Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Sejarah dan Masa Depan

Sejarah yang Dilupakan

Pada dini hari Oktober 1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpanfad) Letnan Jenderal Ahmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik  dari rumah-rumah mereka di Jakarta, dan dibawa dengan truk ke sebidang areal perkebunan di Lubang Buaya. Para penculik membu8nuh Yani dan dua jenderal lainnya pada saat penangkapan berlangsung. Tiba di areal perkebunan beberapa saat kemudian pada pagi hari itu, mereka membunuh tiga jenderal lainnya dan melempar enam jasad mereka kesebuah sumur mati.  Seorang letnan yang salah tangkap dari rumah jenderal ketujuh yang lolos dari penculikan, menemui nasib dilempar ke dasar sumur yang sama.

Pagi hari itu juga orang-orang di balik peristiwa pembunuhan itu pun menduduki station pusat RRI, dan melalui udara menyatakan diri sebagai anggota pasukan yang setia kepada Presiden Soekarno. Adapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah untuk melindungi Presiden dari komplotan jenderal kanan yang akan melancarkan kudeta. Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa, yang bertanggung jawab mengawal Presiden, dan menamai gerakan mereka Gerakan 30 September. Dalam sebuah unjuk kekuatan, ratusan pendukung G-30-S menduduki Lapangan Merdeka di pusat kota. Lalu pada sore dan petang hari 1 Oktober, seperti menanggapi isyarat dari Jakarta, beberapa pasukan di Jawa Tengah menculik lima perwira pimpinan mereka.

Geraklan 30 September tumbang secepat kemunculannya. Dengan tidak adanya Yani, Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih komando Angkatan Darat pada pagi hari  Oktober, dan pada petang hari ia melancarkan serangan balik. Pasukan G-30-S meninggalkan stasiun RRI dan Lapangan Merdeka yang sempat mereka duduki  selama dua belas jam saja. Semua pasukan pemberontak akhirnya ditangkap atau melarikan diri dari Jakarta pada pagi hari 2 Oktober. Di Jawa Tengah, G-30-S hanya bertahan smapai 3 Oktober. Gerakan 30 September lenyap sebelum anggota-anggotanya sempat menjelaskan tujuan mereka kepada publik. Pimpinan G-30-S bahkan belum mampu sempat mengadakan konferensi pers dan tampil memperlihatkan diri di depan karena para fotografer.

Soeharto menuduh Partai Komunis Indonesia mendalangi G-30-S, dan selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yang terkait dengan partai itu.  Tentara Soeharto menangkapi satu juta orang lebih. Semua dituduh terlibat dalam G-30-S. Dalam salasatu pertumpahan daerah terburuk di abad keduapuluh , ratusan ribu orang dibantai, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dari akhir 954 sampai pertengahan 966 ( John Rossa,  2008 – 3 – 5 )

Penggalian jenazah para jenderal AD itu diliput televisi, tentunya dengan harapan agar massa rakyat yang terbakar menaruh simpati dan berpihak kepada AD. Pada hari HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965, iring-iringan jenazah para jenderal AD disaksikan oleh ratusan ribu pasang mata yang sedih sepanjang jalan menuju TMP Kalibata. AH Nasution yang belum pulih benar dari cidera ringan yang dialaminya ketika berusaha meloloskan diri pada tanggal 1 Oktober 1965 mengucapkan pidato pemakaman sambil berdiri dengan menggunakan tongkat. Dengan tegas AH Nasution mengatakan para perwira AD yang  dimakamkan itu merupakan korban fitnah. Pada hari yang sama, NU di Jakarta diikuti oleh Perti, Partai Katolik dan PNI pimpinan Hardi menuntut agar PKI dengan ormas bawahannya dilarang dan dibubarkan (Ulf Sundhaussen, 1986 : 377 – 379).

klik selanjutnya…..


Romusha, Jugun Ianfu dan Keresahan Sosial

Jika orang Indonesia diminta mengatakan satu faktor apa saja sebagai pengalaman yang paling mengerihkan selama pendudukan Jepang mungkin dia akan menjawab Romusha. Kata Jepang Romusha yang hebat ini secara harfiah berarti seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Akan tetapi dalam konteks sejarah Indonesia istilah ini mempunyai pengertian khusus yang mengingatkan rakyat akan pengalaman yang sangat pahit di bawah pemerintahan militer yang kejam.

