Trisakti Soekarno

Konsep Trisakti disampaikan oleh Soekarno pada pidato peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1964 di Istana Merdeka. Tahun “Vivere Pericoloso”, judul pidato Presiden Republik Indonesia. Melalui pidatonya, Soekarno menyatakan bahwa Revolusi Indonesia tidak akan berhenti. Imperialisme akan hancur-lebur, tetapi Revolusi Indonesia akan berjalan terus, dan akan menang.

Revolusi Indonesia bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi Indonesia menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme. Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa exploitation de l”homme par l”homme dan exploitation de nation par nation. Bagaimana Revolusi yang demikian ini mau dimandekkan dengan kata bahwa “ revolusi sudah selesai” ? Bagaimana Revolusi demikian ini dapat dijalankan terus tanpa romantik, tanpa dinamik, tanpa dialetik ?

Hukum-hukum Revolusi itu, kecuali garis-besar yang sudah disebutkan, romantika, dinamika, dialektika, pada pokoknya adalah : Pertama, Revolusi mesti punya kawan dan lawan dan kekuatan-kekuatan Revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan; maka harus ditarik garis-memisah yang terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan. Kedua, Revolusi yang benar-benar Revolusi bukanlah revolusi istana atau revolusi pemimpin, melainkan Revolusi Rakyat; oleh sebab itu, maka Revolusi tidak boleh “ main atas” saja, tetapi harus dijalankan dari atas dan dari bawah.

Ketiga, Revolusi adalah simfoninya destruksi dan kontruksi, simfoninya penjebolan dan pembangunan, karena destruksi saja atau penjebolan saja tanpa kontsruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarchi, dan sebaliknyal kontruksi atau pembangunan saja tanpa desktruksi atau penjebolan berarti kompromi atau reformisme. Keempat, Revolusi selalu punya tahap-tahapnya; dalam hal Revolusi kita tahap nasional-demokratis dan tahap sosialis; tahap yang pertama meretas jalan buat yang kedua, tahap yang pertama harus dirampungkan dulu, tetapi sesudah rampung harus ditingkatkan kepada tahap yang kedua – inilah yang dinamakan dialetiknya Revolusi.

Kelima, Revolusi harus punya Program yang jelas dan tepat, seperti dalam Manipol kita merumuskan dengan jelas dan tepat: (A) Dasar/Tujuan dan Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; (B) Kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia ; (C) Sifat Revolusi Indonesia ; (D) Hari depan Revolusi Indonesia; dan (E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia ; dan (E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia. Dan seluruh kebijaksanaan Revolusi harus setia kepada program itu : Keenam, Revolusi harus punya sokoguru yang tepat dan punya pimpinan yang tepat, yang berpandangan jauh-kemuka, yang konsekuen yang sanggup melaksanakan tugas-tugas Revolusi sampai pada akhirnya, dan Revolusi juga punya kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi semangatnya.

Menurut Soekarno, kaum tani sebagai salahsatu sokoguru revolusi, bersama dengan kaum buruh. Landreform menjadi bagian mutlak dari Revolusi Indonesia. Kaum tani membutuhkan tanah garapan, karena kalau tidak menggarap, tidak mengolah tanah, mereka bukan petani. Kaum tani adalah penghasil pangan : beras; polowidjo, jagung, sayur-mayur, bahkan juga daging, telur,buah-buahan, dan lain-lain. Tetapi kaum tani ini mengalami penghisapan double; penghisapan dari feodalisme dan penghisapan dari kapitalisme. Kalau ingin memperbaharui Indonesia, kalau ingin memodernisasi Indonesia, tidak tidak boleh tidak harus memperhatikan kaum tani.

Dengan tegaknya azas berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan . Presiden Soekarno menginginkan secepat-cepatnya Indonesia tidak lagi mengimpor beras. Ini bukannya tak ada konsekuensinya. Konsekuensinya ialah peningkatan produksi pangan dan pemimpin-pemimpin organisasi-organisasi tani sudah mengatakan kepada Presiden Soekarno, bahwa kalau UUPA dan UUPBH dilaksanakan maka tambah lancarlah syarat-syarat yang diperlukan untuk peningkatan produksi pangan. Soekarno menolak pendapat yang menyatakan bahwa landreform itu menyempitkan pemilik tanah, landreform justru memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk seluruh Rakyat Indonesia.

Kepada yang biasa makan nasi 2 – 3 sehari, Soekarno menyeruhkan agar mengubah menu makanan. Nasi bisa dicampur dengan jagung, cantel, ketela-rampat, singkong, ubi, dan lain-lain. Mengubah menu makanan, yang tidak merusak kesehatan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Menurut Soekarno, MMAAII, sebagai pengembangan daripada Konferensi Bandung, telah merumuskan dengan baiknya keharusan setiap negara Asia-Afrika untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, bebas dalam politik, kepribadian dalam kebudayaan. Trisakti ini mengingatkan Soekarno apa yang dikatakan Perdana Menteri Kim Il Sung di tahun 1947, yang menyatakan “ Untuk membangun suatu Negara yang demokratis, maka satu ekonomi yang merdeka harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tak mungkin kita mendirikan Negara tak mungkin kita tetap hidup”

Sekarang Korea-nya Kim Il Sung sudah sepenuhnya memecahkan masalah sandangpangan , produksi padinya saja 400 kg lebih per kapita pertahun, dan dari negara agraris-industril sekarang Korea Kim Il Sung sudah menjadi negara industriil-agraris. Inilah kondisinya, maka Korea itu secara politik maupun kebudayaan tidak tergantung kepada siapapun.

Klik selanjutnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s