Sukarno, Marxisme dan Leninisme

Kumpulan tulisan dalam buku ini adalah hasil pergumulan, perdebatan dan rajutan gagasan-gagasan sejarah gerakan kiri di Indonesia selama sembilan tahun, dimulai sejak 1999 hingga 2008. Tulisan-tulisan dalam buku ini ditulis ketika saya mengajar di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Universitas Bung Karno serta Yasnaya Polyana Padepokan Filosofi dan Pondok Tani, Purwokerto. Sebenarnya era Reformasi ini, saya menulis 50 makalah lebih makalah dan ada 10 makalah yang berkaitan dengan sejarah gerakan kiri di Indonesia. Akan tetapi, hanya enam makalah saja yang sesuai dengan kepentingan penerbitan buku ini.

Melalui kumpulan tulisan ini, saya berharap dapat memberikan sumbangan pengetahuan sejarah gerakan kiri di Indonesia. Saya beruntung memperoleh kesempatan untuk mengarungi ranah ilmu pengetahuan yang kemudian memberikan kontribusi bagi kemajuan intelektual saya. Ilmu pengetahuan tidak pernah netral dan pengandaian obyektivitas dalam ilmu dapat terus dipertanyakan. Ada keberpihakan dan perlawanan dalam sejarah setelah Orde Baru dikarenakan runtuhnya narasi-narasi yang berkaitan dengan sejarah gerakan kiri di Indonesia dan lebih menjadi wacana dalam ruang publik. Sejarah versi Orde Baru telah dikontruksi sesuai dengan semangat zaman. Maka, sejarah alternatif pun ditampilkan.

 

Peristiwa 1965

Pertama kali saya menulis sejarah gerakan kiri di Indonesia adalah ketika saya berbicara seputar peristiwa 1965 di depan mereka yang pernah menjadi korban Orde Baru, yang bernaung dalam Paguyuban Korban Orde Baru ( Pakorba) pada 1 Oktober 1999 di gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI). Lewat forum tersebut, saya mengenal banyak orang yang menjadi tahanan politik tanpa melalui proses pengadilan. Mereka dituduh sebagai pendukung Gerakan 30 September, yang membunuh sejumlah jenderal TNI-AD. Pernyataan bahwa PKI mengorganisasi G30S bagi rezim Soeharto bukan sekadar fakta biasa, tetapi menjadi sumber pokok keabsahan rezimnnya.

Menurut versi resmi, karena PKI dipandang sebagai satu-satunya dalang dari peristiwa keji tersebut, maka sudah selayaknya ratusan ribu anggota PKI di mana pun mereka berada dikejar dan dibunuh secara beramai-ramai Pantas pula peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 itu disebut G30S/PKI dengan penekanan pada “PKI”nya karena PKI merupakan pelaku utama. Juga tepat jika istilah yang dipakai adalah Gestapu (Gerakan September 30). PKI juga layak ditumpas karena sebelumnya telah dua kali “memberontak“ (1926/1927 dan 1948) dan ingin menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi komunis yang ateis.

Tak dapat dipungkiri bahwa tampaknya memang terdapat unsur kesengajaan untuk mengarahkan atau bahkan memproduksi opini publik dan ingatan akan apa yang terjadi pada 1965 menurut versi tertentu demi tujuan-tujuan tertentu pula, misalnya saja penggunaan istilah G30S/PKI. Meskipun sebenarnya dalang sesungguhnya dari pembunuhan para jenderal itu belum jelas – atau bahkan justru anggota militer – tetap saja istilah tersebut digunakan dengan maksud untuk memojokan PKI. Bahkan penggunaan istilah Gestapu tampak sekali sengaja dilakukan untuk mengasosiasikan operasi militer yang konon didalangi oleh PKI itu dengan polisi rahasia Jerman, Gestapo yang terkenal kejamnya

Sampai penghujung rezim Soeharto pada 1998, pemerintah dan pejabat militer Indonesia menggunakan ‘hantu“ PKI untuk menanggapi setiap masalah kerusuhan atau gejala pembangkangan. Kata-kaca kunci dalam wacana rezim itu adalah “bahaya laten komunisme“. Agen-agen tersembunyi dari Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) senantiasa mengendap, siap merongrong pembangunan ekonomi dan tertib politik. Pembasmian PKI yang tak kunjung usai, sungguh-sungguh merupakan rasion d”etre (alasan keberadaan) bagi rezim Soeharto. Landasan hukum asli yang dipakai rezim ini untuk menguasai Indonesia selama lebih dari 30 tahun adalah perintah Presiden Sukarno pada 3 Oktober 1965 yang memberi wewenang Soeharto untuk “memulihkan ketertiban“. Perintah itu dikeluarkan dalam situasi darurat, tapi bagi Soeharto situasi darurat ini tidak pernah berakhir, Kopkamtib yang dibentuk pada masa itu tetap dipertahankan sampai akhir kekuasaan (dengan penggantian nama menjadi Bakorstranas pada 1998).

 

Klik selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s