Masyarakat Terbelah dan Konsolidasi Demokrasi

Republik adalah ide minimal untuk menyelenggarakan keadilan, kesetaraan dan kemajemukan. Di dalam Republik, status primer seseorang adalah sebagai warga negara (citizen). Ia tentu memiliki sejumlah status privat: agama, etnis dan lain-lain.  Di sini, kita menyelenggarakan kemajemukan. Artinya, kita bukan sekadar mengakui perbedaan pandangan hidup, tapi kita sendiri juga dapat berubah pandangan hidup. Dalam kemajemukan, kita dapat menyebut kebenaran itu “relatif”, melainkan “ tentatif”. Karena itu selalu terbuka untuk berselisih pendapat agar kita bisa bercakap-cakap.

Kemajemukan dan suasana Republik, sesungguhnya telah kita miliki sebelum Proklamasi Kemerdekaan diucapkan, Sumpah Pemuda adalah sumber energi kemajemukan yang sesungguhnya Pikiran politik di tahun 1928 itu menyadari sepenuhnya  kondisi ideologis  bangsa ini, kondisi yang potensial bagi konflik, dan karena itu para pemuda hanya bersepakat untuk tiga hal “ satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Sumpah Pemuda tidak bersepakat demi soal-soal akhirat, tetapi urusan antar manusia di bumi, manusia yang beragam. Mereka bersumpah untuk sesuatu yang “sosiologis” (tanah, bangsa dan bahasa), karena paham bahwa “ yang teologis “ tidak mungkin dijadikan tali pengikat politik.

Salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat modern yang demokratis  adalah terwujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan masyarakat serta mewujudkannya sebagai suatu keniscayaan. Kemajemukan ini merupakan hukum alam. Masyarakat yang majemuk itu tentu saja nemiliki aspirasi yang beraneka, tetapi mereka seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada superioritas antara satu kelompok sosial dengan lainnya. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik. Namun, kadang-kadang perbedaan ini menimbulkan konflik di antara mereka. Maka, sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini dimunculkan konsep atau paham kemajemukan. Paham kemajemukan bisa diartikan sebagai sebagai keberadaan atau toleransi keragaman etnik atau kelompok kultural  dalam suatu masyarakat atau negara, serta keragaman kepercayaan dan sebagainya.

Untuk mewujudkan dan mendukung kemajemukan tersebut, diperlukan adanya toleransi. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah mengakui adanya kemajemukan sosial, kenyataan permasalahan toleransi ini masih sering muncul dalam suatu masyarakat, termasuk di Eropa Barat dan Amerika Serikat Persoalan yang muncul ini terutama berhubungan dengan ras dan agama. Kedua hal ini bahkan kadang-kadang menyatu, seperti dalam kasus Israel–Palestina, Serbia–Bosnia, dan sebagainya.

Setiap kelompok masyarakat, apakah itu berdasarkan ikatan agama, etnis ataupun orientasi politik tertentu, sesungguhnya memiliki elemen civility, yaitu elemen untuk melakukan hubungan manusiawi. Elemen ini merupakan kekayaan baik di dalam diri setiap kelompok maupun bangsa, karena di dalamnya menyuarakan tema kebersamaan dan sekaligus penghormatan atas kepentingan individu dan kelompok. Dengan demikian, civility memberikan sumbangan penting terbentuknya solidaritas besar antar kelompok yang sehat.

Selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s