Proklamasi Kemerdekaan

Sejak 7 September 1944 dan seterusnya perkembangan sosio-politik menemukan momentum luar biasa. Dalam hal ini Soekarno dan kawan-kawannya memainkan peran yang kian meningkat. Mula-mula Soekarno merasa heran ketika diberitahu oleh Mayjen Yamamoto Koichiro tentang janji PM Koiso. Tetapi  kemudian menjadi kecewa terhadap janji yang samar-samar tidak jelas itu. Tetapi tetap merupakan kejutan baginya bahwa Jepang tidak lagi keberatan akan kemerdekaan bagi seluruh wilayah wilayah Indonesia setelah bertahun-tahun mereka menolak konsep territorial itu. Berkali-kali Soekarno selalu bicara tentang Indonesia, sementara itu PM Tojo pada bulan Juli dan November 1943 hanya bicara tentang Jawa. Dengan demikian, Soekarno merasa bahwa pengakuan Tokyo itu disebabkan oleh usaha dan perjuangannya. Reaksi Gunsei menunjukkan dengan jelas bagi Soekarno bahwa janji itu bukanlah karena Jepang hendak mengakui kepentingan pihak lain. Dengan demikian lebih berharga baginya untuk mempersiapkan tenaga rakyat Indonesia bagi perjuangan mendatang.

Hal tersebut segera dibuktikan dengan meningkatnya permintaan Gunsei akan jatah pihak militer, romusha, jatah beras dan bahan makanan lain, demikian halnya dengan pembangunan pertahanan. Dalam hubungan ini Soekarno  menggunakannya sebagai alat untuk menuntut konsesi lebih konkrit bagi kepentingan Indonesia dengan menggunakan janji Koiso untuk melakukan terobosan. Pada 8 September 1944, Soekarno beserta seluruh wakil semua golongan menghadap Saiko Shikikan Letjen Harada Kumakichi. Penguasa Jepang ini pernah memberikan peringatan bahwa “Hindia Timur tidak akan pernah mencapai kemerdekaan jika Dai Nippon dikalahkan dalam perang, oleh karena itu rakyat Indonesia haruslah melipatgandakan dukungannya kepada Nippon untuk mewujudkan kemenangan “. Dalam hubungan ini Soekarno menyatakan “ bersama Dai Nippon kami akan hidup dan mati sampai kemenangan akhir tercapai”. Sementara itu pada malam harinya melalui radio Jakarta ia berbicara mula-mula kepada orang Jepang kemudian kepada rakyat Indonesia. Kepada orang Jepang ia berjanji seperti yang disampaikan pagi harinya.” karena Dai Nippon berjanji akan memerdekakan seluruh rakyat Indonesia dalam waktu dekat, maka ia dan rakyat akan berjuang sampai titik darah penghabisan bagi kemenangan akhir”. Kepada rakyat Indonesia dikatakan “fajar telah menyinsing, seluruh Indonesia akan mencapai kemerdekaan. Untuk mencapai tujuan itu kemenangan harus direbut dan haruslah dipastikan untuk mengalahkan Amerika, Inggris, dan Belanda. Jika tidak maka mereka akan kembali menjajah kita”, Selanjutnya ia meminta rakyat “ untuk bersama Dai Nippon dalam hidup dan mati sampai kita capai kemerdekaan, hidup dan mati dengan Dai Nippon ketika kita telah merdeka”.Soekarno mengulanginya pada 12 September 1944 dalam sidang Chuo Sangi-In. Selanjutnya dari sidang 12 – 17 September itu dikeluarkan resolusi Panca Darma:

1) Dalam perjuangan hidup dan mati bersama rakyat Asia Timur Raya, kita berdiri tegak bersatu padu dengan Dai Nippon, dengan teguh siap mengabdi bagi perjuangan mempertahankan hak dan kebenaran;

2 ) Kita bersandar pada landasan bangsa Indonesia yang akan merdeka, bersatu,berdaulat, adil, dan makmur. Negarasemacam itu akan memberikan manfaat juga kepada Dai Nippon, terlebih lagi yang akan hidup sebagai anggota setia dalam masyarakat Asia Timur Raya;

3) Kita berjuang dengan semangat murni bagi kemashuran dan kemulian, seperti menjaga dan memuliakan peradaban dan kebudayaan kita sendiri, meningkatkan kebudayaan Asia agar berpengaruh terhadap kebudayaan dunia;

4) Dengan begitu kita juga – melayani – dengan persahabatan yang dekat dengan bangsa-bangsa lain di lingkungan Asia Timur Raya – bangsa kita sendiri beserta rakyat yang setia, dan dalam pertanggungjawaban yang berkelanjutann di hadapan Tuhan Yang Maha Esa;

5) Kita juga berjuang dengan semangat kerinduan akan perdamaian abadi untuk seluruh dunia, perdamaian didasarkan persaudaraan segala bangsa yang satu sesuai dengan ideal Hakko Ichiu .

Soekarno sadar akan berbagai cara untuk menghindari berbagai bentuk penghinaan sebagai yang ditanggungnya selama dua tahun belakangan. Ia pun sadar sepenuhnya bahwa janji kemerdekaan, prospek membentuk negara Indonesia merdeka, bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya, betapapun pentingnya barulah sebagian kecil tujuan pada puncak kekuasaan yang sebenarnya.  Dalam posisi itulah ia mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kondisi bagi kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya. Ia pun mulai merancang cara-cara mencapai tujuan dengan rasa percaya diri yang kuat dan meningkat. Tentu saja pihak penguasa Jepang juga menyadari keadan itu dalam keadaan terus-menerus mengalami kekalahan dalam pertempuran di segenap front. Sekutu akan melakukan pukulan selanjutnya. Telah dilakukan konsolidasi terhadap organisasi-organisasi para militer di Jawa. Rekomendasi dari Hayashi Kyujiro sepenuhnya dilaksanakan sebagai yang tertulis. Setelah deklarasi Koiso , anggota Sanyo menjadi 18 orang nasionalis, anggota Chuo Sangi-In yang berjumlah 62 yang telah ditambah 22 orang, 12 di antaranya pemimpin nasionalis terkenal. Dewan Sanyo sebagai pemula kabinet Soekarno, sementara Chuo Sangi-In yang diperluas menjadi ikal bakal parlemen Indonesia.

Klik selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s