Bagi orang Indonesia, Romusha berarti seorang buruh kuli yang dimobilisasikan bagi pekerjaan kasar di bawah kekuasaan militer Jepang. Mereka yang pada umumnya petani biasa yang diluar kehendak mereka, diperintahkan supaya bekerja pada proyek-proyek pembangunan dan pabrik. Jutaan orang dimobilisasikan dengan cara ini dan tidak sedikit di antaranya yang dikirim ke luar negeri. Banyak diantaranya meninggal karena kerja keras dan kondisi yang yang sangat buruk. Banyak lainnya, yang cukup beruntung bertahan hidup, menderita akibat penyakit, kekurangan gizi, dan luka-luka. Keluarga mereka, yang pencari nafkahnya dibawa pergi, menderita akibat kemiskinan, dan tanah pertanian mereka sering dibiarkan tak ditanami karena langkahnya tenaga kerja. Akhirnya, hal ini menyebabkan situasi rendahnya produktivitas pertanian.

Salah satu tujuan pokok pendudukan Jepang di Asia Tenggara ialah untuk memperoleh sumber-sumber ekonomi, dan untuk menciptakan suatu landasan pokok ekonomi yang penting demi kelangsungan perang di sana. Jepang terutama mempertahankan kegiatan-kegiatan ekonomi, dan memberikan serta mencurahkan tenaga besar-besaran dalam bidang ini. Upaya-upaya dibuat tidak hanya dalam kegiatan-kegiatan produktif, tetapi juga dalam pembangunan infrastruktur yang akan meningkatkan produksi. Dalam menjalankan proyek-proyek ini, Jepang menganggap tenaga kerja di Jawa yang berlebihan sebagai salah satu sumber daya terpenting. Jawa, dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi serta surplus tenaga kerja, memberikan sumber daya yang paling penting di Asia Tenggara. Sejak tahap perang yang sangat dini, penguasa Jepang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan mobilisasi efektif atas tenaga kerja kerja setempat di Jawa dan memasoknya ke seluruh wilayah  selatan  (Aiko Kurosawa, 1993 : 123 – 124 )

Sudah sebelum jatuhnya Pearl Habour diputuskan Jepang akan menggunakan tenaga Romusha – di wilayah-wilayah pendudukan. Ini sesuai dengan rencana untuk memanfaatkan semua potensi, termasuk potensi pekerja, di daerah-daerah jajahan. Tidak lama sesudah Pulau Jawa diduduki, para Romusha dikumpulkan. Mereka dipekerjakan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat perang yang hebat. Walaupun tentara Hindia Belanda tidak memberikan banyak perlawanan, mereka banyak merusak pelabuhan, tambang dan instalasi minyak. Jembatan saja sudah hampir dua ratus yang diledakkan. Dalam tahap pertama masa penjajahan, “ orang-orang Jepang merekut tenaga kerja sedikit banyak secara ad hoc, melalui pamong praja setempat” Mendapatkan tenaga kerja tidak sulit. Dengan runtuhnya perekonomian Hindia Belanda, banyak orang Indonesia yang menganggur dan pemerintah lokal lebih senang melihat para penganggur ini bekerja daripada berkeliaraan dijalan. Kebanyakan dari mereka dipekerjakan di daerahnya sendiri. Biasanya untuk jangka waktu tiga bulan, dan mereka mendapat upah yang pantas. Dalam masa awal itu, pendayaangunaan tenaga Romusha di Jawa secara keseluruhan bisa dikatakan bersifat memberi kesempatan pekerjaan. Mirip dengan wajib kerja di masa penjajahan Belanda.

Hingga akhir 1943, kebutuhan Jepang akan tenaga kerja pribumi tidak terlampau berlebihan. Namun, pada 31 Mei 1943 di Tokyo diadakan sebuah konferensi kekaisaran yang mengubah keadaan ini, Pada konferensi itu diputuskan mengingat jalannya peperangan Pasifik, untuk beralih dari strategi ofensif ke strategi defensif. Konsekuensinya adalah bahwa proyek-proyek pertahanan yang besar harus dibangun di wilayah Nanyo. Wilayah-wilayah dengan kelebihan tenaga kerja wajib mengirimkan Romusha ke wilayah yang kekurangan tenaga kerja. Aparat kekaisaran tidak selalu lancar jalannya. Baru dalam bulan Oktober tahun itu Markas Besar Wilayah Selatan, yang pada waktu itu berkedudukan di Singapura, diadakan  pembicaraan untuk menerjemahkan garis-garis pengarahan kekaisaran ke dalam peraturan pelaksanaan. Yamamoto menghadirinya sebagai wakil pemerintah militer di Jawa. Salah satu keputusan yang diambil di Singapura waktu itu, ialah bahwa Pulau Jawa yang berpendudukan padat itu harus mengirimkan tenaga romusha ke Sumatera, Kalimantan, dan Malaka.

