Titik Balik Perlawanan

Korban 27 Juli 1996 (Foto: Perpusnas)

Korban 27 Juli 1996 (Foto: Perpusnas)

Demonstrasi dan kerusuhan Juli, 1996, merupakan pertanda meningkatnya krisis politik bagi kontra revolusi : politik “ massa mengambang “ sedang mengalami penghancuran. Tak mengherankan, rejim melancarkan serangan langgung terhadap agen utama yang mempromosikan aksi : PRD. PRD dituduh mengorganisir kerusuhan. Kampanye propagandanya mulai mencap PRD sebagai komunis dan versi baru PKI. Perintah diturunkan untuk menangkapi semua pimpinan dan anggotanya. Sebanyak 30 pimpinan dan anggota PRD ditangkap serta dipenjara. PRD, dengan demikian, dipaksa bergerak di bawah tanah – kecuali pada tahun 1997, saat beberapa pimpinan PRD muncul “ ke permukaan “ saat diadili. Tak satu pun dibebaskan hingga Soeharto jatuh.

Sementara organisasi yang mempromosikan aksi diburu; aksi-aksi protes itu sendiri terus meningkat, bermutasi menjadi berbagai aktivitas. Aksi-kasi yang diprakarsai kelompok-kelompok PRD menyurut untuk beberapa bulan hingga organisasinya bisa dipulihkan lagi secara diam-diam dan melancarkan kampanye aksi mereka sendiri pada awal tahun 1997 dengan menggunakan bendera lain di beberapa kota. Secara spontan, aksi-aksi mahasiswa yang diorganisir secara lokal, buruh dan petani terus melanjutkan aksinya, walaupun untuk sementara media agak lebih berhati-hati.

Tapi bentuk aksi lainnya mulai terjadi ; yaitu aksi-aksi yang dilakukan oleh anggota-anggota yang baru masuk PDI-Megawati. Megawati terus menolak menerima pengesahan pemerintah terhadap PDI saingannya yang dipimpin Soerjadi. Megawati lebih memilih menentangnya di pengadilan untuk mencabut status hukum semua cabang lokal PDI yang dibentuk oleh Soerjadi. Walaupun perjuangan hukum adalah taktik yang dipilih oleh PDI-Megawati untuk melawan rejim, namun hampir setiap persidangan disertai dengan perngumpulan massa PDI yang berpawai atau berdemontrasi. Kadang-kadang anggota PDI berdemontrasi di Komisi Pemilihan Umum atau badan-badan pemerintah terkait. Aksi-aksi tersebut relatif tidak militan – meski sesekali dibubarkan dengan kekerasaan dan anggota PDI melawan balik – tapi kebijakan tersebut secara efektif bisa menyebarluaskan metode mobilisasi tersebut ke seluruh negeri. Aksi-kasi tersebut terjadi pararel dengan aksi-aksi spontanitas, itu artinya negeri ini mulai memasuki status permanen aksi.

Budaya politik “ massa mengambang “ benar-benar telah mati dan terkubur. Tapi de-organisasi masih mendominasi. Walaupun mungkin puluhan ribu orang bergabung dengan PDI-Megawati antara tahun 1993 dan tahun 1996, namun terdapat jutaan lainnya yang tak memiliki organisasi – paling tidak tak ada organisasi permanennya. Sebelum tahun 1996, kerusuhan biasanya terjadi bersamaan dengan aksi besar tertentu, biasanya diprakarsai oleh mahasiswa, yang bisa meninggalkan sentimen politik ke tahap yang lebih tinggi. Setelah Juli 1996, PDI dan aksi-aksi spontan yang terjadi selama periode yang sama bisa memasukkan berbagai isu penting ke dalam agenda politik secara bersamaan, sehingga gairah politik memasuki tahap kemarahan dan pembangkangan permanen, bahkan pemberontakan.

Pada November 1996, PRD juga sudah mengalami pengelompokan kembali dan membentuk beberapa komite aksi di beberapa kota dan mulai mengorganisir aksi. Dalam empat bulan, sampai Mei 1997, sejumlah aksi protes terus meningkat, mengangkat berbagai isu penting. Namun demikian, apa yang menimpa Indonesia dalam bulan Mei 1997, telah secara tak langsung sudah diisyaratkan oleh kejadian yang menanadai lahirnya tahap baru pembakangan dan jenis alinasi baru, yakni peristiwa di Lampung, Sumatera Selatan, pada Desember 1996. Ketika itu, tepatnya tanggal 10 dan 11 Desember 1996, kota Lampung dilumpuhkan oleh kombinasi mogok supir-supir mikrolet dan bus, dengan demontrasi mahasiswa serta pelajar. Aksi gabungan antara mahasiswa, pelajar dan supir tersebut sedikit banyak terjadi secara spontan.

Baca selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s