Soekarnois, Trisakti dan Sosialisme Indonesia

Pidato Vivere Pericoloso

Pidato Vivere Pericoloso

Sebagaimana kata Martin Heidegger, sejarah bukan semata-mata narasi tentang masa lalu itu sendiri, melainkan sesuatu yang hidup pada masa kini, dalam arti bagaimana narasi masa lalu dibentangkan di masa kini untuk dimaknai (sekaligus memaknai) masa kini. Pemaknaan terhadap masa lalu itu dilakukan berdasarkan konteks masa kini. Setiap pemerintahan paham betul bagaimana memproduksi makna dari sekaligus terhadap masa lalu bangsanya. Narasi peristiwa di masa lalu dikonstruksi dan direproduksi sedemikiann rupa, lalu dikomunikasikan kepada khalayak melalui berbagai media, antara lain buku-buku teks sejarah.

Buku-buku teks sejarah menghadirkan narasi masa lalu. Buku-buku teks ini juga menjadi komponen utama dalam mengkontruksi dan mereproduksi narasi nasional. Tidak ada satupun alat sosialisasi yang dapat dikomparasikan dengan buku-buku teks dalam hal perwacanaan keseragamanan, pembenaran serta versi dari apa yang seharusnya diingat dan dipercaya. Dalam konteks ini memori secara sistemik adalah perekayasaan atas apa yang ingin dan tidak ingin diingat. Di dalam proses mengingat secara bersamaan terjadi proses pelupaan, apa yang harus atau boleh diingat dan dilupakan.

Selain daripada itu, buku-buku teks sejarah menjadi “ senjata negara “ dan “ agen memori resmi “ yang bertujuan untuk memastikan terjadinya transisi dari pengetahuan resmi kepada para generasi muda. Buku-buku teks sejarah juga berfungsi sebagai semacam supreme historial court yang bertugas untuk menguraikan akumulasi “potongan-potongan masa lalu“ dan menjadikannya sebagai ingatan kolektif yang “benar“ dan sesuai dengan narasi dalam kanon sejarah nasional.

Setelah Peristiwa 1965, terjadilah proses membalikkan pemalsuan sejarah oleh rejim Soeharto dan penghapusam ingatan kolektif terhadap sejarah. Sepanjang periode tersebut, rezim terus-menerus melakukan kampanye jahat terhadap PKI dan Soekarnoisme. Simbol penting dari program tersebut adalah berbagai propaganda di sekitar Lubang Buaya, lokasi sumur di mana mayat jenderal dan perwira muda Angkatan Darat yang dibunuh disembunyikan pada tanggal 1 Oktober 1965.

Belakangan sebuah museum untuk memperingati Jenderal-jenderal tersebut dibangun di Lubang Buaya untuk melanggengkan mitos atas peristiwa –peristiwa tersebut, yang diajarkan di sekolah-sekolah, dan dimasukkan kedalam media serta film popular. Puncak dari kampanye tersebut adalah pelarangan resmi terhadap Marxisme dan Leninisme

Begitu kontra revolusi menuntaskan serangan terakhirnya, kontra revolusi menghadapi serangan balik pertama yang dilancarkan oleh orang-orang Soekarnois, penerbit Hasta Mitra, dan kemudian oleh generasi muda intelektual radikal serta aktivis politik setelahnya. Berkaitan mengenai kebangkitan kembali ingatan seajarah, bagaimanapun juga dampaknya lebih terbatas. Di tingkatan massa, “Amnesia Sejarah “ tetap bercokol. Orde Baru tidak membuang-buang waktu lagi dalam melancarkan kampanye intensif untuk memperkuat cengkramanan sejarah versinya begitu seluruh isu sejarah terancam hantu subvesif Pada tahun 1984, pemerintah mengeluarkan subjek baru untuk diajarkan di sekolah – Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Buku teks tersebut ditata sedemikian rupa agar bisa dipelajari secara hapalan, diarahkan untuk memperkuat stereotipe tentang demokrasi terpimpin, tentang PKI dan landasan Orde Baru dalam mengambil kekuasaan.

Klik Selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s