Sejarah Nasionalisme Perjuangan Bangsa

Bung Karno

"Saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api unggun, sepotong daripada ratusan atau ribuan kayu di dalam api unggun besar yang sedang menyala-nyala. Saya menyumbangkan sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknya saya dimakan oleh api unggun itu. Dimakan apinya api unggun...! Tidakkah kita sebenarnya merasa semua demikian?"

Terbaru

Bedah Buku Soekarno, Marxisme & Leninisme di IAIN Walisongo

Diskusi Sejarah dan Bedah Buku Soekarno, Marxisme & Leninisme; Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia.

 

Pembicara:

- Peter Kasenda (Penulis Buku: Soekarno, Marxisme & Leninisme; Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia)

 

Pembedah:

- Ahmad Fauzi (Penulis Buku Agama Skrizofrenia)

- Rusmadi (Penulis Buku Agama Liberalisasi Air)

 

Penyelenggara:

DEMA IAIN Walisongo Semarang

 

Tanggal & Tempat:

Tanggal 23 September 2014, Auditorium 2 Kampus III, IAIN Walisongo Semarang.

 

Bedah Buku Hari-Hari Terakhir Sukarno

Peter Kasenda menjadi narasumber dalam acara bedah buku Hari-Hari Terakhir Sukarno, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada tanggal 6 September 2014.

Memorial Jenderal Besar H.M Soeharto

Peter Kasenda mengunjungi Museum Jenderal Besar H.M Soeharto, di Kemusuk, Godean, Yogyakarta. Pada tanggal 7 September 2014.

Mengunjungi Festival Buku

Peter Kasenda sedang mengunjungi stand Penerbit Komunitas Bambu di acara “Festival Buku Indonesia”, Balai Shinta Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Pada tanggal 6 September 2014.

Wisata Sejarah Hari-Hari Terakhir Soekarno

Hari Hari Terakhir SukarnoGelora Bung Karno

Pada hari Kamis malam, tanggal 30 September 1965, Presiden Soekarno menghadiri  dan berpidato di depan perserta Munastek di Istora Gelora Bung Karno. Malam itu, Presiden Soekarno didampingi istrinya, Haryatie, ajudan Presiden Kolonel KKO Bambang Widjanarko, dan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, bertugas memimpin pengamanan di Istora Senayan dan sekitarnya.

Di dalam pidatonya, Presiden Soekarno berbicara mengenai keinginan agar anak-anaknya menjadi benih-benih sosialisme masa depan. Soekarno beranggapan, kekuatan sosialisme dapat mengakar kuat melalui pembangunan dalam bidang pertanian. Sektor ekonomi, inilah yang sejak bertahun-tahun menjadi sandaran kaum petani, kelompok masyarakat yang mendominasi Indonesia, benih lahirnya Marhaenisme. Lebih dalam, pada pidato yang sama, Soekarno juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menanamkan apa yang ia sebut sebagai dedication of life. Dedikasi ini tidak lain dibangun atas prinsip sosialisme yang anti penindasan. Soekarno mengajak masyarakat untuk bersama membangun bangsa Indonesia, membawa ke arah kemakmuran. Untuk mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Soekarno membutuhkan kekuataan massa, dukungan rakyat dan kekuatan pemerintah.
Istana Merdeka

Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB itu berakhir sekitar pukul 23.00  WIB Presiden Soekarno pun, setelah berpisah dengan Haryatie, kembali ke istana. Setibanya di Istana Merdeka, rombongan pengawal membubarkan diri. Kolonel CPM Maulwi Saelan kembali ke rumahnya di Jalan Birah I No 81 Kebayoran Baru. Demikian juga, Kolonel Bambang Widjanarko yang keesokan harinya harus mengikuti peringatan Hari Ulang Tahun ke-20- Tentara Nasional Indonesia di Lapangan Parkir Timur Gelora Bung Karno sebagai Inspektur Jenderal.

Wisma Yaso ( Kediaman Dewi Soekarno )

Presiden Soekarno sendiri berganti pakaian dengan pakaian biasa, dan kemudian secara cognito pergi menjemput Dewi yang saat itu menghadiri resepsi di Hotel Indonesia. Dewi pada malam itu dijamu oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia. Presiden Soekarno dikawal oleh Dinas Khusus Destasemen Kawal Pribadi (DKP) yang dipimpin oleh Inspektur Polisi II Zulkifli Ibrahim. Komandan DKP Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo ikut serta. Bertindak sebagai pengemudi mobil Presiden Soekarno, Suparto, Kepala Kendaraan Istana, yang berpangkat Mayor Tituler Angkatan Darat. Di samping Suparto (di kursi penumpang depan) duduk anggota DKP Inspektur Polisi I Sudarso.

Sesampainya di Hotel Indonesia, rombongan Presiden segera memasuki areal parkir berhenti di sana, dan menunggu di kegelapan malam. Suparto kemudian turun dari mobil dan menjemput Dewi yang waktu itu dikawal oleh Ajun Inspektur Polisi II Sudibyo, anggota DKP. Soekarno sempat jengkel karena ia harus menunggu agak lama di dalam mobil. Setelah Dewi memasuki mobil, rombongan berangkat ke kediamannya di Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto.

Dari sana, Mangil Martowidjojo kemudian kembali ke rumahnya di Jalan Brantas No 13 Jakarta Pusat. Mangil selalu mengatur jika Presiden Soekarno bermalam di Wisma Yaso, maka di dekat kediaman Haryatie ikut ditempatkan satu tim DKP yang menggunakan jip yang dilengkapi radio transmitter & receiver Lorenz, yang dapat digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Begitu juga sebaliknya, Pos taktis DKP itu akan ditarik jika Presiden Soekarno telah tiba kembali ke Istana Merdeka.

