Mencari Sosok Ekonomi Nasional

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar
mengambil nasib bangsa  dan nasib tanah
air  di  dalam  tangan  kita  sendiri. Hanya
bangsa    yang   berani   mengambil  nasib
dalam  tangan  sendiri,  akan dapat berdiri
dengan kuatnya.

Soekarno, 17 Agustus 1945

 

 

Satu Tahun Ketentuan ( 1957 )
Revolusi Indonesia adalah Revolusi Rakyat, yang bertujuan menuju
Masyarakat Adil dan Makmur

Tahun Kemenangan (1958)
Rakyat sekarang lebih sadar siapa lawan, tidak  lagi  tak terang siapa yang setia dan siapa penghianat….siapa  pemimpin  sejati,  dan siapa pemimpin anteknya  asing…..siapa  pemimpin  pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan ….

Penemuan Kembali Revolusi Kita  (1959 )
Tiga Kerangka Revolusi
(1) Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(2) Pembentukan Masyarakat Adil dan Makmur
(3) Pembentukan satu persahabatan baik antara Republik Indonesia dan
semua negara didunia, terutama sekali dengan negara Asia-Afrika, atas
dasar   hormat-menghormati    satu   sama   lain,  dan atas dasar bekerja
sama  membentuk   yaitu   Dunia   Baru   yang  bersih dari imperialisme
dan kolonialisme .

Lima Persoalan-Persoalan Pokok Indonesia
(1)   Dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia
(2)   Kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia
(3)    Sifat Revolusi Indonesia
(4)    Hari depan Revolusi Indonesia
(5)    Musuh-musuh Revolusi Indonesia

Laksana Malaekat Yang Menyerbu Dari Langit, Jalannya Revolusi Kita ( Jarek ) – 1960
Bersatunya Nasionalisme, Agama dan Komunisme ( Nasakom )
Mutlak dilaksanakan   Land-Reform   sebagai   bagian   mutlak    Revolusi Indonesia ; Mutlak   dibasmi   segala   phobi-phobian     terutama  Komunis-phobi;  perlu   dikonfrontasi  segenap  kekuatan nasional terhadap kekuatan-kekuatan  imperialis-kolonialis  dan keharusan dijalankan  revolusi dari atas dan dari bawah

Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional (Resopim )  –  1961 Perjuangan harus disertai  Tritunggal Revolusi,  ideologi  nasional  progresif dan pimpinan nasional

Tahun Kemenangan ( Takem )  — 1962
Memperhebat pekerjaan Front Nasional serta menumpas rongrongan revolusi dari dalam
Revolusi Indonesia mengalami satu “ self propelling frowth “ – satu yaitu mau atas dasar kemajuan, mekar atas dasar kemekaran

Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri) – 1963
Revolusi Indonesia harus disertai dengan konfrontasi terus-menerus dan adanya disiplin yang hidup serta diperlukan puluhan ribu kader di segala lapangan
Deklarasi Ekonomi ( Dekon ) harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena Dekon adalah Manipolnya ekonomi
Abad kita ini abad Nefo

Tahun Vivere Pericoloso ( Tavip )  –  1964
Revolusi Indonesia harus mengambil sikap tepat terhadap lawan dan kawan
Revolusi Indonesia harus dijalankan dari atas dan dari bawah
Destruksi dan kontruksi harus dijalankan sekaligus dalam Revolusi
Tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua ,
Setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol
Mempunyai sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat
Diformulasikan Trisakti “ berkedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan

Capailah Bintang-Bintang Di Langit (Tahun Berdikari )  –  1965
Panca Azimat Revolusi
Nasakom, Pancasila, Manipol-Usdek, Trisakti dan Berdikari

Periode penjajahan telah mewariskan kepada Indonesia suatu struktur perekonomian yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing dan para pedagang Tionghoa. Perusahaan besar milik orang-orang Barat, terutama Belanda, mendominasi bidang-bidang seperti perkebunan, pertambangan, perdagangan luar negeri, industri dan perbankan. Boleh dikatakan semua perusahaan besar berada di tangan orang-orang Belanda.  Diperkirakan ,pada tahun 1950 hanya 10 persen saja dari kekayaan swasta dalam sektor non-pertanian berada ditangan orang-orang Indonesia. Dalam sektor impor barang-barang konsumsi, 50 persen ditangani oleh perusahaan “ Lima Besar“ milik Belanda, sementara dalam sektor ekspor, 60 persen dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing. Sebelum tahun 1951, mayoritas bank swasta dikuasai oleh perusahaan “ Sepuluh Besar “ milik Belanda.

Golongan Tionghoa, yang pada tahun 1950 mencakup kurang dari tiga persen penduduk Indonesia dan yang sebagian besar dari mereka dilahirkan di luar negeri atau mengindentifikasikan diri dengan masyarakat Cina di Cina daratan, menguasai sektor menengah, yang menjadi perantara antara perusahaan-perusahaan asing dengan orang-orang Indonesia. Kebijaksanaan kolonial Belanda telah memberikan kepada orang-orang Tionghoa kedudukan penting ekonomi di dalam suatu susunan piramidal yang dinamakan “struktur kasta kolonial” yang didasarkan pada suatu sistem stratifikasi sosial yang pada pokoknya bersifat rasial. Kelompok pedagang Tionghoa ini menguasai industri kecil dan menampung hasil para petani kecil dan menguasai sebagian besar lalu lintas kegiatan pedagang kecil.

 

Baca Selengkapnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s