Mengusut Kasus 27 Juli 1996

Tragedi 27 Juli 1996 (Foto: Arsip Nasional)

Tragedi 27 Juli 1996 (Foto: Arsip Nasional)

Secara menyeluruh terungkap bahwa faktor utama yang menjadi perhatian utama Soeharto selama dia berkuasa selama tiga dasawarsa, yaitu menguasai pusat-pusat kekuasaan (mesin-mesin politiknya), antara lain awalnya insitusi ABRI, lembaga-lembaga politik penting (DPR/MPR) melalui Pemilu 1971 maupun pada pemilu-pemilu selanjutnya. Kemudian secara bertahap menanamkan orang-orangnya di birokrasi, seorang juga mulai menata organisasi Golkar sebagai mesin politiknya yang sangat diandalkan  Soeharto (idak lepas dari peran ICMI, awal tahun 1990-an) di beberapa insitusi politik penting dan birokrasi pemerintahan.  Termasuk pada pertengahan 1970-an merealisir dua partai dan membuat PPP dan PDI semaksimal mungkin menjadi terompet kepentingan Soeharto.

Kemudian melalui ABRI, birokrasi dan Golkar (ABG) Soeharto mengontrol kekuasaannya ke seluruh penjuru tanah air. Strategi utama yang digunakan adalah mengendalikan pusat-pusat kekuasaan  (pemerintahan dan insitusi politik penting DPR dan MPR) melalui orang-orangnya di ABRI, Birokrasi dan Golkar. Ini menyebabkan tujuan utama Soeharto untuk mendapat dukungan luas dari elite militer dan sipil serta mampu mengontrol masyarakat luas ke seluruh penjuru tanah air menjadi realitas yang tidak terbantahkan. Strategi tersebut diperkuat dengan kemampuan Soeharto menggunakan “bukti rasional“ yang ditunjukan melalui angka-angka suara pero;ehan pada Pemilu 1971 dan seterusnya.

Akhirnya pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto “ menyatakan berhenti “, setelah Indonesia dihadapkan pada berbagai krisis yang masih terus  bergolak sampai akhir 1999. Krisis Asia yang berdampak pada Indonesia, dan menyebabkan negara tersebut mengalami multi krisis yang demikian dashyat, agaknya tidak pernah diperhitungkan oleh rejim pemerintah Orde Baru.

Krisis Asia membawa hikmah yang luar biasa – yaitu berakhirnya kekuasaan Soeharto. Sampai pada awal tahun 1997, dirasakan kalau rakyat Indonesia sudah tak berdaya menghadapi kelaziman dan korupnya rezim Soeharto, sehingga tak satu pun orang di negeri ini  yang akan berpikir bahwa setelah satu tahun dari masa pemilu tersebut, Soeharto akan jatuh dari tahtanya  Soeharto memang kunci penting dari tatanan politik Orde Baru, namun ia tidak sendirian. Pengikut dan rejimnya masih bercokol di pemerintahan dan menggunakan beraneka “baju” politik lainnya, dan bahkan mereka pun umumnya gemar menggunakan kata-kata reformasi. Karena itu, turunnya Soeharto bukan berarti semuanya “selesai” , warisan politik Orde Baru dan pengaruhnya sampai kini. Ini merupakan bukti kuatnya pengaruh dari mesin-mesin politik Orde Baru – yaitu ABRI, Birokrasi, dan Golkar (ABG). ( Zainuddin Djafar, 2005 : 148 – 150 )

Baca selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s