Reorganisasi ABRI dan Reformasi

Soekarno Memimpin Upacara

Soekarno Memimpin Upacara Kemiliteran (Foto: Wikipedia)

Reorganisasi di tingkat Markas Besar ABRI Tahun 1984. Dalam perencanaan strategis Pembangunan Kekuatan Angkatan Bersenjata ( Renstra Bangkuat ABRI Tahun 1984 merencanakan antara lain bahwa untuk dapat mengawal dan ikut serta dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II yang menjangkau kurun waktu tahun 2000-an, diperlukan postur ABRI yang sesuai denghan tuntutan jaman. Usaha untuk lebih mengintegrasikan seluruh kekuatan dalam tubuh ABRI sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 1960-an. Tujuannya adalah untuk membentuk TNI-ABRI yang makin kuat dan kompak, serta siap menghadapi perkembangan lingkungan strategis dalam dan luar negeri yang semakin kompleks. Pembangunan dan penentuan fungsi serta pelaksanaan sistim kerja yang lebar dinilai tidak sesuai lagi dengan tuntutan dan peraturan jaman, serta sudah saatnya diadakan penyempurnaan ke arah suatu sistim yang lebih efektif dan efisien.

Dengan reorganisasi maka diharapkan ABRI dapat melaksanakan tufasnya dalam satu perencanaan, secara komprehensif melanjutkan upaya integrasi yang telah dimulai pada tahun 1970-an terus dikembangkan mencakup bidang pembinaan dan penggunaan kekuatan.

Pada tahun 1982, dengan diterapkannya UU Nomor 20/1982 tentang Pokok-pokok penyelenggaraan pertahanan dan keamanan negara, reorganisasi di lakukan di lingkungan organisasi Departemen Pertahanan Hankam dan Mabes ABRI. Kedua lembaga tersebut dipisahkan guna mendukung optiomatilisasi, efisisensi dan efektifitas untuk dapat melaksanakan tugas pokok masing-masing secara maksimal.

Dalam reorganisasi tahun 1982, Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) dan Komando Strategis Nasional (Kostranas) dilikuidasi, dan fungsi kedua komando tersebut dilimpahkan kepad Komando Daerah Militer (Kodam) dan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) didukung oleh dua komando armada TNI AL dan komando operasi TNI AU. Reorganisasi ini telah memperkecil jumlah Kodam. Pembentukan Kodam yang sebelumnya didasarkan atas struktur kewilayahan, diubah berdasarkan strategi pertahanan pulau.

Dengan perkembangan tersebut maka jumlah Kodam di seluruh Indonesia terdiri dari 17 kodam menjadi 10 termasuk satu Kodam di Jakarta. Komando Dearah Angkatan Laut (Kodaeral) dan Komando Daerah Angkatan Udara (Kodau) semula masing-masing merupakan Komando Utama (Kotama) TNI-AL dan TNI-AU dihapuskan dan digantikan dengan prenataan sistim pangkalan yang lokasinya digeser menempati daerah yang mempunyai nilai strategis dan taktis yang tinggi. Komando Daerah Angkatan Laut dikelompokkan menjadi Komando Armada Kawasan Barat dan Komando Armada Kawasan Timur. Sedang Komando Daerah Operasi Angkatan Udara menjadi Komando Operasi TNI Angkatan Udara I dan Komando Operasi TNI Angkatan Udara II. Komando Daerah Angkatan Kepolisian jumlahnya 17 tetap dipertahankan hanya sebutan yang berubah menjadi Polisi Daerah (Polda) dengan pertimbangan bahwa tugas-tugas kepolisian selaku pembina Keamanan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di daerah erat hubungannya denngan tugas-tugas Pemerintah Daerah.

Semua upaya reorganisasi dan penyempurnaan organisasi di lingkungan TNI-ABRI dilakukan dengan tetap mengacu pada terbentuknya sasaran postur ABRI yang realtif kecil, tetap efektif dan efisisen.

Baca selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s