Membaca Kembali Nasakom

“Alle revolutionaire krachten”,-“semua, sekali lagi semua, tenaga revolusioner didalam bangsa”! Dus: segala penggolongan (asal revolusioner) dalam masyarakat kita persatukan. Dus : “Nasakom”. Sebab Nasakom adalah kenyataan-kenyataan hidup yang tak dapat dibantah ,-living realites-didalam masyarakat Indonesia kita ini. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus menggabungkan tenaga mereka itu. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus mempergunakan tenaga gabungan dari mereka itu.

                                                                                                     Resopim, 1961

 

Unsur-unsur keprogresifan itu terdapatlah disemua lapisan masyarakat Indonesia . Ada dikalangan Agama. Ada dikalangan nasionalis. Ada dikalangan sosialis-komunis. Agama menghendaki kemerdekaan dan keadilan. Nasionalis Indonesia menghendaki sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. .Sosialis-komunis menghendaki kemerdekaan dan sosialisme. Ketiga-tiganya dus mengandung keprogresifan. Karena itu maka NASAKOM adalah keharusan-progresif daripada Revolusi Indonesia. Siapa anti Nasakom, ia tidak progresif!! Siapa anti Nasakom, ia sebenarnya adalah memincangkan Revolusi, mendingklangkan Revolusi! Siapa anti Nasakom, ia tidak penuh-revolusioner, ia bahkan adalah historis kontra-revolusioner!

                                                                                                         Tavip, 1964

 

Saya berkata bahwa Nasakom atau NASASOS atau Nasa apa pun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. ……Persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap merupakan syrat mutlak bagi kehidupan nasional kita , masih tetap merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan serta pembangunan dalam bidang materiil atau idiil apa pun !

                                                                   Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah ,1966

 

 

Dalam tahun 1966, Bernhard Dahm berkunjung ke Indonesia untuk yang pertama kalinya sesudah edisi bahasa Jerman dari biografi pemikiran Soekarno ini diterbitkan pada permulaan tahun 1965. Kesempatan ini dipergunakan untuk mememui Presiden Soekarno, yang menjadi pusat perhatian bukunya yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul “ Sukarno and the Struggle for Indonesia Independence.” Oleh Cornell University Press.

Menuruit Bernhard Dahm, dalam kata pengantarnya buat edisi bahasa Inggris ini, sungguhpun Soekarno mengetahui bahwa orang-orang komunis terlibat dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965, namun dengan bersikeras kepala dia menolak tuntutan dari semua pihak untuk membubarkan PKI. “ Mengapa Anda tidak melarang PKI”, tanya Bernhard Dahm.“ Engkau tak dapat menghukum suatu partai secara keseluruhan berdasarkan segelintir orang “, jawab Soekarno. Setelah mendengar jawaban yang demikian Bernhard Dahm lantas mengemukakan bahwa dia (Soekarno) pernah berbuat begitu terhadap Masyumi dan PSI di tahun 1960. Soekarno lalu menjelaskan bahwa “ Masyumi dan PSI ….merusak jalan revolusi kami. Sedangkan PKI merupakan tombak (avant-garde) dari kekuatan-kekuatan revolusioner. Kita membutuhkannya untuk melaksanakan keadilan sosial dan kemakmuran masyarakat”.

Kemudian Bernhard Dahm melanjutkan pembicaraan dengan menanyakan apakah dia masih tetap berpegang pada konsep NASAKOM. Masih, jawab Presiden Soekarno,” Aliran-aliran ini ….merupakan faktor-faktor obyeklf dari masyarakat kami. Dan jika Anda ingin mengadakan perubahan-perubahan di dalam masyarakat ini Anda harus mempersatukan mereka”.

