D.N. Aidit dan Jalan Menuju Kekuasaan

DN Aidit (Wikipedia)

DN Aidit (Wikipedia)

Demokrasi Terpimpin pertama-tama adalah suatu alat untuk mengatasi perpecahan yang muncul di dataran politik Indonesia dalam pertengahan tahun 1950-an. Untuk menggantikan pertentangan parlementer di antara partai-partai, suatu sistem yang lebih otoriter diciptakan di mana peran utama dimainkan oleh Presiden Soekarno. Ia memberlakukan kembali konsitusi presedensial tahun 1945 pada tahun 1959 dengan dukungan kuat pihak Angkatan Darat, yang juga memberikan dukungan organisasional utama bagi pemerintahan itu. Akan tetapi Soekarno sangat menyadari adanya bahaya yang mengancam kedudukan oleh keterikatan kepada tentara, sehingga agar dapat secara tetap memanfaatkan persaingan di kalangan angkatan bersenjata, ia mendorong kegiatan-kegiatan dari kelompok-kelompok sipil sebagai penyeimbang terhadap militer. Dari kelompok sipil ini yang paling utama adalah PKI. Meskipun pemimpin PKI maupun Angkatan Darat mengaku setia kepada Soekarno sebagai “ Pemimpin Besar Revolusi “, mereka sendiri masing-masing terkurung dalam pertentangan yang tak terdamaikan.

 

Soekarno berusaha mengumpulkan seluruh kekuatan politik yang saling bersaing dari Demokrasi Terpimpin dengan jalan turut membantu mengembangkan kesadaran akan tujuan-tujuan nasional. Dengan menyebut dirinya sebagai “ Penyambung Lidah Rakyat”, ia menciptakan suatu ideologi nasional yang mengharapkan seluruh warga negara memberi dukungan kesetiaan kepadanya, Pancasila, di-“gali” oleh pada tahun 1945 kemudian diikuti oleh serangkaian doktrin, yang masing-masing saling melengkapi tetapi juga dalam arti tertentu saling menghapuskan seperti Manipol-USDEK, Nasakom dan rumusan-rumusan lain yang dirakum dalam “ Panca Azimat Revolusi”. Dalam usahanya mendapatkan dukungan yang luas dalam kampanye melawan Belanda di Irian Barat dan Inggris di Malaysia, ia menyatakan bahwa Indonesia berperan sebagai salah satu pimpinan “ kekuatan-kekuataan yang sedang tumbuh “ dari dunia yang bertujuan untuk mengenyahkan pengaruh Nekolim (neokolonialis, kolonialis dan imperialis). Sebagai lambang dan bangsa, Soekarno bermaksud menciptakan suatu kesadaran akan tujuan nasional yang akan mengatasi persaingan politik yang mengancam kelangsungan hidup sistem Demokrasi Terpimpin.

 

Demokrasi Terpimpin bisa juga dilihat dalam pengertian-pengertian yang lebih bersifat tradisional. Di samping slogan-slogannya yang radikal dan persekutuan politiknya dengan PKI. Soekarno sering bertingkah laku melebihi Sultan Jawa yang tradisional daripada seorang pemimpin nasional modern. Dalam kenyataan memang tampak bahwa Soekarno tidak berminat pada soal-soal keseharian dari pembangunan ekonomi dan administrasi yang nasional, malah menekankan perlunya penyelenggaraan upacara-upacara agung, membangun monumen-monumen megah dan gedung-gedung besar di Ibu Kota, tempat para penghuni istana berkumpul di seputar penguasa yang dianggap memiliki kualitas luar biasa, bahkan dianggap sakti. Sebagaimana seorang sultan tradisional, ia menunjuk pula beberapa menteri untuk melakukan tugas-tugas kenegaraan sedang ia sendiri hanya memberikan petunjuk-petunjuk kebijakan umum. Mengikuti contoh dari kerajaan Majapahit dan Mataram, para pendahulunya, ia mengamankan kedudukan dengan cara yang sangat berhati-hati dengan menjaga keseimbangan kelompok-kelompok yang saling bersaing di sekitar istananya. Dan seperti halnya dengan penasihat-penasihat istana tradisional, mereka lebih berusaha memenangkan pengaruh pada diri sultan daripada berkeinginan untuk menumbangkannya, sementara konflik dari hari ke hari antara Angkatan Darat dan PKI menjadi tidak tidak lebih daripada perjuangan memperebutkan simpati presiden belaka.