Pada pukul 06.30 Presiden Soekarno sudah keluar dari rumah Dewi dan langsung menuju mobil kepresidenan Chrysler Imperial hitam dengan nomor polisi B 4747. Pagi hari itu, Presiden Soekarno dijadwalkan menerima Wakil Perdana Menteri I Dr Johanes Leimena dan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani pada acara minum kopi  (koffe wartje) pukul 07.00 WIB. Melihat Presiden keluar, kemudian Inspektur Polisi I Sudarso berlari-lari menyusul. Inspektur Polisi 1 Sudarso, anggota Dinas Khusus DKP, duduk di kursi penumpang depan mendampingi Suparto mengemudikan mobil tersebut.

Mobil Presiden segera bergerak, tetapi baru berjalan beberapa meter. Mobil itu berhenti dan Presiden Soekarno segera memanggil Mangil dan meminta penjelasan tentang penembakan di rumah Dr Leimena dan Jenderal AH Nasution. Tampaknya Suparto dan Sudarso sudah menceritakan tentang penembakan di rumah Dr Leimena dan Jenderal Nasution kepada Presiden Soekarno.

Presiden Soekarno pun memerintahkan kepada Suparto untuk berangkat  Mobil kepresidenan pun bergerak lagi, dan meninggalkan Wisma Yaso. Di samping Suparto duduk Sudarso yang dilengkapi mini talkie untuk berkomunikasi jarak dekat dengan mobil Mangil. Di depan mobil Presiden ada satu jip DKP yang dilengkapi radio transmitter & receiver Lorenz, yang dipegang oleh Komandan Tim Dinas Khusus Inspektur Polisi II Zulkifli Ibrahim.

Dengan kecepatan sedang rombongan Presiden Soekarno menuju ke Istana Merdeka. Menjelang bundaran Air Mancur sewaktu mendekati Jalan Medan Merdeka Barat yang dijaga oleh pasukan Angkatan Darat, Mangil ragu-ragu, akankah ia melewati pasukan Angkatan Darat itu, atau tidak ? Tiba-tiba Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel Saelan menghubungi Mangil lewat radio transmitter &receiver Lorenz untuk menanyakan posisi Presiden Soekarno. Ketika Mangil menginformasikan bahwa posisi Presiden Soekarno mendekati Bundaran Air Mancur. Saelan segera memerintahkan Mangil untuk menghindari pasukan Angkatan Darat yang berjaga-jaga di Jalan Medan Merdeka Barat, dan segera membawa Presiden Soekarno ke kediaman Haryatie.

Mangil kemudian segera memerintahkan Sardi untuk menghubungi Sudarso lewat mini talkie dan meminta agar mobil Presiden membelok kiri, masuk ke Jalan Kebon Sirih Barat. Akan tetapi, perintah itu agaknya tidak dapat diterima Sudarso dengan jelas sehingga ia minta agar komandan sendiri yang bicara. Dengan cepat Mangil mengambil walkie talkie dari tangan Sardi, dan dengan suara keras ia memerintahkan untuk membelok ke kiri, masuk ke Jalan Kebon Sirih Barat.  Namun perintah itu sudah tidak mungkin dilaksanakan karena mobil Presiden sudah terlanjur melewati Perempatanan Kebon Sirih. Akhirnya Mangil memerintahkan agar rombongan membelok ke kiri dan masuk ke Jalan Budi Kemuliaan. Namun, karena Jalan Medan Merdeka Barat ditutup untuk umum, maka pada pagi hari itu Jalan Budi Kemuliaan, dalam keadaan macet. Perjalanan rombongan Presiden pun tersendat.

Sewaktu rombongan berhenti agak lama di depan bekas Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia di Jalan Budi Kemuliaan, Mangil segera meloncat turun dari mobilnya dan berlari ke mobil Presiden, Mangil kemudian mengetuk kaca jendela depan tempat Sudarso duduk. Ketika kaca jendela itu diturunkan. Mangil memerintahkan agar Presiden Soekarno dibawa ke kediaman Haryatie, karena Kolonel Saelan sudah menunggu di sana.

Rombongan Presiden Soekarno langsung menuju ke kediaman Haryatie, lewat Jalan Tanah Abang Timur, masuk kawasan Tanah Abang naik jembatan terus masuk Jalan Petamburan (kini Jalan KS Tubun), Bundaran Slipi, dan membelok ke kanan ke arah Grogol. Tiba di kediaman Haryatie, sekitar pukul 07.00 WIB. Presiden Soekarno langsung masuk ke dalam rumah didampingi Kolonel Saelan. Kemudian Kolonel Saelan melapor situasi saat ini sementara di luar Mangil sibuk mengatur penjagaan keamanan.

PAU Halim Perdanakusuma

Kolonel Saelan, lalu keluar dan memberi tahu bahwa Presiden Soekarno akan ke PAU Halim Perdanakusuma, sesuai dengan SOP (standard operating procedure) Resimen Tjakrabirawa. Jauh sebelum terjadinya peristiwa Gerakan 30 September, pimpinan Tjakrabirawa menggariskan bahwa jika dalam perjalanan pengamanan Presiden terjadi sesuatu hal yang mengancam keamanan dan keselamatan Presiden, maka secepatnya Presiden dibawa ke Markas Tentara Nasional Indonesia terdekat. Alternatif lain adalah menuju ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma karena di sana ada pesawat kepresidenan C-140 JetStar. Atau pelabuhan Angkatan Laut Layar Terkembang, tempat kapal kepresidenan Varuna berlabuh. Atau bisa juga ke Istana Bogor karena di sana diparkir helikopter kepresidenan Sikorsky S-61V.

 

Klik Selanjutnya…..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.