TNI dan Perang Kemerdekaan

Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944 (Foto: Wikipedia)

Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944 (Foto: Wikipedia)

Berbeda dari banyak angkatan bersenjata lain di Dunia Ketiga, Tentara Nasional Indonesia, terutama angkatan daratnya, merupakan salah satu dari angkatan bersenjata yang dilahirkan sebagai pasukan pembebasan nasional. Hal ini merupakan konsekuensi dari keadaan-keadaan istimewa yang terjadi di Indonesia. Setelah lebih dari tiga abad kolonialisme Belanda, Indonesia dijajah oleh Jepang dari Maret 1942 sampai Agustus 1945. Selama periode ini, seperti halnya tempat lain di Asia Tenggara, rakyat Indonesia harus mengalami penderitaan. Sementara warisan penderitaan dan dominasi asing meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapuskan pada jiwa orang Indonesia, secara militer pihak Jepang juga memainkan peranan penting dalam mempengaruhi arah masa depan politik dan masyarakat Indonesia Hal ini tercermin dari upaya-upaya Jepang dalam mencipatakan berbagai organisasi militer dan semi-militer di negara ini selama masa peralihan pemerintahan.

Untuk orang-orang Indonesia, hal ini penting karena punya sejumlah konsekuensi terobosan. Walaupun Belanda menggunakan orang setempat dalam angkatan bersenjata kolonialnnya, Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), sangat sedikit orang Indonesia menjadi perwira. Pangkat tertinggi yang diperoleh sebelum tahun 1940 hanya jabatan mayor. Sebaliknya, ketika orang Jepang membentuk berbagai kelompok militer – Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Barisan Pelopor, Seineindan, Keibodan, Heiho dan Boei – kelompok-kelompok ini dipimpin oleh pimpinan lokal. Maka, ketika Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945 kepada Sekutu, mereka mewariskan Indonesia sejumlah besar angkatan berrsenjata. Lebih penting, kelompok-kelompok militer ini dipimpin oleh orang-orang lokal, dengan mengabaikan hirarki militer yang akan memainkan peran menentukan dalam militer dan politik Indonesia untuk dua generasi selanjutnya. Pemimpin-pemimpin militer dan angkatan-angkatan bersenjata yang dilatih oleh Jepang akan menjadi pengawal Revolusi Indonesia yang pecah dalam periode Agustus 1945 sampai Desember 1949.

Setelah Jepang menyerahm kepemimpinan politis negara ini dibawah Soekarno dan Hatta, memutuskan untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kepemimpinan politik pada umumnya terdiri dari “generasi tua“ yang telah menjadi pemimpin-pemimpin nasionalis di bawah pemerintah Belanda. Penjajahan Jepang membangkitkan generasi politik yang baru yang disebut Pemuda yang di kemudian hari mengkristal menjadi Angkatan 45. Banyak pemimpin nasionalis dididik dan dilatih di Barat dan biasanya datang dari kelas priyayi, elite Jawa feudal tradisional. Orang Jepang menghancurkan otoritas politik dan prestise ptiyayi dengan mengijinkan vakum politik yang ada untuk diisi oleh Pemuda, yang banyak diantaranya merupakan anggota militer, dan yang pada akhirnya menjadi kelas politik terkemuka di negara ini selama beberapa dasawarsa berikutnya. Dampak Pemuda pada politik Indonesia segera dirasakan.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 yakni sehari sebelum Jepang menyerah. PETA dan Heiho secara resmi dibubarkan. Ketika Kaisar Jepang mengumumkan penyerahan diri Jepang dan memerintahkan untuk menghentikan permusuhan dengan Sekutu, hal ini segera menciptakan vakum militer di negara ini. Kekosongan ini semakin diisi oleh kelompok-kelompok bersenjata lokal yang mulai merampas senjata dari pihak Jepang, yang karenanya menjadi “ pengawal-pengawal pretorian “ yang baru. Pada saat yang sama, pengumuman penyerahan Jepang menimbulkan perbedaan pandangan mengenai bagaimana proklamasikan kemerdekaan harus dikeluarkan. Pemimpin-pemimpin yang lama, seperti misalnya Soekarno dan Hatta, ingin meneruskan kerja sama merdeka dengan Jepang, dalam rangka mencegah konflik bersenjata, sementara para pemimpin pemuda bertekad mengakhiri semua ikatan dengan Jepang, termasuk menolak janji Jepang mengenai “ kemerdekaan dalam waktu dekat.” Pada akhirnya “ kaum muda memperoleh jalan mereka ketika ketikia pemimpin-pemimpin lama menjadi sadar, bahkan pihak Jepang tak lagi memiliki kekuasaan dan otoritas apa pun sejak penyerahan diri dari pemerintah di Tokyo. Jadi, proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan sepenuhnya bebas dari ikatan apapun dengan pemerintah militer Jepang ( Bilveer Singih, 1996 : 25 – 27 )

Baca selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s