 

Demokrasi Terpimpin, walaupun itu dapat dipahami dalam pengertian-pengertian baik tradisional maupun modern, bagaimana juga akan menemui kegagalan. Sekalipun semua golongan mengemukakan persetujuannya terhadap gagasan ideologis presiden, doktrin-doktrinnya itu sendiri sering menjadi semacam senjata baik bagi tentara maupun PKI dan kelompok-kelompok yang saling bersaing di seputar istana tersebut, ditunjang oleh organisasi-organisasi yang juga saling berkonfrontasi satu sama lain di seluruh Indonesia. Lepas dari upaya Soekarno yang tak kenal lelah untuk mendamaikan Angkatan Darat dan PKI, di satu pihak dengan cara mengemukakan pemikiran-pemikiran ideologis dan kampanye-kampanye nasional, di pihak lain dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan ritual tradisional dan melakukan politik istana, semua itu tak mampu memenangkan konflik antara organisasi-organisasi dan kepentingan-kepentingan yang diwakili oleh persaingan antara Angkatan Darat dan PKI.

 

Selama tahun-tahun pertama Demokrasi Terpimpin suatu perimbangan kekuatan yang agak stabil namun sekaligus juga goyah dikembangkan di antara tiga pusat utama yaitu presiden, kepemimpinan Angkatan Darat dan PKI. Dengan intensifikasi perjuangan Irian Barat di tahun 1960, iklim politik yang ditimbulkan pada saat itu memang mampu menunjang kekuatan politik utama untuk saling mengadakan akomodasi Tetapi kampanye di tahun 1962 yang berhasil, telah memunculkan kembali suatu periode yang tidak menentu yang hanya dapat ditenangkan kembali ketika Indonesia melancarkan penentangan terhadap pembentukan negara Malaysia pada bulan September 1963. Dikumandangkannya kampanye anti-Malaysia telah menciptakan keadaan-keadaan yang memungkinkan PKI mendapatkan kemajuan-kemajuan yang pesat, sehingga menggerogoti keseimbangan yang ada yang boleh dikatakan realtif stabil sebelumnya. Ketegangan-ketegangan kemudian muncul dari polarisasi dari kekuatan-kekuatan politik berulang kembali, karena pihak pimpianan Angkatan Darat juga mempersiapkan diri untuk menjawab tantangan yang dilancarkan oleh PKI ( Harold Crouch, 1986 : 44 – 46 )

 

Dimulainya era Demokrasi Terpimpin di Indonesia 5 Juli 1959, kebetulan berbarengan dengan kemunculan masalah lain yang tidak kalah pelik bagi kaum Komunis Indonesia; pecahnya konflik terbuka antara Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Cina. Selama beberapa tahun ke depan, antagonisme dua raksasa Komunis dunia ini mengoyak gerakan Komunis Internasional, dan secara dratis melemahkan kemampuan negara-negara Komunis mengambil inisitif internasional, memecah-belah dan melemahkan semangat partai-partai Komunis di seluruh dunia, dan menciptakan atmosfer perpecahan dan kepahitan yang bertahan cukup lama di antara pengikut kredo komunisme.

 

PKI yang hampir-hampir harus berdiri sendirian di tengah-tengah partai Komunis seluruh dunia dan harus, menghadapi badai politik dalam negeri yang mematikan, kesatuannya tetap tidak hancur dan keyakinannya tetap tidak tergoyahkan, bahkan terus tumbuh secara subtansial dalam jumlah maupun pengaruh politiknya dengan kondisi-kondisi. Sama seperti kepemimpin partai berhasil beradaptasi dengan kondisi-kondisi baru Demokrasi Terpimpin, organisasi ini juga berhasil meniti jalan di antara batu-batu tajam permusuhan yang banyak mengancam para otoritasnya. Faktor utama pencapaian ini adalah tradisi panjang independensi dan kontrol luar yang sudah dibangun PKI sejak awal didirikan tahun 1920, dan yang kemudian terus dihidupkan oleh Aidit dan kolega-koleganya menjadi batu penjuru kebijakan mereka.

 

Baca selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s