TNI dan Demokrasi Terpimpin

Presiden Soekarno memimpin sidang kabinet Dwikora di Istana Bogor, 15 Januari 1966 (Foto: Arsip Nasional)

Presiden Soekarno memimpin sidang kabinet Dwikora di Istana Bogor, 15 Januari 1966 (Foto: Arsip Nasional)

Demokrasi Terpimpin pertama-tama adalah untuk suatu alat menghadapi perpecahan yang muncul di dataran politik Indonesia dalam pertengahan tahun 1950-an. Untuk menggantikan pertetangan parlementer di antara partai-partai, suatu sistem yang lebih otoriter diciptakan di mana peran utama dimainkan oleh Presiden Soekarno. Ia memberlakukan kembali konsitusi presidensial di tahun 1945 pada tahun 1959 dengan dukungan kuat dari Angkatan Darat, yang juga memberikan dukungan organisasional utama bagi pemerintahan ini. Akan tetapi Soekarno sangat menyadari adanya bahaya yang mengancam kedudukannya oleh keterikatannya kepada tentara, sehingga agar dapat secara tetap memanfaatkan persaingan di kalangan angkatan bersenjata. Ia mendorong kegiatan-kegiatan dari kelompok-kelompok sipil sebagai penyeimbang terhadap militer. Meskipun pemimpin PKI maupun Angkatan Darat mengaku setia kepada Soekarno sebagai “ Pemimpin Besar Revolusi:, mereka sendiri masing-masing terkurung dalam pertentangan yang tak terdamaikan.

Soekarno berusaha mengumpulkan seluruh kekuatan politik yang saling bersaing dari Demokrasi Terpimpin dengan jalan turut membantu mengembangkan kesadaran akan tujuan-tujuan nasional. Dengan menyerbut dirinya sebagai “ Penyambung Lidah Rakyat“, ia menciptakan suatu ideologi nasional yang mengharapkan seluruh warga negara memberi dukungan kesetian kepadanya. Pancasila, di “ gali “ olehnya pada tahun 1945 kemudian diikuti oleh serangkaian doktrin, yang masing-masing saling melengkapi, tetapi dalam arti tertentu saling menghapuskan seperti Manipol USDEK, Nasakom dan rumusan-rumusan lain yang dirangkum dalam “Panca Azimat Revolusi”. Dalam usahanya mendapatkan dukungan yang luas dalam kampanye melawan Belanda di Irian Barat dan Inggris di Malaysia, ia menyatakan bahwa Indonesia berperan sebagai salah satu pimpinan “kekuatan-kekuatan yang sedang tumbuh” dari dunia, yang bertujuan untuk mengenyakan pengaruh Nekolim (neokolonialisme, kolonialisme dan imperialisme). Sebagai lambang dari bangsa, Soekarno bermaksud menciptakan suatu kesadaran akan tujuan nasional yang akan menguasai peesaungan politik yang mengancam kelangsungan hidup suatu Demokrasi Terpimpin

Demokrasi Terpimpin bisa juga dilihat dalam pengertian-pengerian yang lebih bersifat tradisional. Di samping slogan-slogannya yang radikal dan persekutuan politiknya dengan PKI. Soekarno sering bertingkah laku melebihi sultan Jawa yang tradisional daripada seorang pemimpin nasional modern. Dalam kenyataan memang nampak bahwa Soekarno tidak berminat pada soal-soal keseharian dari pembangunan ekonomi dan administrasi yang rasional, malah lebih menekankan perlunya penyelenggaraan upacata-upacara agung, membangun monumen-monumen megah dan gedung-gedung besar di Ibu Kota, tempat para penghuni istana berkumpul di seputar seorang penguasa yang dianggap memiliki kualitas luar biasa, bahkan dianggap sakti. Sebagaimana seorang sultan tradisonal, ia menunjuk pula beberapa menteri untuk melakukan tugas kenegaraan, sedang ia hanya memberi petunjuk-petunjuk kebijakan umum. Mengikuti contoh dari kerajaan Majapahit dan Mataram, para pendahulunya, ia mengumumkan kedudukannya dengan cara sangat berhati-hati dengan menjaga keseimbangan kelompok-kelompok yang saling bersaing di sekitar istananya. Dan seperti halnya dengan penasihat-penasihat istana tradisional, mereka lebih berusaha untuk menenangkan pengaruh pada diri sultan daripada berkeinginan untuk menumbangkannya, sementara konflik dari hari ke hari antara Angkatan Darat dan PKI menjadi tidak lebih daripada perjuangan memperebutkan simpati presiden belaka.

Baca selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s