Revolusi Mental dan Pancasila

Terpilihnya Jokowi sebagai presiden ketujuh kita rayakan. Sekarang sudah terbayar segala jerih payah perjalanan kampanye bahkan sudah dimulai jauh sebelum masa kampanye. Namun, seperti setiap perayaan yang ada, setelah pesta usai kita segera dihadapkan akan tantangan yang dihadapi, akan harapan yang masih harus diperjuangkan Indonesia dengan 240 juta penduduk dan sejumlah pekerjaan menunggu untuk digarap lebih baik bersama seluruh rakyat.

Di sinilah kita bisa merasakan betapa kekuasaan yang diperoleh berkonsekuensi tanggung jawab yang besar. Bagaimana bila kontrol terhadap sekolah-sekolah tidak menjangkau daerah-daerah terpencil ? Bagaimana bila pangan tetap menjadi supermahal di daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau ? Bagaimana bila pembabatan hutan tetap berjalan tanpa ada yang mampu menghentikan ? Bagaimana bila perikanan tetap dijarah nelayan negara asing tanpa kita mampu mengejar para pencoleng itu ? Bagaimna bila politik transaksional tetap terjadi tanpa ada yang mampu mencegahnya ? Bagaimana bila politik dinasti tetap berlangsung tanpa ada yang mampu menghalangi ?

Disinilah Jokowi sebagai pemimpin akan mendapatkan tatapan penuh harap sekian juta rakyat Indonesia dan bahkan masyarakat global, yang sungguh menunggu tindakan nyata dari segala yang dijanjikan selama masa kampanye. Akankah dilakukan terobosan-terobosan yang membuat negara kita lebih gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja ? Akankah kita melihat budaya yang bisa kita banggakan di kawasan regional, serta dihargai sebagai manusia-manusia professional, produktif, pandai, dan jago berkreasi? Akankah kita mengantar anak-anak kita ke pendidikan yang aman, nyaman, terjangkau kantong, dan terpercaya ?

Lewat kampanye Pemilihan Presiden 2014, Jokowi menawarkan pada kita untuk melakukan Revolusi Mental sebagai paradigma dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang galau ini. Menurut, Jokowi selama 16 tahun menjalankan reformasi kita hanya mencapai kemajuan sebatas kelembagaan. Pembangunan belum menyentuh paradigma, mindset dan budaya politik, dari manusia yang menjalankan sistem sehingga nation building tak mengantarkan Indonesia pada cita-citanya.

Baca Selengkapnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s