekaan tanggal 17 Agustus, Soeharto menenangkan negara dengan mengatakan bahwa fondasi ekonomi tetap kukuh dan krisis mata uang hanya sebuah “ kekauan sementara ”. Akan tetapi, stabilitas ini tidak berhasil diwujufkan. Pada tanggal 6 Oktober, rupiah melemah  lebih jauh hingga Rp 4.000,- per satu dolar AS.  Di kwartal tahun 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat hingga hanya 1.4 persen, dibandingkan 7,3 persen, dibandingkan 7,3 persen di kwartal pertama. Tanggal 27 Oktober 1997, pemerintah dengan berat hati mengikuti Thailand dan meminta bantuan IMF.

Baca lanjut…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s