Dialog di atas kembali mengingatkan Bernhard Dahm kepada Soekarno di permulaan tahun dua puluhan sewaktu dia mulai muncul sebagai salah satu pemimpin pergerakan nasional Indonesia yang menghendaki persatuan dalam uangkapan dan tuturan kata-kata yang kurang lebih sama. “Jelas”, kata Bernhard Dahm,” caranya menghadapi masyarakatnya yang pluralistis tidak pernah berubah. Demikianlah, pesannya selalu tetap sama; menentang imperialisme sampai titik terakhir di satu pihak, sedangkan di pihak lain membangun sebuah orde dengan jalan mengawinkan ideologi-ideologi yang berbeda kedalam suatu keseluruhanya yang harmonis“. Dengan lain perkataan Bernhard Dahm berpendapat bahwa Soekarno tetap “konsisten”, tidak pernah berubah.

Kegiatan politik Soekarno dalam 1926 dimulai dengan sebuah artikel ,” Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, yang menunjukkan kemungkinan diadakannya suatu sintesa di antara ketiga aliran itu. Dan, sekarang, dalam tahun 1961, konsep-konsep yang sama di peras ke dalam satu kata, Nasakom. Dengan menggunakan, pergerakan-pergerakan politik yang sama seperti ketika ia memulai perjuangannya untuk kemerdekaan, ia sekarang, sebagaimana dikatakan Bernhard Dahm,  setelah kembali berkuasa, berusaha melanjutkan perjuangannya untuk mewujudkan suatu tatanan sosial yang adil. Kiranya tak mungkin ada dukungan yang lebih kuat lagi bagi kata-katanya,” Aku masih tetap Soekarno dari tahun 1927.”

Sebenarnya, sebagaimana dikatakan, Ruth McVey, tulisan Soekarno mengenai “Nasinalisme, Islamisme dan Marxisme,” ditujukan kepada rekan-rekan sesama pemimpin di dalam gerakan kemerdekaan. Dalam hal ini, ia tidak berbicara kepada penduduk desa yang frustasi maupun kaum proletar radikal yang sempat melancarkan pemberontakan PKI setahun sebelumnya. Ia juga tidak berbicara kepada para santri pembela Islam, ataupun kepada orang-orang biasa yang tinggal di dalam kota atau di dekat kota yang bergabung ke Partai Nasional Indonesia (PNI) dalam pencarian atas sebuah orientasi di dunia yang sedang mengalami modernisasi. Soekarno melihat bahwa kelompok-kelompok aliran tersebut memang ada, tetapi ia memandang mereka hanya sebagai pengikut ataupun calon pengikut kelompok elite metropolitan yang menjadi sasarannya. Secara umum kelompok elite metropolitan terdiri dari orang-orang yang menganut metropolitan superculture yang menjadikan dirinya sendiri sebagai cara hidup pan-Indonesia modern. Pendidikan gaya Barat menjadi landasan agar bisa berpartisipasi di dalam kelompok tersebut. Karena kesempatan untuk mempertahankan sistem yang ada terbatas, hal itu, mengimplikasikan adanya asal-usul sosial yang diuntungkan – mayoritas adalah keturunan dari elite birokrat tradisional yang ditarik menjadi pegawai administrasi pada masa pemerintahan kolonial.

Gagasan Soekarno di dalam Nasionalisme, Islam dan Marxisme tergolong diskriminatif, bahkan ketika berkaitan dengan kemunculan elite nasional. Ia tidak sedang berbicara kepada elemen konservatif, pertanyaan mengenai kedaerahan dan kerjasama dengan pemerintah kolonial, suatu pertanyaan yang sangat menarik perhatian anggota elite Indonesia yang lebih senior sekaligus lebih hati-hati, tidak dibahas oleh Soekarno. Esai Soekarno justru ditujukan kepada orang-orang segenerasi yang terlibat di dalam kancah perpolitikan – para pemuda yang berkomitmen terhadap perjuangan kemerdekaan, dan sudah memikirkan identitas diri mereka dalam kapasitas nasional, bukan daerah Di dalam kelompok kecil itulah, Soekarno melihat dengan jeli sumber pemimpin negara di masa depan.; ia juga melihat kelemahan dan pemborosan energi akibat perselisihan terus-menerus, yakni ketika perbedaan personal maupun ideologi berbenturan sehingga berakibat fatal.

Baca Selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s