Surutnya Peran Sosial Politik Militer

Pada 21 Mei 1998, setelah tekanan politik besar dan beberapa demonstrasi, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di televisi (Foto: Wikipedia)

Pada 21 Mei 1998, setelah tekanan politik besar dan beberapa demonstrasi, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di televisi (Foto: Wikipedia)

Menurut Samuel Huntington, demokrasi bisa berjalan dalam empat hal, yaitu (1) dengan cara transformasi di mana elite yang berkuasa melopori proses perwujudan demokrasi; (2) dengan cara pergantian (replacement) di mana kelompok oposisi mempelopori proses perwujudan demokrasi dari rejim otoriter tumbang dan digulingkan; (3) dengan cara transplacement di mana proses demokratisasi merupakan hasil tindakan bersama kelompok pemerintah dan kelompok oposisi; dan (4) dengan cara intervensi yaitu proses demokratisasi akibat intervensi pihak luar atau asing dengan menjatuhkan rejim otoriter.

Demokratisasi berjalan dalam beberapa tahapan. Pertama, tahap transisi, Dalam tahap ini terjadi kombinasi di antara beberapa hal, yaitu kritisme dan perlawanan dari luar rejim; rejim mengalami perpecahan internal, angkatan bersenjata mengalami perpecahan atau perubahan orientasi politik, rejim menghadapi krisis ekonomi, dan atau politik yang semakin sulit dikelola, dan tuntutan-tuntutan perubahan semakin kuat.

Kedua adalah tahap liberalisasi awal. Dalam tahap ini yang terjadi adalah jatuh dan berubahnya rejim lama; meluasnya hak-hak politik rakyat, terjadinya ketidaktertataan pemerintahan, terbentuknya ketidakpastian dalam banyak hal, dan terjadinya ledakan partisipasi politik, di antaranya dilaksanakan pemilihan umum yang demokratis dan pergantian pemerintakan sebagai konsekuensi dari hasil pemilihan umum.

Ketiga adalah tahap transisi. Dalam tahap ini berlangsung dengan telah adanya pemerintahan baru yang bekerja dengan legitimasi yang baru. Tahap keempat adalah konsolidasi demokrasi. Dalam tahap ini membutuhkan waktu yang lama karena harus menghasilkan perubahan yang ditandai dengan telah terlihatnya perubahan cara berpikir (paradigma), pada pelaku, tabiat dan kebudayaan dalam masyarakat.

Tahapan-tahapan di atas tidak selalu berlangsung mulus. Dalam banyak kasus ada negara yang bisa melewati pra transisi dengan baik, namun gagal setelah liberalisasi politik awal. Ada negara yang berhasil dalam tahapan liberalisasi politik awal namun gagal menjalani transisi dan akhirnya kembali ke sistem lama yang otoriter. Ada negara yang berhasil menjalani transisi, tetapi gagal dalam menjalani konsolidasi kekuasan.

Dalam konteks itu maka ada tiga macam interaksi yang menentukan dalam proses demokratisasi, yaitu (1) interaksi antara pemerintah dengan kelompok oposisi; (2) interaksi antara kelompok pembaharu dengan kelompok konservatif dan pemerintah koalisi; (3) interaksi antara kelompok moderat dengan kelompok ekstrim di dalam kelompok oposisi.

Menurut Huntington, ketiga interaksi utama ini memainkan peran tertentu dalam semua jenis transisi; apakah itu transformasi, replacement maupun transplacement Dalam tranformasi, interaksi antara kelompok pembaharu dengan kelompok konservatif dalam pemerintahan koalisi merupakan interkasi yang terpenting, dan transformasi hanya terjadi jika kelompok pembaharu lebih kuat daripada kelompok konservatif. Ketika transformasi berlangsung, kelompok moderat yang beroposisi sering dikooptasi ke dalam koalisi yang berkuasa. Sementara kelompok konservatif yang menentang demokratisasi keluar dari koalisi.

Dalam replacement, interaksi pemerintah dengan kelompok oposisi serta interaksi antara kelompok moderat dengan kelompok ekstrim berperan penting, kelompok oposisi pada akhirnya harus lebih kuat daripada pemerintah, dan kelompok moderat harus lebih kuat daripada kelompok esktrim.

Dalam transplcement, interaksi utama adalah interaksi antara kelompok pembaharu dengan kelompok moderat yang perbedaan kekuatannya tidak begitu timpang dan masing-masing kelompok mampu mendominasi kelompok anti demokrasi yang berada pada masing-masing digaris pemisah antara pemerintah dengan pihak oposisi.

Indonesia sepeninggalan Soeharto bila mengikuti teoritisi yang dikemukakan oleh O’Donnel dan Schmitter memasuki fase “ liberalisasi politik awal ”. Fase ini secara teoritis sebagai fase “ transisi dari otoriterianisme entah menuju kemana “. Menurut O’Donell dan Schmitter, transisi adalah interval antara suatu rezim politik dan rezim yang lain. Transisi dimulai dari perpecahan sebuah rezim ororitarian dan pengesahan beberapa bentuk demokrasi, atau kembalinya beberapa bentuk pemerintahan otoriter atau kemunculan suatu aktor revolusioner. Cara tipikal yang menadai fase transisi adalah ketika para penguasa otoriter, demi alasan apapun, memulai memodifikasi peraturan-peraturan mereka sendiri sebagai jaminan yang lebih kuat bagi hak-hak individu dan kelompok.

Baca selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s