D.N. Aidit dan Percobaan Kudeta 1965

DN Aidit (Wikipedia)

DN Aidit (Wikipedia)

Para pemimpin PKI cukup yakin dengan posisi partainya pada tahun 1965. Mereka percaya bahwa golongan antikomunis di jajaran perwira tinggi Angkatan Darat merupakan kelompok yang terisolasi dan rapuh. Banyak perwira dan prajurit di tubuh Angkatan Darat yang pro-PKI. Tiga angkatan lainnya pun memiliki banyak perwira pendukung PKI yang bisa melindungi partai itu dari setiap serangan sepihak yang dilancarkan Angkatan Darat. Sungguhpun begitu, para anggota Politbiro harus mempertimbangkan bahwa para jenderal Angkatan Darat itu boleh jadi berupaya melakukan kudeta dan menyerang partai. Mereka terus-menerus berkonsultasi dengan jaringan koneksi mereka di tubuh militer untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang sedang dilakukan oleh jajaran pemimpin Angkatan Darat itu. Aidit memimpin sebuah badan rahasia dalam partai yang diberi nama “ Biro Khusus “, yang dirancang untuk menjadi penghubung dengan para perwira militer. Badan inilah yang menjadi sangat penting pada tahun 1965, tatkala urusan militer semakin dipandang penting dalam penyusunan strategi para pemimpin PKI. Biro Khusus ini munul dan berkembang sebagai akibat dari keterlibatan partai itu dalam perjuangan bersenjata untuk meraih kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 – 1949. Untuk dapat tetap berhubungan dengan para simpatisan partai yang berhasil mempertahankan posisinya di militer setelah serangkaian program PHK yang dilakukan pada awal tahun 1950. PKI menciptakan sebuah jaringan rahasia. Ini bukanlah sesuatu yang bisa disebut sebagai keuangan ; partai-partai politik lainnya pun memiliki jaringan serupa dalam militer.

 

Informasi dari Biro Khusus ini menjadi penting untuk menentukan apakah partai harus menunggu terjadinya kudeta militer atau mendahului melakukannya. Setelah sang kepala Biro, Sjam (Kamaruzzaman), mengadakan rapat-rapat awal dengan sumber koneksinya di Angkatan Darat, dia akhirnya yakin bahwa sekelompok perwira “progresif” mau dan mampu melancarkan aksi inisiatif sebelum didahului lawan pihak (pre-emptive action). Sjam memberitahu Aidit bahwa para perwira ini siap untuk bergerak. Pada awal bulan September 1965, Aidit lalu memberitahu Politbiro bahwa para perwira “progresif” berencana untuk bertindak, dan bahwa partai harus memutuskan apakah akan mendukung mereka atau tidak. Politbiro memutuskan bahwa pada prinsipnya mendukung tindakan para perwira “progresif” itu merupakan suatu gagasan yang baik, dan menyerahkan urusannya kepada Aidit untuk menangani hubungan antara partai dengan para perwira itu.

 

Kemudian, Aidit membentuk sebuah tim kecil yang dipilih secara seksama dari antara para anggota Politbiro untuk membahas hal yang sangat rahasia ini. Kelompok ad-hoc yang terdiri dari sahabat-sahabat Aidit yang paling terpercaya ini ingin menjaga agar keterlibatan partai ini tetap dirahasiakan, sehingga para perwira itu dapat muncul sebagai nasionalis murni yang melindungi Soekarno dan cita-citanya dari kudeta militer. Dengan demikian, perencanaan dari apa yang nantinya disebut sebagai Gerakan 30 September ini memiliki tiga kelompok yang berlainan di belakangnya: 1) tim khusus Aidit yang berisi para anggota Politbiro; 2) Biro Khusus, dan 3) para personel militer yang akan melancarkan aksi. Biro Khusus bertindak sebagai unsur perekat yang amat penting untuk menjadi penghubung antara dua kelompok lainnya yang bertemu Aidit pada satu sisi, dan bagi para personel militer pada sisi lain.

 

Personel militer yang terlibat dalam merencanakan aksi itu merupakan sumber-sumber koneksi yang dimiliki Biro Khusus di dalam militer. Sebagian dari personil ini menarik diri dari rapat-rapat perencanaan awal, sehingga yang tersisa hanyalah mereka yang setia-buta kepada Sjam dan partai yang diwakilinya. Mereka adalah Kolonel Latief ( panglima militer di wilayah), Letnan Kolonel Untung (pasukan pengawal presiden) Mayor Soejono (Angkatan Udara). Mereka sendiri tidak memiliki banyak pasukan dan bahkan tidak yakin bisa merngandalkan semua personel yang ada di bawah komandonya. Sjam berhasil menambah sejumlah pasukan lagi dengan menghubungi komandan dari dua batalyon yang datang ke Jakarta dari luar kota . Namun,Sjam merasa bahwa kelompok ini masih kekuarangan jumlah personel. Maka, dia meminta kepada kelompok Aidit untuk menyusun sekelompok pasukan sipil anggota PKI sebagai milisi tambahan untuk membantu gerakan tersebut. Anggota partai yang ada di Jakarta yang telah menjalani pelatihan militer dasar untuk menghadapi konfrontasi, dipanggil untuk melancarkan aksi 1 Oktober tanpa diberitahu apa-apa tentang aksi itu.

 

Seiring dengan kemajuan perencanaan aksi itu, peran Sjam menjadi jauh lebih besar daripada sekadar menjadi saluran komunikasi antara kelompok Aidit dan personel militer: dia menjadi organisator utama. Sungguhpun demikian, dia tidak diserahi tanggung jawab untuk memimpin pasukan militer maupun anggota partai. Struktur tripatit yang aneh pada jajaran kepemimpinan gerakan ini merupakan penyebab sebagian besar kegagalannya. Kelompok Aidit memutuskan ikut dalam aksi tersebut karena menyangka bahwa para perwira militer inilah yang mengorganisir aksi itu atas inisiatif mereka sendiri. Sementara itu, para perwira militer tersebut – mengikuti Sjam yang mewakili PKI – mengira bahwa PKI-lah yang mengorganisir aksi itu. Bahkan ketika mereka melihat perencanaan itu belum matang dari segi aspek-aspek militernya, mereka menyangka bahwa partai sudah memikirkan segala sesuatunya. Peran mediasi yang dijalankan Sjam membuat kedua belah pihak salah paham ( John Rossa, 2013 : 249 –252 )

 

Baca selanjutnya….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s