Maria Walanda Maramis dan Historiografi Indonesia

Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis

Pertanyaan klasik “Untuk apa orang menulis sejarah?” terkadang perlu direnungkan kembali oleh setiap sejarawan. Inilah momen untuk melakukan refleksi. Tindakan reflektif itu bisa jadi akan mendorong perubahan Merenungkan kembali sifat dasar sejarah guna mendorong perubahan penulisan sejarah, sungguh sangat relevan dalam konteks Indonesia yang sedang berubah dalam dua dasawarsa terakhir ini. Terjadinya suatu rezim politik niscaya membawa pengaruh yang signifikan pada bagaimana sejarah bangsa yang bersangkutan ditulis kembali.

Banyak kejadian, tokoh dan gagasan masa lalu yang sebelumnya diabaikan, dilupakan, atau dibungkam, kini dibicarakan dan ditulis kembali. Sebaliknya, banyak hal yang sebelumnya terus-menerus dibicarakan, atau diulang-ulang kini dipinggirkan, jika bukan malah disingkirkan dari wacana publik, atau tetap dibicarakan tetapi dengan cara yang berbalikan. Apa implikasinya terhadap sejarah sebagai narasi masa lalu? Ada yang skeptis dengan apa yang diklaim sebagai “obyektivitas sejarah”. Ada juga yang sinis pada “kebenaran sejarah”. Karena kebenaran sejarah milik yang mempunyai hegemoni pengetahuan.

Sebagaimana dikatakan Bernhard Lewis, ada tiga ragam sejarah, (1) Sejarah yang diingat (Remembered History). Sejarah jenis ini lebih banyak berupa pernyataan tentang masa lampau, daripada sejarah dalam pengertian yang ketat. Sejarah jenis ini disusun berdasarkan koleksi pribadi yang diklaim berasal dari generasi masa lalu hingga tradisi-tradisi yang masih hidup, sebagaimana terungkap dalam manuskrip-manuskrip, karya sastra klasik, serta historiografi warisan masa lalu. Sejarah semacam ini barangkali dapat digambarkan sebagai memori kolektif suatu bangsa atau entitas lainnya. Apa yang dipilih untuk diingat—baik melalui kerja para pemimpin, penguasa, penyair maupun pengisah—adalah yang dianggap bermakna baik sebagai realitas maupun simbol.

(2) Sejarah yang ditemukan kembali (Recovered History). Ini adalah sejarah peristiwa dan gerakan, tokoh dan gagasan, yang dalam batas tertentu telah dilupakan dan dengan alasan tertentu ditolak oleh memori kolektif suatu bangsa. Kemudian, entah setelah jangka waktu yang panjang dan pendek, diketemukan kembali oleh para ahli—melalui pengkajian atas catatan-catatan historis, ekskavasi arkeologis kota-kota yang terkubur, penafsiran dan penguraian teks-teks dan bahasa yang terlupakan, dan rekontruksi masa lampau yang dilupakan

(3) Sejarah yang ditemu-ciptakan (Invented History). Inilah sejarah yang ditulis dengan suatu tujuan lebih tepat tujuan baru, yang berbeda dari tujuan-tujuan sebelumnya. Ini merupakan sejarah yang “invented” baik dalam pengertian, yang digali dan ditafsirkan dari kedua jenis sejarah di atas bilamana mungkin, dan direkayasa bilamana tidak.

Sejarah yang diingat bisa diketemukan dalam suatu komunitas manusia, dan komunitas kecil sederhana hingga sebuah negara imperium raksaksa, dari komunitas suku hingga gejala universal. Sejarah jenis ini merupakan kebenaran puitis dan simbolis sebagaimana dipahami masyarakat pendukungnya. Jika citra-diri yang dikehendaki berubah dari masa lampau yang diingat tidak lagi mendukung hal itu berarti sejarah yang diingat itu tidak benar atau dianggap palsu.

Sejarah yang diingat dapat dilihat pada monumen-monumen dan upacara-upacara peringatan, baik yang bersifat keagamaan maupun non-keagamaan. Dalam prosesi kultural dan drama, nyanyian dan pembacaan cerita, kronik dan biografi, wiracarita dan balada, pertunjukan-pertunjukan popular dan bahkan juga pendidikan dasar, sejarah yang diingat menampakkan dirinya.

Sejarah yang diketemukan kembali merupakan hasil penemuan dan penggalian masa lampau secara kritis dan ilmiah—sesuatu yang khas dalam dunia ilmu pengetahuan Eropa modern. Orang-orang kuno, tentu dengan sedikit perkecualian, tidak tertarik dengan sejarah kuno bahkan sampai dengan timbulnya pengetahuan baru pada masa Renaissance, sebagian besar sejarah adalah sejarah yang diingat atau sejarah sezaman, dan banyak di antaranya masih merupakan sejarah bertendens.

Penemu-ciptaan sejarah tidak ada kaitannya dengan penemuan data-data historis baru. Ia merupakan praktik klasik untuk menarik mundur ke masa lampau yang jauh dengan tujuan-tujuan tertentu. Sama seperti sejarah yang diingat, sejarah yang ditemu-ciptakan ini juga ada pada setiap masyarakat, seperti terlihat pada mitos-mitos kepahlawanan dalam masyarakat sederhana hingga pada historiografi negara-negara modern.

 

Ketertidikan Perempuan

 

Sejak sebelum kemerdekaan sampai setelah kemerdekaan, keterdidikan perempuan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan kesadaran dan aktivitas gerakan feminisme di Indonesia. Secara historis kesadaran mengenai pentingnya keterdidikan perempuan di Indonesia. Secara historis kesadaran mengenai pentingnya keterdidikan perempuan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi beberapa perkembangan, yaitu kesadaran dari tokoh-tokoh bumiputera, kesadaran dari tokoh-tokoh Belanda, organisasi perempuan dan sosial dan lembaga swadaya masyarakat.

Klik selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s