D.N. Aidit dan Kehancuran PKI

DN Aidit (LIFE)

DN Aidit (LIFE)

Pembunuhan keenam jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965 diikuti oleh serangkaian perkembangan dan memuncak dengan berhentiinya Presiden Soekarno satu setengah tahun kemudian. Hancurnya sistem Demokrasi Terpimpin telah dapat dibayangkan pada tanggal 1 Oktober 1965 ketika Soeharto yang didukung oleh para jenderal senior yang lain tidak sejalan dengan pandangan-pandangan presiden, tetapi baru pada minggu-minggu berikutnya dalam bulan itu imbangan kekuatan yang lama tak tertolong lagi, sehingga terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap para pendukung PKI. Lenyapnya PKI, salah satu kekuatan politik yang efektif dalam tiga bulan terakhir tahun 1965, mengakibatkan yang tinggalah hanyalah presiden dan kepemimpinan Angkatan Darat sebagai dua pusat kekuasaan yang bersaing untuk mendapatkan dukungan dari kekuatan-kekuatan politik yang lebih kecil. Segera menjadi jelas bahwa tanpa dukungan PKI, Soekarno jauh berkurang kemampuannya untuk menguasai kepemimpinan Angkatan Darat daripada sebelumnya.

 

Kondisi yang sulit dihadapi oleh dominasi Angkatan Darat yang makin bertambah, adalah pembasmian PKI. Walaupun tidak jelas apakah pemimpin Angkatan Darat memang bermaksud agar pembunuhan-pembunuhan sesudah kudeta itu harus sampai ke tingkat yang begitu ganas seperti yang dialami di daerah-daerah Jawa Timur, Bali dan Aceh, namun tidak dapat diragukan bahwa mereka mengeksploitasi kesempatan yang tersedia oleh percobaan kudeta itu untuk melenyapkan PKI, baik di Jakarta maupun tingkat-tingkat provinsi dan kabupaten. Di daerah-daerah pedesaan di Jawa dan di tempat-tempat lain, para perwira Angkatan Darat bekerja sama dengan anggota-anggota organisasi sipil nonkomunis dalam pembunuhan ratusan ribu aktivis PKI, sehingga partai tersebut kehilangan dukungan dasarnya yaitu massa yang terorganisasi. PKI yang diorganisasi lebih untuk beragitasi daripada berperang, sama sekali tidak berada dalam posisi untuk membela diri terhadap serangan yang didukung oleh Angkatan Darat. Para pemimpinnya bersikap ragu untuk mendorong mengadakan perlawanan sedang kawan-kawan mereka dalam angkatan bersenjata terlalu kecil untuk mampu memberikan perlindungan. Sementara Presiden Soekarno di Jakarta berkali-kali menyeruhkan agar pembunuhan massa di Jawa itu tidak dilanjutkan, pendukung-pendukung terdekatnya di dalam angkatan bersenjata dan partai-partai politik tinggal diam. Karena sakit hati akan kemajuan yang dicapai oleh PKI sehingga mencapai kedudukan sebagai kawan utama Soekarno, para pemimpin kekuatan-kekuatan politik lainnya yang merasa lebih dekat kepada Presiden Soekarno daripada pemimpin-pemimpin Angkatan Darat, sepertinya tidak dapat menghargai kekuasaan Soekarno yang bergantung pada terpeliharanya kesempatan di mana PKI memainkan peranan menyeluruh. Mungkin menganggap lenyapnya PKI sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi mereka sendiri menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat diandalkan oleh presiden untuk mengimbangi kekuasaan Angkatan Darat mereka lebih suka menunhuhkan sikap yang tidak kompromis di mata para pemimpin Angkatan Darat dengan cara tidak mempertahankan PKI; pemimpin-pemimpin Angkatan Laut, Kepolisian dan partai-partai seperrti PNI menyisih ketika imbangan kekuasaan yang merupakan basis kekuasaan Soekarno tumbang.

 

Tersingkirnya Jani dan “kelompok-kelompok” terdekatnya pada tanggal 1 Oktober membawa perubahan penting dalam pandangan kepemimpinan Angkatan Darat. Walaupun Jani dan kelompoknya sudah sampai pada posisi yang tidak mudah disesuaikan dengan presiden, mereka tetap belum mau menentang presiden secara langsung dan terang-terangan mengenai kenyataan adanya dorongan presiden terhadap PKI. Namun sebagai konsekuensi percobaan kudeta, kepemimpinan Angkatan Darat jatuh ke Soeharto yang didukung oleh Nasution. Baik Soeharto maupun Nasution bukan anggota kalangan dekat presiden, dan keduanya termasuk golongan perwira senior yang telah menyatakan keprihatinan mereka dengan keengganan Jani untuk berhadapan muka dengan Soekarno secara langsung sehubungan dengan kemajuan-kemajuan PKI. Ketika “kelompok Jani” lenyap dengan sekali pukul pada tanggal 1 Oktober, kepemimpinan Angkatan Darat bergeser kepada mereka yang lebih cenderung melakukan aksi-aksi segera terhadap PKI, yang tidak begitu terpengaruhi oleh Soekarno secara pribadi .

 

Baca selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s