Klik selanjutnya…..


Proklamasi Kemerdekaan

Sejak 7 September 1944 dan seterusnya perkembangan sosio-politik menemukan momentum luar biasa. Dalam hal ini Soekarno dan kawan-kawannya memainkan peran yang kian meningkat. Mula-mula Soekarno merasa heran ketika diberitahu oleh Mayjen Yamamoto Koichiro tentang janji PM Koiso. Tetapi  kemudian menjadi kecewa terhadap janji yang samar-samar tidak jelas itu. Tetapi tetap merupakan kejutan baginya bahwa Jepang tidak lagi keberatan akan kemerdekaan bagi seluruh wilayah wilayah Indonesia setelah bertahun-tahun mereka menolak konsep territorial itu. Berkali-kali Soekarno selalu bicara tentang Indonesia, sementara itu PM Tojo pada bulan Juli dan November 1943 hanya bicara tentang Jawa. Dengan demikian, Soekarno merasa bahwa pengakuan Tokyo itu disebabkan oleh usaha dan perjuangannya. Reaksi Gunsei menunjukkan dengan jelas bagi Soekarno bahwa janji itu bukanlah karena Jepang hendak mengakui kepentingan pihak lain. Dengan demikian lebih berharga baginya untuk mempersiapkan tenaga rakyat Indonesia bagi perjuangan mendatang.

Hal tersebut segera dibuktikan dengan meningkatnya permintaan Gunsei akan jatah pihak militer, romusha, jatah beras dan bahan makanan lain, demikian halnya dengan pembangunan pertahanan. Dalam hubungan ini Soekarno  menggunakannya sebagai alat untuk menuntut konsesi lebih konkrit bagi kepentingan Indonesia dengan menggunakan janji Koiso untuk melakukan terobosan. Pada 8 September 1944, Soekarno beserta seluruh wakil semua golongan menghadap Saiko Shikikan Letjen Harada Kumakichi. Penguasa Jepang ini pernah memberikan peringatan bahwa “Hindia Timur tidak akan pernah mencapai kemerdekaan jika Dai Nippon dikalahkan dalam perang, oleh karena itu rakyat Indonesia haruslah melipatgandakan dukungannya kepada Nippon untuk mewujudkan kemenangan “. Dalam hubungan ini Soekarno menyatakan “ bersama Dai Nippon kami akan hidup dan mati sampai kemenangan akhir tercapai”. Sementara itu pada malam harinya melalui radio Jakarta ia berbicara mula-mula kepada orang Jepang kemudian kepada rakyat Indonesia. Kepada orang Jepang ia berjanji seperti yang disampaikan pagi harinya.” karena Dai Nippon berjanji akan memerdekakan seluruh rakyat Indonesia dalam waktu dekat, maka ia dan rakyat akan berjuang sampai titik darah penghabisan bagi kemenangan akhir”. Kepada rakyat Indonesia dikatakan “fajar telah menyinsing, seluruh Indonesia akan mencapai kemerdekaan. Untuk mencapai tujuan itu kemenangan harus direbut dan haruslah dipastikan untuk mengalahkan Amerika, Inggris, dan Belanda. Jika tidak maka mereka akan kembali menjajah kita”, Selanjutnya ia meminta rakyat “ untuk bersama Dai Nippon dalam hidup dan mati sampai kita capai kemerdekaan, hidup dan mati dengan Dai Nippon ketika kita telah merdeka”.Soekarno mengulanginya pada 12 September 1944 dalam sidang Chuo Sangi-In. Selanjutnya dari sidang 12 – 17 September itu dikeluarkan resolusi Panca Darma:

1) Dalam perjuangan hidup dan mati bersama rakyat Asia Timur Raya, kita berdiri tegak bersatu padu dengan Dai Nippon, dengan teguh siap mengabdi bagi perjuangan mempertahankan hak dan kebenaran;

2 ) Kita bersandar pada landasan bangsa Indonesia yang akan merdeka, bersatu,berdaulat, adil, dan makmur. Negarasemacam itu akan memberikan manfaat juga kepada Dai Nippon, terlebih lagi yang akan hidup sebagai anggota setia dalam masyarakat Asia Timur Raya;

3) Kita berjuang dengan semangat murni bagi kemashuran dan kemulian, seperti menjaga dan memuliakan peradaban dan kebudayaan kita sendiri, meningkatkan kebudayaan Asia agar berpengaruh terhadap kebudayaan dunia;

4) Dengan begitu kita juga – melayani – dengan persahabatan yang dekat dengan bangsa-bangsa lain di lingkungan Asia Timur Raya – bangsa kita sendiri beserta rakyat yang setia, dan dalam pertanggungjawaban yang berkelanjutann di hadapan Tuhan Yang Maha Esa;

5) Kita juga berjuang dengan semangat kerinduan akan perdamaian abadi untuk seluruh dunia, perdamaian didasarkan persaudaraan segala bangsa yang satu sesuai dengan ideal Hakko Ichiu .

