Romusha, Jugun Ianfu dan Keresahan Sosial

Jika orang Indonesia diminta mengatakan satu faktor apa saja sebagai pengalaman yang paling mengerihkan selama pendudukan Jepang mungkin dia akan menjawab Romusha. Kata Jepang Romusha yang hebat ini secara harfiah berarti seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Akan tetapi dalam konteks sejarah Indonesia istilah ini mempunyai pengertian khusus yang mengingatkan rakyat akan pengalaman yang sangat pahit di bawah pemerintahan militer yang kejam.

Bagi orang Indonesia, Romusha berarti seorang buruh kuli yang dimobilisasikan bagi pekerjaan kasar di bawah kekuasaan militer Jepang. Mereka yang pada umumnya petani biasa yang diluar kehendak mereka, diperintahkan supaya bekerja pada proyek-proyek pembangunan dan pabrik. Jutaan orang dimobilisasikan dengan cara ini dan tidak sedikit di antaranya yang dikirim ke luar negeri. Banyak diantaranya meninggal karena kerja keras dan kondisi yang yang sangat buruk. Banyak lainnya, yang cukup beruntung bertahan hidup, menderita akibat penyakit, kekurangan gizi, dan luka-luka. Keluarga mereka, yang pencari nafkahnya dibawa pergi, menderita akibat kemiskinan, dan tanah pertanian mereka sering dibiarkan tak ditanami karena langkahnya tenaga kerja. Akhirnya, hal ini menyebabkan situasi rendahnya produktivitas pertanian.

Salah satu tujuan pokok pendudukan Jepang di Asia Tenggara ialah untuk memperoleh sumber-sumber ekonomi, dan untuk menciptakan suatu landasan pokok ekonomi yang penting demi kelangsungan perang di sana. Jepang terutama mempertahankan kegiatan-kegiatan ekonomi, dan memberikan serta mencurahkan tenaga besar-besaran dalam bidang ini. Upaya-upaya dibuat tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan produktif, tetapi juga dalam pembangunan infrastruktur yang akan meningkatkan produksi. Dalam menjalankan proyek-proyek ini, Jepang menganggap tenaga kerja di Jawa yang berlebihan sebagai salah satu sumber daya terpenting. Jawa, dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi serta surplus tenaga kerja, memberikan sumber daya yang paling penting di Asia Tenggara. Sejak tahap perang yang sangat dini, penguasa Jepang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan mobilisasi efektif atas tenaga kerja kerja setempat di Jawa dan memasoknya ke seluruh wilayah  selatan  (Aiko Kurosawa, 1993 : 123 – 124 )

Sudah sebelum jatuhnya Pearl Habour diputuskan Jepang akan menggunakan tenaga Romusha – di wilayah-wilayah pendudukan. Ini sesuai dengan rencana untuk memanfaatkan semua potensi, termasuk potensi pekerja, di daerah-daerah jajahan. Tidak lama sesudah Pulau Jawa diduduki, para Romusha dikumpulkan. Mereka dipekerjakan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat perang yang hebat. Walaupun tentara Hindia Belanda tidak memberikan banyak perlawanan, mereka banyak merusak pelabuhan, tambang dan instalasi minyak. Jembatan saja sudah hampir dua ratus yang diledakkan. Dalam tahap pertama masa penjajahan, “ orang-orang Jepang merekut tenaga kerja sedikit banyak secara ad hoc, melalui pamong praja setempat” Mendapatkan tenaga kerja tidak sulit. Dengan runtuhnya perekonomian Hindia Belanda, banyak orang Indonesia yang menganggur dan pemerintah lokal lebih senang melihat para penganggur ini bekerja daripada berkeliaraan dijalan. Kebanyakan dari mereka dipekerjakan di daerahnya sendiri. Biasanya untuk jangka waktu tiga bulan, dan mereka mendapat upah yang pantas. Dalam masa awal itu, pendayaangunaan tenaga Romusha di Jawa secara keseluruhan bisa dikatakan bersifat memberi kesempatan pekerjaan. Mirip dengan wajib kerja di masa penjajahan Belanda.

Hingga akhir 1943, kebutuhan Jepang akan tenaga kerja pribumi tidak terlampau berlebihan. Namun, pada 31 Mei 1943 di Tokyo diadakan sebuah konferensi kekaisaran yang mengubah keadaan ini, Pada konferensi itu diputuskan mengingat jalannya peperangan Pasifik, untuk beralih dari strategi ofensif ke strategi defensif. Konsekuensinya adalah bahwa proyek-proyek pertahanan yang besar harus dibangun di wilayah Nanyo. Wilayah-wilayah dengan kelebihan tenaga kerja wajib mengirimkan Romusha ke wilayah yang kekurangan tenaga kerja. Aparat kekaisaran tidak selalu lancar jalannya. Baru dalam bulan Oktober tahun itu Markas Besar Wilayah Selatan, yang pada waktu itu berkedudukan di Singapura, diadakan  pembicaraan untuk menerjemahkan garis-garis pengarahan kekaisaran ke dalam peraturan pelaksanaan. Yamamoto menghadirinya sebagai wakil pemerintah militer di Jawa. Salah satu keputusan yang diambil di Singapura waktu itu, ialah bahwa Pulau Jawa yang berpendudukan padat itu harus mengirimkan tenaga romusha ke Sumatera, Kalimantan, dan Malaka.

Klik selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s