Tjipto Mangoenkoesomo dan Nasionalisme Indonesia

Tjipto Mangoenkoesomo

Dr Tjipto Mangoenkoesomo adalah salah satu dari kaum bumiputera terpelajar pertama yang dengan sadar berpikir tentang kemajuan bumiputra dalam kaitannya dengan dominasi politik dan subordinasi. Ia mulai mengekspresikan gagasannya secara terbuka pada 1907 melalui tulisannya dalam surat kabar liberal berbahasa Belanda di Semarang De Locomotief. Sewaktu Boedi Oetoemo berdiri pada 1908, ia terpilih sebagai komisaris dalam kongres pertamanya. Pada kongres itu, ia mendorong anggota-anggota BO untuk berkecimpung di lapangan politik. Untuk itu, ia berdebat panjang dengan Dr Radjiman Wediodiningrat. Tidak lama kemudian, ia keluar dari BO. Akan tetapi dalam kongres itulah ia sempat berjumpa dengan Douwes Dekker, Tiga tahun kemudian ia bergabung dengannya sebagai redaktur pembantu organ Indische Partij. De Expres dan Het Tijdschrift, dan menjadi onder-voorzitter Indische Partij. Selama di Bandung pada 1912 – 1913, ia belajar ketrampilan jurnalistik pada Douwes Dekker. Tetapi, IP singkat hidupnya. Kemudian membentuk Comite Boemipoetra bersama Soewardi Suryaningrat untuk memprotes peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis dan menuntut dibentuknya parlemen. Pada Juli 1913, ia dan Soewardi diciduk karena artikel Soewardi  “ Als ik eens Nederlander was “ dan pada awal September mereka berdua dibuang ke Negeri Belanda.

Pada pertengahan 1914, Tjipto kembali ke Hindia karena sakit. Ia menetap di Surakarta dan bergabung dengan organisasi pengganti IP, Insulinde yang bermarkas di Semarang.  Sebagai salah seorang dari tiga serangkai pemimpin IP yang sudah membuktikan keteguhan hati dengan dibuang, wibawanya jadi tinggi bukan hanya di kalangan anggota Insulinde, tetapi juga di kalangan yang oleh Rinkers disebut sebagai orang-orang IP.  Mereka memanggilnya “ Onze Tjip “ dengan penuh hormat. Mereka melihatnya sebagai “ pejuang yang tangguh dan tidak gentar, seorang satria  tanpa cela.” Dari tahun 1914 sampai 1916, ia menjadi anggota hoofdbestuur Insulinde dan hoofdredacteur organ-organ Insulinde yaitu Goentoer, Goentoer Bergerak, Modjopahit, De Voorpost (Pelopor) dan De Indier. Bagaimanapun juga pada tahun-tahun tersebut, Tjipto tetap dipandang sebagai seorang ex-banneling (bekas hukuman) dan pemimpin IP “ revolusioner “  oleh pegawai adiministrasi Belanda dan bumiputera. Oleh karena itu, tulisan-tulisannya bolak-balik disita dan aktivitas propagandanya terang-terangan dibikin kacau. Khusus pada 1915, dua kali ia dituntut dan pamfletnya Persdelict dan ik beschuldmg disita. Sewaktu ia melakukan tur propaganda di Juana pada pertengahan 1916, permohonan hoofdbestuur Insulinde untuk mengadakan rapat umum propaganda terbuka ditolak oleh asisten residen dan Insulinde  afdeling Juana yang dibentuk Tjipto dipaksa bubar  oleh penguasa setempat  Ia sendiri melewati prosedur interogasi yang dilakukan residen Semarang, yang kemudian mengusulkan kepada gubernur jenderal agar ia dibuang lagi ke luar Jawa. Ia terpaksa keluar dari hoofsbestuur Insulinde dan berhenti sebagai hoofdredacteur de Indier pada pertengahan 1916 karena merasa terancam oleh ide pembuangan itu.

Selama tahun-tahun tersebut, Tjipto tinggal di Surakarta sebagai dokter praktek, tetapi ia juga pernah tinggal di Semarang pada awal 1916, namun tidak lama. Sebagai seorang teosofis, sudah tentu ia sering berkunjung ke tempat pertemuan teosofi, tempat bergengsi orang Belanda, Indo, Cina, para pengeran Kesunanan, Mangkunegaraan, kalangan aristokrat, dan pejabat tinggi di Surakarta. Meskipun demikian, di sini lagi-lagi ia tidak dihiraukan oleh kalangan aristokrat progresif berpendidikan barat yang memimpin BO  Ini karena Tjipto, seperti dikatakan oleh Dwidjosewojo,  “ tidak bisa diperbaiki lagi.” Barangkali gaya Tjipto yang tanpa tedeng aling-aling, blak-blakan, dan kritiknya yang menyakitkan terhadap tradisi budaya Jawa terlalu berat bagi pemimpin BO yang secara budaya amat angkuh, tetapi secara politik, pengecut. Meskipun demikian, baik pemimpin BO maupun kaum etisi Belanda tidak bisa menyangkal “ kejujuran Tjipto, sikapnya yang nyata-nyata tidak egois, dan siap berkorban“. Seperti suatu kali ditulis Hazeu kepada gubernur jenderal, bahwa Tjipto adalah pemimpin “ dengan standar (moral) yang benar-benar tinggi dibandingkan dengan kebanyakan tokoh terdepan pergerakan zaman ini.”

Selanjutnya…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s