Soekarno sadar akan berbagai cara untuk menghindari berbagai bentuk penghinaan sebagai yang ditanggungnya selama dua tahun belakangan. Ia pun sadar sepenuhnya bahwa janji kemerdekaan, prospek membentuk negara Indonesia merdeka, bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya, betapapun pentingnya barulah sebagian kecil tujuan pada puncak kekuasaan yang sebenarnya.  Dalam posisi itulah ia mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kondisi bagi kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya. Ia pun mulai merancang cara-cara mencapai tujuan dengan rasa percaya diri yang kuat dan meningkat. Tentu saja pihak penguasa Jepang juga menyadari keadan itu dalam keadaan terus-menerus mengalami kekalahan dalam pertempuran di segenap front. Sekutu akan melakukan pukulan selanjutnya. Telah dilakukan konsolidasi terhadap organisasi-organisasi para militer di Jawa. Rekomendasi dari Hayashi Kyujiro sepenuhnya dilaksanakan sebagai yang tertulis. Setelah deklarasi Koiso , anggota Sanyo menjadi 18 orang nasionalis, anggota Chuo Sangi-In yang berjumlah 62 yang telah ditambah 22 orang, 12 di antaranya pemimpin nasionalis terkenal. Dewan Sanyo sebagai pemula kabinet Soekarno, sementara Chuo Sangi-In yang diperluas menjadi ikal bakal parlemen Indonesia.

Klik selanjutnya…..


Situs dalam Pojok, Kediri

Bung Karno Kediri (12)

Peter Kasenda menjadi narasumber pada acara di Situs Dalam Pojok Kediri, tempat masa kecil Bung Karno (Situs Bung Karno). Tanggal 13 Agustus 2014.


Revolusi Mental dan Pancasila

Terpilihnya Jokowi sebagai presiden ketujuh kita rayakan. Sekarang sudah terbayar segala jerih payah perjalanan kampanye bahkan sudah dimulai jauh sebelum masa kampanye. Namun, seperti setiap perayaan yang ada, setelah pesta usai kita segera dihadapkan akan tantangan yang dihadapi, akan harapan yang masih harus diperjuangkan Indonesia dengan 240 juta penduduk dan sejumlah pekerjaan menunggu untuk digarap lebih baik bersama seluruh rakyat.

Di sinilah kita bisa merasakan betapa kekuasaan yang diperoleh berkonsekuensi tanggung jawab yang besar. Bagaimana bila kontrol terhadap sekolah-sekolah tidak menjangkau daerah-daerah terpencil ? Bagaimana bila pangan tetap menjadi supermahal di daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau ? Bagaimana bila pembabatan hutan tetap berjalan tanpa ada yang mampu menghentikan ? Bagaimana bila perikanan tetap dijarah nelayan negara asing tanpa kita mampu mengejar para pencoleng itu ? Bagaimna bila politik transaksional tetap terjadi tanpa ada yang mampu mencegahnya ? Bagaimana bila politik dinasti tetap berlangsung tanpa ada yang mampu menghalangi ?

Disinilah Jokowi sebagai pemimpin akan mendapatkan tatapan penuh harap sekian juta rakyat Indonesia dan bahkan masyarakat global, yang sungguh menunggu tindakan nyata dari segala yang dijanjikan selama masa kampanye. Akankah dilakukan terobosan-terobosan yang membuat negara kita lebih gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja ? Akankah kita melihat budaya yang bisa kita banggakan di kawasan regional, serta dihargai sebagai manusia-manusia professional, produktif, pandai, dan jago berkreasi? Akankah kita mengantar anak-anak kita ke pendidikan yang aman, nyaman, terjangkau kantong, dan terpercaya ?

Lewat kampanye Pemilihan Presiden 2014, Jokowi menawarkan pada kita untuk melakukan Revolusi Mental sebagai paradigma dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang galau ini. Menurut, Jokowi selama 16 tahun menjalankan reformasi kita hanya mencapai kemajuan sebatas kelembagaan. Pembangunan belum menyentuh paradigma, mindset dan budaya politik, dari manusia yang menjalankan sistem sehingga nation building tak mengantarkan Indonesia pada cita-citanya.

Baca Selengkapnya…..


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.